Universitas Airlangga Official Website

Pelestarian Wisata Kuliner Khas Pedesaan Melalui Rurality Hub

ilustrasi kuliner khas Indonesia
ilustrasi kuliner khas Indonesia (sumber: liputan 6)

Saat ini, industri kreatif di Indonesia mengalami perkembangan yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu sektor yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah industri kuliner, yang merupakan bagian dari aktivitas kreatif yang relatif baru (Ashary et al., 2019). Tidak dapat kita pungkiri bahwa kemajuan perkembangan ekonomi rumah makan dan wisata kuliner membawa dampak tinggi bagi kehidupan manusia terutama dunia usaha kuliner. Keberadaan pengusaha kuliner yang begitu beragam mampu menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara (Citra & Jannah, 2022).

Melansir dari laman cnbcindonesia.com Kementerian Perindustrian RI mencatat, di tahun 2022 terdapat kenaikan sebesar 3,68% pada segi pertumbuhan sektor industri restoran dan rumah makan. Angka tersebut meningkat dari tahun 2021 yang hanya sebesar 2,95%. Industri makanan dan minuman di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2020 ke 2021 sebesar 2,54 persen menjadi Rp775,1 triliun. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produk domestik bruto (PDB) industri makanan dan minuman nasional atas dasar harga berlaku (ADHB) sebesar Rp1,12 kuadriliun pada 2021. Nilai tersebut porsinya sebesar 38,05 persen terhadap industri pengolahan nonmigas atau 6,61 persen terhadap PDB nasional yang mencapai Rp16,97 kuadriliun.

Tren pertumbuhan bisnis kuliner di Indonesia juga tercermin dari banyaknya usaha kuliner yang muncul di berbagai lokasi, baik itu di kota maupun di pedesaan. Wilayah pedesaan sebagai penyimpanan warisan yang kaya, mencakup akumulasi sejarah, budaya, dan seni yang telah terbentuk selama berabad-abad melalui ciri alam, tradisi, dan kreativitas artistiknya. Sayangnya, seringkali wilayah pedalaman ini terabaikan dan terpinggirkan, mengakibatkan degradasi ekosistem yang penting serta penurunan status sosial penduduknya.

Berbagai tantangan menghambat kemajuan di wilayah ini, termasuk masalah inefisiensi birokrasi, keterbatasan kapasitas lokal, resistensi dari masyarakat, keterbatasan sumber daya keuangan, dan prosedur yang rumit (Del Soldato & Massari, 2024). Jika kita lihat lebih dalam, wilayah pedasaan dapat menjadi sebagai sektor pertumbuhan ekonomi terutama dalam bidang kuliner. Menurut Brulotte dan Di Giovine (2016), warisan makanan mencakup standar rasa dan pengetahuan praktis yang berasal dari konteks budaya. Konsep ini melibatkan berbagai elemen seperti produk pertanian, bahan-bahan, kreativitas kuliner, etika makan, dan makna simbolis yang terkait dengan makanan (Del Soldato & Massari, 2024).

Peran keluarga sering kali sangat penting dalam menjaga dan mewariskan tradisi makanan, dengan tekun melestarikan warisan ini melalui usaha kewirausahaan mereka. Industri makanan, terutama dalam skala usaha keluarga kecil dan menengah, sering berdasarkan pada pengetahuan tradisional yang telah tertanam. Keterampilan tradisional ini menunjukkan kontribusi signifikan bisnis keluarga dalam menjaga warisan pangan.

Warisan pangan dapat dipandang sebagai representasi berharga yang terhubung erat dengan kenangan bersama dalam komunitas dan keluarga. Dalam beberapa dekade terakhir, UNESCO telah mengakui pentingnya melindungi kesejahteraan manusia, ekosistem, dan kekayaan budaya kuno, yang menghasilkan penerapan perjanjian internasional untuk memelihara warisan alam dan dunia. Konvensi tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan berdiri pada tahun 2003 dengan tujuan untuk melindungi aspek-aspek non-materi dari budaya dan mendukung keberagaman budaya di era globalisasi.

Warisan Budaya Tak Benda mencakup berbagai elemen, seperti praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan, instrumen, objek, artefak, dan ruang budaya yang diakui oleh komunitas dan kelompok sebagai bagian dari warisan mereka. Warisan tak benda ini terus berkembang dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, memberikan identitas dan kesinambungan, serta mempromosikan penghargaan terhadap keragaman budaya dan kreativitas manusia.

Artikel ini bertujuan untuk memberikan strategi terhadap permasalahan wisata kuliner di pedesaan yang seringkali tidak mendapatkan perhatian karena berbagai hambatan. Namun, sebenarnya dapat menjadi objek wisata yang dapat memajukan ekonomi kreatif di Indonesia. Oleh karena itu strategi untuk dapat memperkenalkan kuliner khas pedesaan yakni dengan Rurality Hub. Rurality Hub sebuah konsep yang mengacu pada pusat atau titik fokus di daerah pedesaan yang dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan pengembangan komunitas.

Rurality Hub bertujuan untuk menjadi pusat kegiatan yang memfasilitasi kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan, seperti pelaku usaha lokal, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat sipil. Melalui Rurality Hub, upaya untuk mengatasi tantangan di daerah pedesaan, seperti pengangguran, kekurangan infrastruktur, dan depopulasi, dengan memanfaatkan potensi lokal dan mendorong inovasi dalam berbagai sektor, termasuk pertanian, pariwisata, dan industri kreatif.

Rurality Hub juga dapat menjadi tempat bagi pelatihan, pendampingan, dan akses terhadap sumber daya yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kemandirian komunitas pedesaan. Proyek Rurality Hub bertujuan untuk pelestarian wisata kuliner khas pedesaan yang merupakan serangkaian langkah terkait yang saling terkait yang bertujuan untuk menghidupkan kembali dan melestarikan gaya hidup tradisional pedesaan yang telah berkembang secara historis di wilayah tertentu. Upaya yang beragam ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga warisan ini tetapi juga untuk menyesuaikannya dengan tuntutan zaman kontemporer.

Salah satu komponen penting dari proyek seperti di atas adalah pemulihan pengetahuan, keterampilan, dan produksi tradisional yang telah hilang. Bagian ini berusaha untuk memulihkan kembali pengetahuan, keterampilan, dan praktik tradisional yang telah lenyap seiring berjalannya waktu atau saat ini terancam punah. Tujuannya adalah untuk menghidupkan kembali unsur-unsur berharga dari gaya hidup pedesaan ini, yang pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan dan pembangunan di dalam masyarakat. Maka setiap wilayah pedesaan dapat dilakukan Rurality Hub guna memfasilitasi kuliner khas desa yang dapat diperkenalkan kepada khalayak dengan kolaborasi dengan para pelaku usaha, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan.

Penulis: Jinantiya Baqita