Malaria masih menjadi salah satu masalah kesehatan infeksius yang memiliki beban cukup besar di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Meskipun perhatian klinis sering berfokus pada Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax, spesies lain seperti Plasmodium malariae juga perlu mendapatkan perhatian karena dapat menimbulkan manifestasi klinis yang bermakna.
Infeksi P. malariae dikenal relatif jarang ditemukan dan umumnya memiliki tingkat parasitemia yang rendah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan infeksi kurang teridentifikasi, terutama apabila manifestasi klinis tidak khas. Namun, keberadaan parasit dalam jumlah rendah tidak selalu menunjukkan bahwa infeksi dapat diabaikan. P. malariae dapat menimbulkan gejala malaria yang khas serta disertai kelainan hematologis, terutama anemia dan trombositopenia.
Salah satu karakteristik penting infeksi P. malariae adalah pola demam kuartana. Demam dapat muncul secara periodik setiap 72 jam. Pola klinis tersebut umumnya diawali dengan fase menggigil dan rasa dingin, diikuti oleh peningkatan suhu tubuh, kemudian fase berkeringat yang menyebabkan suhu tubuh kembali normal atau bahkan lebih rendah dari normal. Meskipun pola ini dapat memberikan petunjuk klinis, manifestasi malaria pada setiap individu tidak selalu menunjukkan pola yang sepenuhnya khas.
Sebuah laporan kasus menggambarkan seorang laki-laki berusia 42 tahun yang datang dengan keluhan demam selama dua minggu. Episode demam disertai menggigil, rasa dingin, dan keringat yang muncul setiap 72 jam. Keluhan lain yang menyertai adalah muntah. Riwayat perjalanan ke Papua, yang merupakan salah satu daerah endemis malaria di Indonesia, menjadi informasi klinis yang penting dalam proses penegakan diagnosis.
Pemeriksaan fisik menunjukkan suhu tubuh 38°C dan konjungtiva tampak anemis. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan penurunan kadar hemoglobin serta jumlah trombosit. Kadar hemoglobin tercatat mengalami penurunan dari 11 g/dL menjadi 10,1 g/dL selama periode pemantauan, sedangkan jumlah trombosit berada pada kisaran 98–108 × 10³/µL. Pemeriksaan mikroskopis sediaan darah tebal menunjukkan parasitemia sebesar 3.200 parasit/µL, sedangkan sediaan darah tipis mengidentifikasi Plasmodium malariae dalam berbagai stadium perkembangan parasit.
Pemeriksaan Mikroskopis sebagai Dasar Identifikasi Parasit
Diagnosis malaria memerlukan konfirmasi melalui pemeriksaan parasitologis. Pemeriksaan mikroskopis sediaan darah tebal dan tipis yang diwarnai dengan Giemsa memiliki peranan penting dalam mendeteksi parasit sekaligus mengidentifikasi spesies Plasmodium. Sediaan darah tebal terutama bermanfaat untuk meningkatkan sensitivitas deteksi parasit, sedangkan sediaan darah tipis memungkinkan evaluasi morfologi dan identifikasi spesies.
Pada infeksi P. malariae, beberapa gambaran morfologis dapat ditemukan, antara lain bentuk cincin, trofozoit dengan bentuk pita (band form), skizon dengan susunan merozoit menyerupai roset, serta gametosit berbentuk bulat atau oval. Identifikasi stadium dan karakteristik morfologi tersebut menjadi dasar penting dalam membedakan P. malariae dari spesies Plasmodium lainnya.
Selain pemeriksaan mikroskopis, rapid diagnostic test atau RDT dapat digunakan untuk mendeteksi antigen parasit malaria. Namun, RDT memiliki keterbatasan, terutama dalam pemantauan respons terapi karena hasil pemeriksaan dapat tetap positif setelah pengobatan. Oleh karena itu, evaluasi parasitemia melalui pemeriksaan mikroskopis tetap memiliki peranan penting dalam pemantauan infeksi.
Anemia sebagai Manifestasi Hematologis
Anemia merupakan salah satu kelainan hematologis yang dapat menyertai malaria. Terjadinya anemia pada malaria tidak hanya disebabkan oleh penghancuran eritrosit yang mengandung parasit. Kerusakan dan penghancuran eritrosit yang tidak terinfeksi juga berkontribusi terhadap penurunan jumlah sel darah merah.
Pada infeksi P. malariae, anemia dapat berkaitan dengan infeksi yang berlangsung lama. Parasit dapat menetap dalam tubuh manusia dalam waktu yang panjang, bahkan tanpa menimbulkan gejala yang bermakna. Proses penghancuran eritrosit yang berlangsung terus-menerus serta gangguan produksi sel darah merah di sumsum tulang dapat berkontribusi terhadap perkembangan anemia.
Menariknya, tingkat parasitemia yang rendah tidak selalu meniadakan kemungkinan terjadinya gangguan hematologis. Oleh karena itu, interpretasi kondisi klinis malaria tidak hanya bergantung pada jumlah parasit, tetapi juga perlu mempertimbangkan kondisi hematologis dan manifestasi klinis secara menyeluruh.
Trombositopenia dan Kecurigaan terhadap Malaria
Selain anemia, trombositopenia merupakan temuan penting pada kasus ini. Trombositopenia telah dikenal sebagai salah satu kelainan hematologis yang sering ditemukan pada malaria, meskipun lebih sering dikaitkan dengan infeksi P. falciparum dan P. vivax. Keberadaan trombositopenia pada infeksi P. malariae menunjukkan bahwa kelainan tersebut juga dapat muncul pada spesies Plasmodium lain.
Mekanisme trombositopenia pada malaria belum sepenuhnya dipahami. Beberapa mekanisme yang diduga berperan meliputi sekuestrasi trombosit di limpa, stres oksidatif, gangguan koagulasi, serta proses penghancuran trombosit yang dimediasi oleh mekanisme imunologis.
Dalam praktik klinis, penurunan jumlah trombosit pada pasien dengan demam akut dapat meningkatkan kecurigaan terhadap malaria, terutama apabila disertai riwayat perjalanan atau paparan ke daerah endemis. Namun, trombositopenia bukan merupakan penanda yang berdiri sendiri untuk menegakkan diagnosis sehingga tetap diperlukan korelasi dengan gejala klinis dan pemeriksaan parasitologis.
Indeks trombosit, seperti mean platelet volume (MPV), platelet large cell ratio (P-LCR), plateletcrit (PCT), dan platelet distribution width (PDW), juga dapat memberikan informasi tambahan mengenai mekanisme perubahan trombosit. Pada kasus ini, gambaran indeks trombosit mengarah pada kemungkinan trombositopenia dengan mekanisme hiperdestruktif.
Riwayat Perjalanan sebagai Bagian Penting dalam Diagnosis
Diagnosis malaria memerlukan pendekatan yang mengintegrasikan manifestasi klinis, riwayat epidemiologis, dan hasil pemeriksaan laboratorium. Riwayat perjalanan ke daerah endemis merupakan salah satu informasi yang sangat penting, khususnya pada pasien yang datang dengan demam tanpa penyebab yang jelas.
Pada kasus ini, riwayat perjalanan ke Papua menjadi petunjuk penting karena pasien mengalami gejala setelah kembali dari wilayah endemis malaria. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa anamnesis yang terarah tetap memiliki nilai diagnostik yang tinggi dan perlu dikombinasikan dengan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan laboratorium yang sesuai.
Diagnosis Dini untuk Mencegah Komplikasi
Infeksi P. malariae sering dianggap memiliki tingkat keparahan yang lebih rendah dibandingkan beberapa spesies Plasmodium lainnya. Namun, infeksi tetap dapat menimbulkan manifestasi klinis dan kelainan hematologis yang memerlukan penanganan yang tepat. Anemia dan trombositopenia merupakan contoh perubahan hematologis yang perlu dipantau karena dapat mencerminkan dampak infeksi terhadap sistem hematopoietik.
Penatalaksanaan yang sesuai setelah diagnosis memungkinkan perbaikan kondisi klinis dan parameter hematologis. Pada kasus yang dilaporkan, pasien memperoleh terapi sesuai pedoman tatalaksana malaria dan menunjukkan prognosis yang baik tanpa memerlukan transfusi. Selama terapi, kadar hemoglobin mulai mengalami perbaikan dan tidak ditemukan komplikasi seperti asidosis metabolik maupun anemia berat.
Penutup
Malaria akibat Plasmodium malariae merupakan bentuk malaria yang relatif jarang dan sering memiliki parasitemia rendah. Meskipun demikian, infeksi dapat menimbulkan gejala khas berupa demam periodik setiap 72 jam serta disertai manifestasi hematologis seperti anemia dan trombositopenia.
Pendekatan diagnostik yang tepat memerlukan perhatian terhadap riwayat perjalanan ke daerah endemis, pola demam, pemeriksaan hematologi, serta konfirmasi parasitologis melalui pemeriksaan mikroskopis dan metode diagnostik yang sesuai. Identifikasi spesies Plasmodium menjadi bagian penting karena karakteristik klinis dan penatalaksanaan dapat berbeda antarspesies.
Keberadaan anemia dan trombositopenia pada infeksi P. malariae memperlihatkan bahwa spesies dengan prevalensi rendah tetap memiliki relevansi klinis. Kewaspadaan terhadap kemungkinan malaria pada pasien dengan demam akut, terutama yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah endemis, diperlukan untuk mendukung diagnosis dini, pemberian terapi yang tepat, serta pencegahan komplikasi lebih lanjut.
Artikel ini bersumber dari : Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory
Bisa di akses melalui link : https://indonesianjournalofclinicalpathology.org/index.php/patologi/article/view/2382/1714
Penulis :
Nita Wiyono, Marisa Setiawan, Puspa Wardhani





