Universitas Airlangga Official Website

Mengatasi Persoalan Resistensi Kuman Terhadap Penggunaan Antibiotika

Mengatasi Persoalan Resistensi Kuman Terhadap Penggunaan Antibiotika
Ilustrasi obat (Sumber: detikhealth)

Persoalan resitensi antibiotika terhadap kuman-kuman yang mengakibatkan infeksi pada manusia sejak tahun 2000, sangat mengkhawatirkan umat manusia mengingat dari tahun ke tahun laporan masalah resitensi menunjukkan kenaikan drastis. Bahkan beberapa antibiotika golongan Quinolon yang banyak beredar dipasaran diprediksi memiliki potensi tidak lagi bersifat mematikan kuman. Oleh sebab itu tidak berlebihan antibiotika jenis colistine sejak tahun 2020 sudah dilarang penggunaan pada ternak di Indonesia.  

Diketahui saat kemunculan Penisilin sebagai antibiotika, masyarakat berharap banyak dengan memastikan persoalan infeksi oleh kuman akan dapat diatasi dan masyarakat dunia menjadi tidak takut dengan persoalan infeksi. Namun dengan berjalannya waktu maka kemunculan fenomena Antimikroba Resistance (AMR) menjadi momok baru bai umat manusia. Kasus yang paling menonjol yaitu ditemukannnya resistensi kuman-kuman Streptococcus aerus terhadap Metisilin dan menghasilkan derivate kuman baru yaituMetisilin Resistant Streptococus Aurus (MRSA), yang akhirnya menjadikan keprihatinan di bidang kesehatan. Lebihlanjut kemunculan obat-obat antibiotika beragam banyak yang mengalami fenomena resisten terhadap kuman-kuman lazim yang menyerang infeksi pada manusia. Pusat kontrol penyakit dan pencegahan penyakit atau dikenal Center for Disease Control and Prevention (CDC) yang berkedudukan di Atlanta, Amerika Serikat telah menghabiskan dana sekitar  4.6 milyard dolar US untuk memantau dan mengatasi masalah AMR tiap tahunnnya.

Lebih lanjut kemunculan infeksi sekunder adanya infeksi virus seperti EBOLA dan SARS-CoV-2 pada manusia akan memperparah penggunaan antibiotika untuk mengatasi infeksi sekunder. Pada keadaan demikian maka resiko kemunculan fenomena AMR makin meninhgkat. Dalam pandangan penulis maka pengembangan antibiotika menjadi alasan utama untuk menghindari fenomena AMR. Diantara pengembangan tersebut diantaranya adalah permbangan dalam bentuk nano partikel. Orientasi pengembangan antibiotika pada akhirnya akan membuka cakrawala baru mengenai perlawanan terhadap kuman-kuman yang beresiko memiliki potensi untuk tahan terhadap anti biotika. Sementara bentukan kuman yang berkoloni menjadi bentukan biofilm, menjadikan persoalan resistensi anti biotika makin nyata.

Kuman-kuman patogen yang berkembang menjadi fenomena AMR.

  1. Acinetobacter baumannii

    Acinetobacter baumannii, merupakan kuman gram-negative dan aerobik Coccobacilli dan akhir secara cepat berkembang menjadi AMR. Kondisi ini mengakbatkan Badan Kesahatan Dunia menetapkan bahwa kuman tersebut telah menjadi bencana pada manusia manakala manusia terinfeksi terhadap kuman AMR. Koloni kuman tersebut amat khas yaitu membentuk biofilm pada sekitar tempat metabolisme organ kaya nutrisi dan buluh darah. Biofilm tersebut tak mudah untuk ditembus larutan antibiotika, sehingga memunculkan fenomena AMR. Pada tahun 1970, A. baumannii dilaporkan tahan terhadap golongan Carbapenem seperti Imipenem dan Maropenem yang mana dahulu bersifat pembunuh kuman. Dengan kejadian AMR tersebut maka dilakukan penggantian antibiotika tersebut dengan Minosiklin atau Tigesiklin. Namun dengan berjalannya waktu senyawa Tigesiklin atau lebih dikenal dengan Colistin menambah jumlah data antibiotika dengan fenomena AMR.

    2. Mycobacterium abscessus Complex

    Mycobacterium abscessus Complex (MABC), kuman tersebut khas sering menyebabkan infeksi paru sehingga menyebabkan kondisi paru menjadi sistik fibrosis. Untuk mengatasi infeksi tersebut kombinasi antibiotika golongan aminoglikosida – makrolida. Namun dua kombnasi tersebut menjadi tidak efektif. Akhirnya dikembangkan lagi senyawa Klaritomisin namun tetap menjadi senyawa yang tidak mampu  membunuh keberadaan koloni kuman MBAC.

    3. Pseudomonas aeruginosa

    Pseudomonas aeruginosa merupakan jenis kuman aerob gram-negatif yang sangat patogen terhaap infeksi menahun. Kemunculan infeksi tersebut dahulu dapat dikembangkan dengan kombinasi aminoglikosida dan beta laktam. Namun akhirnya kuman tersebut tahan terhadap dua kombinasi antibiotika tersebut.

    Tiga contoh di atas adalah sebagian kecil gambaran kemunculan fenomena AMR dan contoh kuman yang akhirnya menjadi resisten yaitu  Clostridium difficile,  Staphylococcus aerus, 

    Mekanisme kemunculan AMR kuman-kuman yang tahan terhadap antibiotika pada prinsipnya melalui jalan-jalan di bawah ini seperti (a) invasi enzim kuman terhadap antibiotika, (b) menurunnya permeabilitas senyawa antibiotika, (c) pengumpulan senyawa yang menghalangi kinerja antibiotika, (d) perubahan target antimikroba melalui modifikasi enzimatik target antimikroba, (e) pembentukan formasi biofilm. Lima mekanisme terjadinya AMR pada prinsipnys mengganggu kerja antibiotika.

    Perkembangan antibiotika baru lima tahun terakhir dari 2024

    Pengemangan antibiotika baru pada prinsipmya menggunakan teknik molekular doksing yang merupakan pengembangan dari teknik pengembangan obat berbasis hubungan struktur kimia obat dan aktifitas biologis pasca paparan terhadap antibiotika. Beberapa antibiotika yang dikembangkan adalah (1) meropenem-vaborbactam, (2) Plazomicin, (3) konjugasi nano partikel dengan antibiotika. Diantara 3 pengembangan antibiotika juga tetap dikembangkan kembali antibiotika golongan makrolida seperti Fidasokmisin, cepalodporin  seperti ceftraroline an cefopram. Generasi baru glikopeptida diantaranya juga muncul Oritavansin, Dalbavansin dan Telavansin, Tiga generasi baru tersebut menjadikan persoalan AMR dimasyarakat menjadi tidak perlu ditakuti.

    Penulis: Prof. Dr. Mochamad Lazuardi, drh., M.Si.

    Link: https://journals.hh-publisher.com/index.php/pmmb/article/view/1054

    Baca juga: Mengukur Kesaktian Kuman Pseudomonas aeruginosa di Rumah Sakit Tersier di Surabaya