Merajut Harapan Pengabdian Masyarakat melalui SDGs

189 Views•6 minutes read

Di tengah riuh rendah kehidupan modern yang serba cepat, ada satu benang merah yang perlahan tapi pasti mulai menenun harapan baru bagi masyarakat Indonesia. Benang itu bernama SDGs atau Sustainable Development Goals, sebuah agenda pembangunan berkelanjutan yang digagas Perserikatan Bangsa-Bangsa dan kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gerak langkah pengabdian masyarakat di negeri ini. Bagi banyak kalangan, terutama di lingkungan perguruan tinggi, SDGs bukan sekadar jargon atau daftar tujuan mulia yang tergantung di dinding kantor. Ia telah menjadi napas dalam setiap kegiatan pengabdian, dari pelosok desa hingga perkotaan, dari program kesehatan ibu dan anak hingga pelatihan kewirausahaan untuk kelompok rentan.

Sejak Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Indonesia secara resmi mengadopsi SDGs sebagai kerangka kerja pembangunan nasional. Regulasi ini bukan hanya simbol komitmen politik, melainkan juga mandat nyata bagi seluruh elemen bangsa, termasuk perguruan tinggi, untuk turut serta mewujudkan 17 tujuan SDGs melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di sinilah letak keindahan SDGs. Ia bukan milik segelintir elit pembuat kebijakan di Jakarta, melainkan milik bersama, milik dosen yang turun ke desa, milik mahasiswa yang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN), milik relawan yang mengajarkan pola makan sehat kepada ibu hamil, hingga milik petani yang dilatih pertanian berkelanjutan.

Ambil contoh nyata di Universitas Airlangga (UNAIR). Melalui program AMORA atau Airlangga SDGs School, universitas ini secara aktif mendorong mahasiswa untuk mengambil peran dalam memajukan SDGs di komunitas mereka. Salah satu fokusnya adalah SDG pertama, yaitu mengakhiri kemiskinan dalam segala bentuknya. Mahasiswa tidak hanya diajarkan teori tentang kemiskinan di ruang kuliah, tetapi juga dilibatkan langsung dalam program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan mengurangi angka kemiskinan di tingkat lokal. Demikian pula di Universitas Gadjah Mada (UGM), di mana program pengabdian masyarakat kini secara konsisten mengaitkan setiap kegiatannya dengan satu atau lebih tujuan SDGs, mulai dari pendidikan berkualitas hingga kehidupan sehat dan sejahtera.

Yang membuat SDGs begitu menarik dalam konteks pengabdian masyarakat adalah sifatnya yang sangat praktis dan aplikatif. Ia tidak berhenti pada tataran konseptual, melainkan langsung menyentuh denyut nadi kehidupan sehari-hari masyarakat. Di Desa Parseh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, misalnya, tim pengabdian dari UNUSA melaksanakan program pencegahan stunting melalui sinergi pemberdayaan keluarga dengan tim pendamping keluarga. Program ini secara langsung berkontribusi pada SDG kedua, yaitu tanpa kelaparan, dengan mengajarkan dan memberikan menu makan sehat kepada ibu hamil dan balita. Ini bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan upaya membangun kesadaran dan kapasitas masyarakat untuk mandiri dalam menjaga gizi keluarga mereka.

Di tempat lain, seperti di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), program pengabdian masyarakat yang didanai melalui skema Dana Equity mencakup beragam kegiatan yang selaras dengan SDGs. Ada pelatihan kewirausahaan untuk kelompok rentan seperti ibu rumah tangga dan penyandang disabilitas yang berkaitan dengan SDG pertama tentang penghapusan kemiskinan. Ada pula edukasi pola makan seimbang untuk balita dan ibu hamil melalui posyandu yang mendukung SDG kedua tentang tanpa kelaparan, serta pelatihan penanggulangan stunting dan gizi buruk yang berkontribusi pada SDG ketiga mengenai kehidupan sehat dan sejahtera. Bahkan program literasi digital dan numerasi dasar untuk siswa dan orang tua turut serta dalam mewujudkan SDG keempat tentang pendidikan berkualitas.

Perguruan tinggi memegang peran yang sangat strategis dalam ekosistem pengabdian masyarakat berbasis SDGs. Sebagai institusi yang memiliki sumber daya manusia unggul, fasilitas penelitian, dan jaringan yang luas, universitas dapat menjadi katalisator perubahan di tingkat komunitas. Di Universitas Diponegoro (Undip), misalnya, kebijakan internal mendorong dosen untuk mengajukan proposal penelitian dan pengabdian masyarakat yang secara spesifik merujuk pada 17 tujuan SDGs. Bahkan tema utama kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bagi mahasiswa yang didampingi dosen kini adalah SDGs, memastikan bahwa setiap generasi mahasiswa memiliki pemahaman dan pengalaman langsung dalam berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan.

Di Universitas Indonesia (UI), tim pengabdian masyarakat bermitra dengan organisasi non-pemerintah lokal seperti Yayasan Spirit Membangun Ukhuwah Islamiyah (YASMUI) untuk memberikan edukasi kesehatan dan pemeriksaan vital gratis kepada warga. Program ini berfokus pada peningkatan literasi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat untuk mengadopsi gaya hidup sehat yang berkelanjutan, yang sejalan dengan SDG ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta SDG kesepuluh tentang mengurangi ketimpangan. Tidak berhenti di situ, Fakultas Ilmu Administrasi UI melalui klaster ICG juga berkolaborasi dengan SDGs Hub UI dan mitra NGO dalam program “SDGs untuk Desa” yang bertujuan memperkuat kapasitas perangkat desa dalam merancang kebijakan lokal berbasis SDGs. Ini adalah contoh nyata bagaimana perguruan tinggi tidak hanya turun tangan langsung, tetapi juga membangun kapasitas institusi lokal agar mampu melanjutkan estafet pembangunan berkelanjutan secara mandiri.

Tentu saja, jalan menuju pencapaian SDGs melalui pengabdian masyarakat tidak selalu mulus. Ada tantangan yang harus dihadapi, mulai dari keterbatasan sumber daya, koordinasi antar sektor yang belum optimal, hingga kesadaran masyarakat yang masih perlu ditingkatkan. Namun, di balik setiap tantangan selalu ada peluang yang menunggu untuk diraih. Salah satu peluang terbesar adalah semakin banyaknya kolaborasi lintas sektor yang terbentuk. Dari sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, organisasi masyarakat, hingga sektor swasta, lahir program-program inovatif yang lebih berkelanjutan dan berdampak luas.

Peluang lainnya adalah semakin terbukanya akses informasi dan teknologi yang memungkinkan program pengabdian masyarakat menjangkau lebih banyak penerima manfaat. Program literasi digital yang dijalankan di berbagai daerah, misalnya, tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membuka pintu bagi masyarakat untuk mengakses informasi tentang kesehatan, pendidikan, dan peluang ekonomi yang lebih baik. Di sisi lain, adanya platform seperti SDGs Hub di berbagai universitas memudahkan koordinasi, dokumentasi, dan replikasi program-program sukses ke daerah lain.

Pada akhirnya, esensi dari pengabdian masyarakat melalui SDGs adalah tentang merajut harapan. Harapan bahwa setiap anak, di mana pun mereka berada, akan mendapatkan pendidikan berkualitas. Harapan bahwa setiap ibu hamil akan memiliki akses ke gizi yang cukup dan layanan kesehatan yang memadai. Harapan bahwa setiap keluarga akan memiliki peluang untuk keluar dari jerat kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan. Dan yang terpenting, harapan bahwa semua ini bukan hanya mimpi di siang bolong, melainkan sesuatu yang sedang dan akan terus diwujudkan melalui kerja nyata di lapangan.

Setiap kegiatan pengabdian, sekecil apa pun, adalah satu helai benang dalam tenunan besar SDGs. Ketika benang-benang ini disatukan, terbentuklah kain yang kuat dan indah, kain yang mampu melindungi dan menghangatkan masyarakat dari berbagai tantangan zaman. Di tangan dosen, mahasiswa, relawan, dan seluruh elemen masyarakat yang peduli, SDGs bukan sekadar agenda global yang jauh dari keseharian. Ia adalah gerakan dari bawah, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Ia adalah tentang kita semua yang bergandengan tangan, merajut harapan, dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berkelanjutan untuk Indonesia dan dunia.

Penulis: Hery Purnobasuki, Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan UNAIR

Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top