Gamba ini adalah ilustrasi oleh Detik.com

Pakar Komunikasi UNAIR Ungkap Dampak Cuaca Panas Ekstrem terhadap Emosi dan Pola Komunikasi

55 Views•2 minutes read

UNAIR NEWS – Gelombang cuaca panas ekstrem yang melanda Kota Surabaya dan sekitarnya belakangan ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memicu tekanan psikologis dan gangguan pola komunikasi di tengah masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Suko Widodo Drs MSi, dalam menanggapi suhu udara Surabaya yang sempat menembus angka 37 hingga 38 derajat Celsius.

Dr Suko menilai tingginya suhu lingkungan berpotensi besar menurunkan konsentrasi dan stabilitas emosional seseorang. Kondisi tubuh yang tidak nyaman akibat terik matahari secara langsung memengaruhi mekanisme kontrol diri saat berinteraksi di ruang publik.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur tersebut menjelaskan bahwa kelelahan fisik dan dehidrasi akibat suhu ekstrem kerap berujung pada rasa mudah tersinggung. Ketika kenyamanan tubuh terganggu, seseorang cenderung kehilangan keluwesan dalam berkomunikasi.

“Ketidaknyamanan tubuh dapat memengaruhi kondisi emosional, sementara emosi akan menentukan pilihan kata, nada bicara, serta cara kita merespons orang lain. Akibatnya, kesalahpahaman kecil di ruang publik bisa dengan mudah berkembang menjadi pertengkaran,” ujar Dr Suko.

Fenomena ini kian terasa di lokasi-lokasi padat seperti jalan raya. Kombinasi antara kemacetan lalu lintas, suara klakson, dan pantulan panas dari aspal dapat menguji tingkat kesabaran para pengguna jalan hingga memicu perilaku agresif.

Potret foto Dr Suko Widodo Drs MSi. (Foto: Istimewa)
Potret foto Dr Suko Widodo Drs MSi. (Foto: Istimewa)

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tingginya suhu udara di kawasan Jawa Timur dipicu oleh minimnya tutupan awan serta posisi semu matahari. Kondisi lingkungan yang memanas ini diprediksi masih berlangsung di sejumlah wilayah.

Menghadapi kondisi tersebut, Dr Suko mengimbau masyarakat untuk melakukan mitigasi mandiri demi menjaga kesehatan fisik dan mental. Selain mencukupi kebutuhan cairan tubuh dan beristirahat saat lelah, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam mengendalikan emosi di lingkungan keluarga, kampus, maupun tempat kerja.

“Mari kita tingkatkan rasa sabar dan saling pengertian. Di tengah situasi yang melelahkan akibat cuaca ekstrem, tidak semua perbedaan pendapat atau kesalahan kecil harus direspons dengan kemarahan,” pungkasnya.

Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy

Editor: Khefti Al Mawalia

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top