Tim Ekspedisi Patriot UNAIR memberikan pelatihan pembuatan baglog jamur tiram berbahan tandan kosong kelapa sawit kepada masyarakat Kampung Desay, Prafi, Kamis (8/10/2026). (Foto: Maia Chaerunnisa)

Tim Ekspedisi Patriot UNAIR Olah Limbah Sawit Jadi Jamur Tiram

24 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Limbah kelapa sawit berpotensi menjadi sumber penghasilan baru ketika masyarakat mampu mengolahnya menjadi produk bernilai guna. Sejalan dengan ini, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) melalui program optimalisasi limbah sawit sebagai media tanam jamur tiram untuk mendukung peningkatan ekonomi masyarakat di Prafi, Manokwari, Papua Barat.

Pada Kamis (8/10/2026), tim yang diketuai Prof Dr apt Sukardiman MS menggelar pelatihan pembuatan baglog (media tanam) jamur tiram berbahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sekaligus pengolahan jamur tiram di Kampung Desay, Manokwari. Kegiatan itu mengajak masyarakat untuk mengolah limbah sawit menjadi bahan baku yang berpotensi menggerakkan usaha lokal.

Dalam pelatihan tersebut, masyarakat mempelajari tahapan pengolahan TKKS menjadi baglog atau media tanam jamur tiram. Tim menjelaskan proses mulai dari pencacahan dan pengomposan TKKS, pencampuran bahan tambahan, pengemasan ke dalam plastik, hingga sterilisasi dan penanaman bibit jamur.

“TKKS mengandung selulosa dan lignoselulosa yang dapat mendukung pertumbuhan jamur. Bahan ini berpotensi menjadi alternatif serbuk gergaji yang umum digunakan dalam budidaya jamur tiram. Pemanfaatannya juga membuka peluang untuk mengurangi timbunan limbah kelapa sawit di lingkungan sekitar,” jelas Prof Sukardiman.

Masyarakat turut mempelajari komposisi media tanam yang memadukan TKKS, dedak padi, kapur atau dolomit, dan air. Ketepatan komposisi, kebersihan proses, serta pengaturan kelembapan menjadi faktor penting untuk mendukung pertumbuhan miselium. Setelah inokulasi bibit, pembudidaya perlu menjaga suhu dan kelembapan ruang tumbuh agar jamur berkembang optimal hingga masa panen.

Pelatihan juga mengajak masyarakat mengenal diversifikasi pangan melalui pembuatan nugget jamur tiram. Pengolahan ini memberi alternatif pemanfaatan hasil panen selain menjual jamur dalam kondisi segar.

“Jamur tiram mengandung protein, serat pangan, vitamin B kompleks, dan berbagai mineral. Pengolahannya menjadi nugget dapat memperluas pilihan pangan sekaligus membuka peluang usaha makanan olahan bagi masyarakat Kampung Desay,” ujarnya.

Produk olahan juga menawarkan nilai tambah karena masyarakat dapat mengembangkan kemasan, penyimpanan beku, dan strategi pemasaran sesuai kebutuhan konsumen. Dengan begitu, manfaat budidaya tidak berhenti pada produksi jamur, melainkan berlanjut hingga pengembangan produk yang memiliki daya saing di pasar.

Program ini turut mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui pemanfaatan limbah sawit, pengembangan usaha masyarakat, dan penguatan kolaborasi.

Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Khefti Al Mawalia

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top