Kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dibuang sebagai limbah, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan. Limbah ini merupakan sumber senyawa pektin dengan rendemen yang relatif besar di atas 10%. Berdasarkan penelitian sebelumnya, pektin berpotensi untuk dikembangkan menjadi polimer yang digunakan untuk mikropartikel. Menurut derajat esterifikasi (DE), senyawa ini dapat dikategorikan menjadi metoksil tinggi dan rendah (MeO). Fitur yang diperoleh bergantung pada kondisi ekstraksi, khususnya jenis asam, suhu, dan waktu ekstraksi. Pektin MeO rendah atau tinggi dengan DE, konsentrasi asam galakturonat (GA), dan berat ekuivalen (EW) dapat dihasilkan dengan memvariasikan asam dan suhu ekstraksi. Dalam konteks ini, kadar DE dan MeO yang lebih tinggi menyebabkan pektin cepat menggumpal, sehingga meningkatkan sintesis polimer mikropartikel. Variasi kondisi ekstraksi, yaitu suhu dan waktu ekstraksi, memengaruhi karakteristik kualitas pektin. Nilai DE dapat mencapai kondisi optimum dengan peningkatan suhu dan waktu ekstraksi. Dengan adanya asam, suhu tinggi dan proses ekstraksi yang lama dapat menyebabkan gugus metil ester terdegradasi dan menjadi asam karboksil. Proses ekstraksi yang lama menghasilkan asam pektat yang bebas dari gugus metil ester (GA). Lebih jauh, degradasi senyawa pektin yang dihasilkan dari mekanisme depolimerisasi rantai pektin GA dapat menyebabkan penurunan DE.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik pektin yang dihasilkan dari kulit naga merah berdasarkan penggunaan asam sitrat, oksalat, dan asetat pada pH 4, suhu ekstraksi 60°C dan 75°C, serta lama waktu ekstraksi 120 menit. Metode yang dilakukan pada penelitian ini sebagai berikut: sebanyak enam kondisi ekstraksi pektin dilakukan dan produk yang diperoleh dikeringkan menggunakan freeze-dryer. Selanjutnya, optimasi meliputi rendemen, kadar air (MC), berat ekuivalen (EW), kadar metoksil (MeO), kadar asam galakturonat (GA), derajat esterifikasi (DE), kadar gula dan asam organik (SO), dan Spektroskopi Inframerah Transformasi Fourier (FT-IR). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai EW kulit buah naga merah dan pektin apel komersial sebanding tetapi nilai MeO sedikit berbeda dari yang diekstraksi dengan asam oksalat 75 °C. Dibandingkan dengan apel komersial dan kulit jeruk, nilai GA pektin buah naga merah yang diekstraksi dengan asam oksalat 75 °C tidak berbeda.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah  spektrum FT-IR mengandung gugus -OH, -CH, dan C=O dan dipastikan memiliki struktur GA. Produk terbaik diperoleh dengan melakukan ekstraksi pada kondisi 75 °C selama 120 menit menggunakan asam oksalat.
Penulis: Prof. Dr. Dwi Setyawan, S.Si., M.Si., Apt
Link: https://pharmacyeducation.fip.org/pharmacyeducation/article/view/2669/1789





