Anemia pada kehamilan masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur, berat badan lahir rendah, hingga gangguan perkembangan otak janin. Karena itu, setiap ibu hamil dianjurkan mengonsumsi tablet tambah darah (tablet zat besi) secara rutin selama kehamilan. Namun, pada kenyataannya masih banyak ibu hamil yang belum mengonsumsinya secara teratur. Selama ini penyebabnya sering dianggap hanya karena lupa atau tidak mengetahui manfaatnya. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Penelitian yang dilakukan di Puskesmas Sidotopo Wetan, Surabaya, terhadap 200 ibu hamil menunjukkan bahwa kepatuhan mengonsumsi tablet tambah darah dipengaruhi oleh kombinasi faktor sosial dan psikologis. Hasil penelitian menemukan bahwa tingkat pendidikan ibu, jumlah anak, kondisi ekonomi keluarga, dan terutama self-efficacy atau keyakinan ibu terhadap kemampuannya sendiri merupakan faktor yang paling menentukan kepatuhan mengonsumsi tablet zat besi. Bahkan, self-efficacy menjadi faktor yang paling kuat dibandingkan faktor lainnya.
Self-efficacy adalah keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu melakukan suatu perilaku secara konsisten meskipun menghadapi berbagai tantangan. Pada ibu hamil, keyakinan ini tercermin dari kemampuan untuk tetap minum tablet tambah darah setiap hari walaupun mengalami efek samping ringan, merasa bosan, lupa, atau mendapat pengaruh dari lingkungan sekitar. Ibu yang memiliki rasa percaya diri tinggi terhadap kemampuannya menjaga kesehatan cenderung lebih disiplin menjalankan anjuran tenaga kesehatan dibandingkan ibu yang mudah ragu atau menyerah.
Penelitian ini juga menemukan bahwa pengetahuan yang baik tentang anemia belum tentu membuat ibu patuh mengonsumsi tablet tambah darah. Demikian pula dengan pemahaman mengenai manfaat tablet zat besi. Mengetahui informasi kesehatan saja belum cukup untuk mengubah perilaku. Informasi tersebut perlu diikuti dengan motivasi, dukungan, rasa percaya diri, dan pendampingan agar benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil penelitian ini memberikan pesan penting bagi tenaga kesehatan. Edukasi selama pemeriksaan kehamilan sebaiknya tidak hanya berisi penjelasan mengenai manfaat tablet tambah darah, tetapi juga membantu membangun keyakinan ibu bahwa mereka mampu menjalankan anjuran tersebut. Konseling yang komunikatif, pemberian solusi terhadap efek samping, penguatan motivasi, serta keterlibatan suami dan keluarga akan membantu ibu lebih percaya diri untuk tetap patuh mengonsumsi tablet tambah darah hingga persalinan.
Upaya mencegah anemia selama kehamilan tidak cukup hanya dengan menyediakan tablet zat besi. Pencegahan juga harus menyentuh aspek psikologis dan sosial yang memengaruhi perilaku ibu hamil. Ketika ibu merasa didukung, memahami pentingnya kesehatan dirinya dan bayinya, serta yakin mampu menjalankan anjuran tenaga kesehatan, kepatuhan akan meningkat. Dengan demikian, peluang melahirkan bayi yang sehat dan mencegah berbagai komplikasi kehamilan juga menjadi lebih besar.
Penulis: Mira Triharini





