UNAIR NEWS – Di era dewasa saat ini, fenomena menghabiskan anggaran demi kesenangan nostalgia menjadi tren ekonomi. Salah satunya adalah fenomena kidult economy yang tengah merebak di kalangan orang dewasa dengan minat terhadap komik, action figure, hingga wahana permainan.
Merespons hal tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Gancar C Premananto menyatakan bahwa fenomena kidult economy lahir dari strategi produsen internasional mengincar pasar dengan daya beli lebih (purchasing power). Menurutnya, penurunan jumlah anak-anak akibat kondisi demografi membuat pasar utama produsen mainan semakin terkikis.
“Kondisi demografis piramida terbalik di negara-negara maju memicu penurunan jumlah konsumen anak, yang berdampak pada hilangnya pasar utama bagi produsen mainan internasional,” ungkapnya.
Kidult Economy vs Lipstick Effect
Fenomena kidult economy masih memiliki keterikatan dengan istilah lipstick effect, yakni sebuah peristiwa ketika konsumen tetap melakukan pembelian barang-barang kecil bersifat mewah atau premium meski sedang mengalami situasi ekonomi yang sulit. Lebih khusus, Kidult economy hadir sebagai bagian dari lipstick effect yang mengarah pada sektor pembelian mainan dan permainan.
Ia menyebut konsumen lebih tertarik pada kebahagiaan jangka pendek (short term orientation) ketimbang kebahagiaan jangka panjang yang belum menentu. Rutinitas padat yang setiap hari dilalui orang dewasa menjadi salah satu alasan di balik fenomena pembelian mainan dan pengalaman bermain.
“Para konsumen kerap berdalih memberikan self-reward agar bisa tetap bahagia di tengah gempuran rutinitas harian. Aktivitas sehari-hari yang padat menjadi sumber stres (stressor) yang berpotensi mengganggu kesehatan mental mereka,” ujar dosen senior FEB UNAIR tersebut.

Kendati demikian, ia turut menambahkan sejumlah survei mengenai kidult Indonesia yang mayoritas rutin mengeluarkan Rp500.000 – Rp1.000.000 per bulan demi hobi dan nostalgia. Secara agregat kondisi tersebut menunjukkan potensi bisnis di dunia permainan dan mainan.
Mengatur Anggaran Hobi agar Tetap Sehat
Prof Gancar mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam mengatur anggaran. Persoalan mengenai pemenuhan hobi dan nostalgia jangan sampai memicu krisis keuangan personal, utamanya hingga terjerat pinjaman online.
Di sisi lain, ia juga menyarankan masyarakat untuk tidak terjebak dalam perilaku mubazir yang sekadar membeli lalu menumpuk mainan sebagai pajangan tanpa tujuan investasi. Kontrol finansial tetap menjadi kunci dalam menghadapi fenomena kidult economy.
“Menjaga kesehatan mental di tengah ketidakpastian ekonomi memang penting, namun harus dibarengi dengan penganggaran yang matang. Jangan sampai menjebak diri dalam jeratan pinjol dan perilaku mubazir,” pungkasnya.
Penulis: Amelia Farah Putri I.
Editor: Yulia Rohmawati
