Agnostisisme dan ateisme sering kali dikelompokkan bersama sebagai identitas “nonreligius”. Padahal, penelitian psikologi mulai menunjukkan bahwa keduanya memiliki karakteristik psikologis dan sosial yang tidak selalu sama. Ateis umumnya merujuk pada individu yang menolak kepercayaan terhadap Tuhan atau agen supernatural, sedangkan agnostik mengambil posisi yang lebih berhati-hati dengan menganggap keberadaan Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi sebagai sesuatu yang tidak dapat diketahui secara pasti. Namun, baik agnostisisme maupun ateisme tidak hanya merupakan posisi terhadap pertanyaan metafisik. Keduanya juga dapat berfungsi sebagai identitas sosial, yang memengaruhi bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan kelompoknya dalam hubungannya dengan kelompok lain.
Sebagaimana identitas keagamaan, identitas sebagai agnostik atau ateis dapat menjadi sumber rasa memiliki dan kebanggaan terhadap kelompok. Akan tetapi, keterikatan terhadap kelompok juga dapat memiliki bentuk yang lebih defensif. Ketika seseorang merasa kelompoknya kurang dihargai, dimarginalkan, atau disalahpahami oleh kelompok lain, ia dapat mengembangkan keterikatan yang berlebihan terhadap kelompoknya. Fenomena ini dikenal sebagai narsisisme kolektif, yaitu keyakinan bahwa kelompok sendiri memiliki keistimewaan yang luar biasa tetapi tidak mendapatkan pengakuan yang semestinya dari kelompok lain. Narsisisme kolektif sebelumnya banyak diteliti pada identitas nasional dan agama, tetapi masih sedikit diketahui apakah pola yang sama juga ditemukan pada kelompok nonreligius seperti agnostik dan ateis.
Narsisisme kolektif dapat muncul setidaknya dalam dua bentuk. Narsisisme kolektif agentik menekankan keunggulan kelompok dalam hal kompetensi, kemampuan, kekuatan, atau efektivitas. Sementara itu, narsisisme kolektif komunal menekankan keunggulan moral dan prososial kelompok, misalnya keyakinan bahwa anggota kelompok sendiri lebih baik, lebih hangat, atau lebih suka membantu dibandingkan kelompok lain. Penelitian ini ingin mengetahui apakah pembedaan antara dimensi agentik dan komunal tersebut juga dapat diterapkan pada identitas agnostik dan ateis.
Konteks sosial tempat agnostik dan ateis hidup juga diperkirakan memiliki peranan penting. Di negara yang lebih religius, identitas nonreligius dapat menjadi posisi minoritas yang relatif lebih rentan terhadap stigma dan tekanan sosial. Sebaliknya, di negara sekuler, menjadi agnostik atau ateis relatif lebih dapat diterima secara sosial. Oleh karena itu, penelitian ini juga menguji apakah narsisisme kolektif pada agnostik dan ateis berbeda berdasarkan latar belakang agama dominan suatu negara.
Penelitian ini menggunakan data lintas budaya dari 77 negara, yang mencakup negara dengan latar belakang Buddhisme, Katolik, Hindu, Islam, Yahudi, Ortodoks, Protestan, maupun negara-negara sekuler. Secara keseluruhan terdapat 3.570 partisipan nonreligius, terdiri atas 1.227 agnostik dan 2.343 ateis. Rata-rata usia partisipan sekitar 24 tahun dan sekitar 63 persen adalah perempuan. Pengumpulan data dilakukan antara April 2023 hingga Juni 2024 melalui survei daring. Partisipan yang dianalisis berusia di atas 18 tahun, menjawab setidaknya satu skala narsisisme kolektif, serta berhasil melewati tiga pemeriksaan perhatian dalam survei.
Narsisisme kolektif agentik diukur menggunakan adaptasi Collective Narcissism Scale (CNS), sedangkan narsisisme kolektif komunal diukur menggunakan Communal Collective Narcissism Inventory (CCNI). Item dalam kedua instrumen disesuaikan dengan identitas masing-masing partisipan. Partisipan ateis, misalnya, menjawab pernyataan yang merujuk pada kelompok “atheists”, sedangkan partisipan agnostik menjawab item yang merujuk pada kelompok “agnostics”. Sebelum membandingkan kelompok, penelitian ini melakukan analisis faktor konfirmatori dan pengujian invariansi pengukuran untuk memastikan bahwa konstruk yang dibandingkan memiliki makna yang relatif sebanding pada kelompok yang berbeda.
Hasil penelitian
Hasil analisis menunjukkan bahwa narsisisme kolektif memang dapat diidentifikasi pada kelompok agnostik maupun ateis. Setelah beberapa penyesuaian terhadap model pengukuran, dimensi agentik dan komunal dapat dibedakan pada kedua kelompok. Dengan demikian, model agency–communion yang sebelumnya banyak digunakan untuk memahami narsisisme individual maupun narsisisme berbasis agama ternyata juga relevan untuk memahami identitas kelompok nonreligius.
Salah satu temuan utama adalah bahwa agnostik maupun ateis yang hidup di negara-negara sekuler cenderung menunjukkan narsisisme kolektif yang lebih rendah, terutama dalam dimensi agentik, dibandingkan mereka yang hidup di negara dengan agama yang lebih dominan. Pada kelompok agnostik, tingkat narsisisme agentik di negara sekuler lebih rendah dibandingkan di negara berlatar Katolik, Islam, dan Ortodoks. Sementara pada kelompok ateis, narsisisme agentik paling rendah ditemukan pada negara sekuler dan Protestan, sedangkan tingkat yang relatif lebih tinggi ditemukan pada negara berlatar Buddhisme, Islam, dan Ortodoks.
Secara umum, partisipan dari negara berlatar Islam menunjukkan tingkat narsisisme kolektif yang relatif tinggi, sedangkan partisipan dari negara sekuler menunjukkan tingkat yang lebih rendah. Temuan ini mendukung kemungkinan bahwa narsisisme kolektif pada kelompok nonreligius dapat berkembang sebagai bentuk identitas defensif ketika kelompok tersebut berada dalam lingkungan sosial yang sangat religius dan posisi mereka sebagai minoritas menjadi lebih menonjol. Namun, penelitian ini tidak secara langsung mengukur pengalaman ancaman atau marginalisasi sehingga penjelasan tersebut masih memerlukan pengujian lebih lanjut.
Temuan menarik lainnya adalah bahwa pada baik agnostik maupun ateis, narsisisme kolektif komunal lebih tinggi daripada narsisisme kolektif agentik. Dengan kata lain, ketika menunjukkan keunggulan kelompoknya, kelompok nonreligius dalam penelitian ini relatif lebih banyak menekankan superioritas dalam hal moralitas dan sifat prososial dibandingkan keunggulan dalam hal kekuatan atau kompetensi. Perbedaan tingkat narsisisme agentik antara agnostik dan ateis secara keseluruhan tidak signifikan, sedangkan agnostik menunjukkan narsisisme komunal yang sedikit lebih tinggi daripada ateis. Namun, perbedaan terakhir tersebut terutama muncul pada partisipan dari negara-negara berlatar Katolik.
Perbedaan berdasarkan gender juga relatif kecil. Pada kelompok ateis tidak ditemukan perbedaan yang berarti antara laki-laki dan perempuan dalam narsisisme agentik maupun komunal. Pada kelompok agnostik, laki-laki memang menunjukkan skor yang sedikit lebih tinggi dibandingkan perempuan, tetapi pola ini terutama ditemukan pada negara berlatar Katolik sehingga tidak dapat dianggap sebagai pola universal.
Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa narsisisme kolektif tidak hanya dapat terbentuk di sekitar identitas agama. Ketidakpercayaan terhadap agama pun dapat menjadi dasar identitas kelompok yang mengalami proses psikologis serupa. Agnostik dan ateis dapat mengembangkan keterikatan yang defensif terhadap kelompoknya, termasuk keyakinan bahwa kelompok mereka memiliki kualitas tertentu yang lebih unggul dibandingkan kelompok lain. Dengan demikian, pembentukan narsisisme kolektif tampaknya lebih berkaitan dengan dinamika identitas sosial dan posisi kelompok dalam lingkungan sosial dibandingkan semata-mata dengan isi keyakinan religius atau nonreligius itu sendiri.
Penelitian ini tetap memiliki beberapa keterbatasan. Klasifikasi latar belakang agama ditentukan berdasarkan agama dominan di negara asal partisipan, bukan berdasarkan agama tempat seseorang dibesarkan. Jumlah partisipan juga sangat tidak seimbang antartradisi agama sehingga beberapa kelompok memiliki daya statistik yang rendah. Selain itu, sebagian besar partisipan merupakan mahasiswa, yang kemungkinan lebih muda dan lebih menerima kelompok nonreligius dibandingkan populasi umum. Penelitian mendatang karena itu perlu melibatkan sampel yang lebih representatif serta secara langsung mengukur latar belakang religius, pengalaman marginalisasi, orientasi politik, dan bentuk keterikatan kelompok yang lebih aman maupun defensif.
Penulis: Dr. Rahkman Ardi
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://doi.org/10.1080/10508619.2026.2656828
Żemojtel-Piotrowska, M., Piotrowski, J., Nowak, B., et al. (2026). Beyond Religious Narcissistic Identification: Agnostic and Atheistic Narcissism. The International Journal for the Psychology of Religion, 36(3), 539–555. https://doi.org/10.1080/10508619.2026.2656828





