Universitas Airlangga Official Website

Menyingkap Faktor Sosial dan Lingkungan di Balik Stunting Anak di Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Stunting pada balita masih menjadi isu kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Walaupun penyebab stunting bersifat kompleks dan berdampak jangka panjang bagi tumbuh kembang anak, bukti ilmiah berbasis data nasional yang berfokus pada determinan sosial dan lingkungan masih terbatas. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah bagaimanakah pengaruh faktor sosial dan lingkungan terhadap tingkat risiko kejadian stunting pada anak usia di bawah lima tahun di Indonesia berdasarkan data nasional. Sedangkan tujuan penelitiannya adalah menganalisis bukti nasional terbaru mengenai faktor sosial dan lingkungan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita di Indonesia. Metode Penelitian ini adalah menggunakan desain analisis data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Total sampel yang dianalisis mencakup 78.049 anak berusia hingga 5 tahun yang memiliki data lengkap. Analisis hubungan antar variabel dilakukan menggunakan uji Pearson X2 serta regresi logistik biner multivariat untuk menghitung adjusted odds ratio (aOR). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting dalam sampel analisis penelitian ini adalah sebesar 19,69%. Hasil analisis multivariat menunjukkan beberapa temuan utama: Status Imunisasi: Anak yang tidak diimunisasi atau ragu-ragu memiliki risiko 1,34 kali lebih tinggi mengalami stunting dibanding yang diimunisasi (aOR 1.34, 95% CI 1.22-1.48). Kepemilikan KPS: Rumah tangga penerima Kartu Perlindungan Sosial (KPS) memiliki peluang stunting lebih tinggi (aOR 1.13, 95 % CI 1.05-1.21). Sumber Air Rumah Tangga: Penggunaan sumber air yang tidak terlindung meningkatkan risiko stunting pada anak (aOR 0.47, 95 % CI 0.42-0.52). Disparitas Geografis: Anak yang tinggal di Sulawesi (aOR 1.23 95% CI 1.14-1.33) serta Papua dan Maluku (aOR 1.20. 95 % CI 1.08-1.33) memiliki risiko stunting lebih tinggi dibandingkan anak di Pulau Jawa. Tingkat Kesejahteraan: Anak dari keluarga kelompok paling kaya (wealthiest) berisiko 53% lebih rendah mengalami stunting dibanding keluarga termiskin (aOR 0.84. 95% CI 0.79-0.91). Kesimpulan Tidak mendapatkan imunisasi, konsumsi air dari sumber tak terlindung, kepemilikan KPS, tingkat ekonomi yang rendah, serta domisili di wilayah Indonesia Timur berhubungan secara signifikan dengan peningkatan risiko stunting pada balita. Temuan ilmiah ini membawa implikasi strategis bagi pengambil kebijakan publik dan praktisi kesehatan: Integrasi Layanan Kesehatan Dasar: Program percepatan penurunan stunting tidak cukup hanya mengandalkan intervensi gizi spesifik (makanan tambahan). Program imunisasi harus diintegrasikan secara ketat dengan pemantauan tumbuh kembang anak. Peningkatan Akses Air Bersih dan Sanitasi: Penyediaan fasilitas air minum layak harus dijadikan prioritas nasional guna mencegah infeksi berulang pada anak. Penyempurnaan Program Bantuan Sosial: Program bantuan sosial seperti KPS perlu dilengkapi dengan literasi gizi dan pendampingan pola asuh agar bantuan berorientasi langsung pada pemenuhan gizi balita. Pemerataan Pembangunan Wilayah: Pemerintah perlu mengalokasikan sumber daya dan fasilitas kesehatan secara proporsional ke kawasan Indonesia Timur guna menekan kesenjangan geografis

Penulis: Prof. Dr. Yuni Sufyanti Arief, S.Kp.,M.Kes

Informasi detail mengenai penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12527368