Universitas Airlangga Official Website

Okra dan Nanopartikel Besi: Harapan Baru dalam Terapi Kanker Usus Besar

sumber: yesdok
sumber: yesdok

Kanker kolorektal, atau yang lebih dikenal sebagai kanker usus besar, kini menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan manusia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1,9 juta kasus baru dan 930 ribu kematian akibat kanker jenis ini tercatat pada tahun 2020, menjadikannya penyebab kematian tertinggi kedua setelah kanker paru-paru. Pengobatan konvensional seperti operasi, kemoterapi, dan radioterapi memang banyak digunakan, namun sering kali menimbulkan efek samping yang berat dan tidak selalu efektif.

Okra dikenal sebagai sayuran berlendir yang kerap diolah dalam berbagai masakan tropis. Namun, di balik tampilannya yang sederhana, okra menyimpan kandungan bioaktif yang luar biasa. Flavonoid dan fenolik dalam okra memiliki sifat antioksidan, antitumor, dan antineoplastik yang dapat melawan pertumbuhan sel kanker. Flavonoid bekerja dengan cara mengganggu fungsi mitokondria sel kanker sehingga memicu apoptosis atau kematian sel secara terprogram. Sayangnya, senyawa alami ini kerap memiliki stabilitas dan daya serap yang rendah dalam tubuh. Untuk mengatasinya, peneliti menggabungkan senyawa okra dengan nanopartikel besi, yang mampu meningkatkan penyerapan, stabilitas, dan ketepatan sasaran senyawa obat.

Nanopartikel besi memiliki kemampuan unik untuk menargetkan sel kanker secara selektif. Ia juga dapat memicu ferroptosis, yaitu kematian sel akibat akumulasi besi dan stres oksidatif. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan in silico—sebuah metode berbasis komputer yang mensimulasikan interaksi molekul dalam tubuh manusia. Lima senyawa utama dalam okra diuji terhadap enzim Human Uridine Phosphorylase 1 (hUPP1), yang diketahui berperan penting dalam pertumbuhan kanker kolon. Senyawa yang diuji antara lain kaempferol, quercetin, caffeic acid, ferulic acid, dan 2′-O-methyl isoliquiritigenin.

Melalui analisis molecular docking dan molecular dynamics, peneliti menemukan bahwa seluruh senyawa memenuhi kriteria Lipinski’s Rule of Five, artinya berpotensi tinggi menjadi obat oral yang aman. Dari semua senyawa, kaempferol menunjukkan hasil terbaik dengan energi pengikatan â€“22,23 kcal/mol, menandakan ikatan kuat dan stabil terhadap enzim target hUPP1. Simulasi komputer juga menunjukkan bahwa kompleks antara senyawa okra dan enzim tetap stabil selama 50 nanodetik, memperkuat dugaan bahwa interaksi tersebut bisa menghambat pertumbuhan kanker secara efektif.

Penelitian ini menegaskan bahwa kombinasi ekstrak okra dan nanopartikel besi berpotensi besar sebagai agen antikanker alami yang efektif. Meski baru diuji secara komputerisasi, hasil ini membuka peluang besar untuk penelitian lanjutan secara in vitro (uji laboratorium) dan in vivo (uji hewan). Apabila hasilnya konsisten, maka suatu hari nanti okra yang biasa kita temui di dapur dapat menjadi bahan dasar terapi kanker yang aman, alami, dan terjangkau. Sebuah contoh sempurna bagaimana alam dan teknologi dapat bersinergi untuk melawan salah satu penyakit paling mematikan di dunia.

Penulis: Dr. Suhailah Hayaza, S.Si., M.Si.

Detail tulisan ini dapat dilihat di: https://rjptonline.org/AbstractView.aspx?PID=2025-18-9-26