Universitas Airlangga Official Website

Menguji Kekuatan dan Biomarker Otak: Dampak Latihan Proprioceptif pada Atlet Remaja Inline Skate

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Olahraga inline speed skating adalah salah satu cabang olahraga yang menuntut kombinasi kecepatan tinggi, teknik dorongan kaki bawah (lower-limb loading) yang repetitif, serta kontrol pergelangan kaki yang sangat presisi. Selama fase dorong (push-off), seorang atlet harus menghasilkan torsi plantarflexion pergelangan kaki yang besar sekaligus menjaga stabilitas lateral. Sebaliknya, fase luncur (glide phase) menuntut kontrol dorsifleksi yang berkelanjutan agar transfer tenaga optimal dan risiko instabilitas dapat ditekan. Kondisi mekanis yang kompleks ini membuat atlet remaja rentan terhadap cedera jika tidak diimbangi dengan performa neuromuskular yang optimal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, sebuah penelitian klinis acak terkontrol (Randomized Controlled Trial) dilakukan untuk menyelidiki efektivitas program latihan penguatan proprioceptif selama 8 minggu. Penelitian ini melibatkan 30 atlet remaja inline speed skating berusia 11 hingga 15 tahun di Sidoarjo, Indonesia. Para partisipan dibagi secara acak menjadi dua kelompok: kelompok intervensi yang menjalani program latihan proprioceptif terstruktur sebanyak tiga kali seminggu, dan kelompok kontrol yang hanya melanjutkan latihan rutin klub mereka.

Fokus Utama Penelitian: Mengukur peningkatan kadar hormon myokine irisin sebagai penanda biologis utama, yaitu myokine yang dilepaskan selama aktivitas otot dan diketahui berperan penting dalam regulasi metabolik serta neuroplastisitas. Serta mengevaluasi stabilitas pergelangan kaki, kekuatan otot tungkai bawah, dan keseimbangan dinamis para atlet remaja.

Hasil penelitian ini menunjukkan temuan yang sangat menarik. Berdasarkan analisis statistik menggunakan 2×2 Mixed ANOVA, kelompok yang mendapatkan latihan proprioceptif mengalami peningkatan yang signifikan pada kadar serum irisin dibandingkan kelompok kontrol (F(1, 28) = 15.42, p < 0.001, partial η2= 0.355). Temuan ini membuktikan bahwa stimulus sensorimotor dan peregangan dalam latihan proprioceptif mampu mengaktifkan jalur pembelahan protein FNDC5 secara efektif.

Selain perubahan biokimiawi, program latihan ini terbukti memberikan dampak fungsional yang luar biasa pada aspek biomekanik tubuh atlet. Pengukuran menggunakan alat dinamometer modern menunjukkan adanya peningkatan kekuatan yang konsisten pada otot-otot utama seperti hamstrings, gluteus maximus, dan gastrocnemius pada kelompok intervensi (p < 0.05). Stabilitas pergelangan kaki saat melakukan uji berdiri satu kaki (Single-Leg Stand) juga menunjukkan perbaikan bermakna pada kontrol fleksi dan kemiringan panggul, yang sangat esensial untuk meminimalisasi risiko cedera pergelangan kaki di lintasan luncur.

Kendati demikian, terdapat temuan sekunder yang menarik dicermati, yakni kadar Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yang hanya menunjukkan tren peningkatan non-signifikan (F(1, 28) = 2.21, p = 0.110). Hal ini mengindikasikan bahwa sementara irisin sangat sensitif terhadap rangsangan neuromuskular moderat, biomarker neurotropik seperti BDNF mungkin memerlukan durasi latihan yang lebih panjang atau tambahan komponen aerobik intensitas tinggi untuk menghasilkan respons perubahan yang signifikan pada usia remaja.

Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan landasan ilmiah yang kuat bagi pelatih dan praktisi ilmu keolahragaan untuk mengintegrasikan latihan proprioceptif dan penguatan ke dalam program latihan rutin usia dini. Meski demikian, para peneliti mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam mengekstrapolasi hasil ini ke ranah neurorehabilitasi secara luas, mengingat keterbatasan ukuran sampel serta perlunya kontrol kematangan biologis yang lebih mendalam pada riset lanjutan di masa depan.

Penulis: Prof. Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://link.springer.com/article/10.1007/s11332-026-01743-4

Widi Arti, Gadis Meinar Sari, Mohammad Fathul Qorib, Hening Laswati Putra, Suprianto, Purwo Setiyo Nugroho, Okky Zubairi Abillah. (2026). Irisin and brain‑derived neurotrophic factor (BDNF) responses with functional adaptations to proprioceptive–strengthening exercise in adolescent inline speed skaters: a randomized controlled trial. Sport Sciences for Health, 22, 1-11. https://doi.org/10.1007/s11332-026-01743-4