Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Menyingkap Tabir Tuberkulosis Laten pada Pasien Rematik Autoimun: Apakah Terapi Imunosupresan Mengaburkan Hasil Uji Medis?

101 Views•3 minutes read

Terapi imunosupresan yang dijalani oleh pasien autoimun rematik terbukti tidak memengaruhi akurasi deteksi tuberkulosis (TB) laten secara signifikan, baik melalui metode T-SPOT.TB IGRA maupun flow cytometry. Berdasarkan data klinis dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya, sebanyak 75% pasien dari total 57 sampel telah menerima terapi penekan imun ini, namun respons produksi Interferon-gamma (IFN-γ) mereka terhadap antigen spesifik Mycobacterium tuberculosis tetap dapat terdeteksi tanpa gangguan berarti. Kendati demikian, kedua metode diagnostik tersebut menunjukkan ketidakselarasan hasil yang besar, sehingga tidak dapat saling menggantikan dalam praktik klinis sehari-hari.

Pasien dengan penyakit autoimun rematik, seperti spondyloarthritis, systemic lupus erythematosus (SLE), dan rheumatoid arthritis, membutuhkan obat imunosupresan untuk mengontrol sistem imun yang keliru menyerang jaringan tubuh. Sayangnya, penggunaan obat ini dalam jangka panjang menekan kekebalan tubuh, sehingga melipatgandakan risiko reaktivasi infeksi bakteri tuberkulosis yang berstatus laten atau tertidur. Oleh karena itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sangat merekomendasikan penapisan TB laten sebelum terapi penekan imun dosis tinggi atau agen biologis dimulai.

Uji medis yang umum digunakan adalah Interferon-Gamma Release Assay (IGRA), salah satunya T-SPOT.TB, yang mengukur respons sel T terhadap protein khusus bakteri TB. Selama ini, muncul kekhawatiran bahwa efek penekan imun dari obat rematik dapat memicu hasil negatif palsu pada uji IGRA. Guna memverifikasi hal tersebut, metode canggih flow cytometry digunakan sebagai pembanding untuk melihat persen produksi sitokin di dalam sel secara lebih mendetail.

Hasil analisis statistik menggunakan regresi logistik menunjukkan nilai signifikansi yang berada di atas ambang batas normal (P > 0.05). Hal ini menegaskan bahwa pemberian obat imunosupresan, baik jenis konvensional maupun biologis, tidak secara drastis mengubah tingkat positif atau negatif dari hasil uji T-SPOT.TB maupun persentase sel yang memproduksi IFN-γ pada pemeriksaan flow cytometry. Prosedur isolasi sel mononuklear darah tepi (PBMC) pada T-SPOT.TB diduga berhasil meminimalkan pengaruh sisa obat yang ada di dalam sirkulasi darah pasien.

Namun, catatan penting muncul ketika membandingkan hasil kedua alat ukur ini secara langsung. Keselarasan total (overall percent agreement) antara T-SPOT.TB dan flow cytometry hanya mencapai 26,4%. Ketidaksesuaian yang mencolok ini dipicu oleh perbedaan mendasar pada teknik deteksi. T-SPOT.TB menangkap IFN-γ yang sudah disekresikan di luar sel, sedangkan flow cytometry mengukur akumulasi protein tersebut di dalam sel sebelum dilepaskan. Selain itu, belum adanya nilai ambang batas (cut-off) yang baku bagi kelompok pasien autoimun rematik menambah kompleksitas interpretasi hasil.

Sebagai kesimpulan, meskipun terapi imunosupresan tidak mengaburkan kemampuan sel imun untuk merespons bakteri TB dalam uji laboratorium, hasil negatif pada uji T-SPOT.TB tetap harus disikapi dengan waspada. Keberadaan flow cytometry dapat menjadi pemeriksaan penunjang yang berharga untuk memberikan perlindungan berlapis bagi pasien, memastikan infeksi tersembunyi dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi penyakit aktif yang membahayakan jiwa.

Penulis : Marisa Setiawan, Puspa Wardhani, Hartono Kahar, Munawaroh Fitriah, Lita Diah Rahmawati

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://www.rjptonline.org/HTMLPaper.aspx?Journal=Research+Journal+of+Pharmacy+and+Technology%3bPID%3d2026-19-7-64

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top