Universitas Airlangga Official Website

Patch Gingiva Mukoadesif dengan EGCG Teh Hijau sebagai Pengobatan Alternatif Tambahan  untuk Periodontitis

Foto by Halodoc

Periodontitis merupakan penyakit periodontal destruktif progresif. Prevalensi penyakit periodontal di Indonesia mencapai 74,1% dan sebagian besar terjadi pada kelompok usia produktif. Sebagian besar bakteri periodontopatogen adalah bakteri Gram negatif dan memiliki endotoksin berupa lipopolisakarida (LPS), yang dapat menembus jaringan periodontal dan menginduksi respon inflamasi. Pada kondisi inflamasi, aktivitas osteoklastik lebih tinggi daripada aktivitas osteoblastik, yang menyebabkan destruksi tulang. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan antara resorpsi tulang yang diinduksi osteoklas dan pembentukan tulang yang diinduksi oleh osteoblas. Perawatan yang disukai saat ini untuk periodontitis adalah scaling root planning (SRP), tetapi terapi ini tidak dapat memperbaiki jaringan periodontal yang rusak akibat periodontitis. Penyebab periodontitis tidak hanya melibatkan satu faktor, tetapi merupakan hasil dari berbagai faktor termasuk faktor risiko spesifik dan oral hygiene pasien yang inadekuat. Pada periodontitis, bakteri utama yang terlibat yaitu Aggregatibacter actinomycetemcomitans, Porphyromonas gingivalis, Treponema denticola, dan Tannerella forsythia. Bakteri komensal tersebut mengalami proses dysbiosis sehingga memicu inflamasi dan menginisiasi periodontitis.

Teh hijau atau Camellia sinensis merupakan tanaman yang paling banyak dijadikan bahan minuman dan dikonsumsi di seluruh dunia, terutama bagian daunnya. Teh hijau banyak tumbuh di Jepang, Cina, India, Sri Lanka dan Taiwan. Dibandingkan dengan teh hitam, teh hijau memiliki lebih banyak kandungan senyawa antioksidan. Di samping itu, teh hijau juga dikenal memiliki banyak manfaat kesehatan seperti antikanker, aktivitas antimikroba, anti-inflamasi, anti-resorpsi tulang, anti diabet, efek hipotensif, serta efektif untuk menurunkan berat badan. Pada teh hijau, kandungan catechin paling banyak ditemukan di daun teh muda, yang melimpah akan EGCG yakni sekitar 50-80% dari total catechin. EGCG adalah komponen utama katekin teh hijau, yang memiliki efek antitumor, antioksidan, antiinflamasi, antifibrotik, dan pro-osteogenik. Kelemahan selama ini mengenai penggunaan EGCG sebagai pengobatan alternatif adalah bioavailabilitas oral yang rendah dan konsentrasi EGCG yang diserap tubuh menurun bila disertai dengan makanan. EGCG dapat digunakan dengan patch gingiva mukoadhesif untuk mengoptimalkan bioavailabilitas dan penyerapan dan meningkatkan konsentrasi lokal dan pelepasan EGCG yang berkelanjutan. EGCG mendorong perkembangan tulang dan menguatkan diferensiasi sel punca mesenkim (MSC) untuk osteoblas dengan meningkatkan ekspresi protein morfogenik tulang 2 (BMP2). EGCG juga telah terbukti meningkatkan ekspresi aktivitas RUNX2 dan ALP yang menginduksi diferensiasi osteoblas dan mineralisasi tulang.. EGCG juga merupakan bahan bioaktif yang paling ampuh dan dominan pada teh hijau. EGCG mampu menekan ekspresi ROS dengan cara menekan aktivasi jalur NF- 𝜅B untuk menurunkan ekspresi sitokin inflamasi dan enzim terkait inflamasi termasuk TNF-α, IL-1β, COX-2, dan MMP-9.

Patch gingiva mukoadhesif merupakan patch pembawa muatan obat ke membran biologis yang diaplikasikan pada gingiva untuk mengantarkan dan mempertahankan obat tersebut berada pada area yang ditargetkan dalam jangka waktu yang panjang sehingga mengoptimalkan efek dari obat yang diantarkan tersebut. Pemanfaatan sistem penghantaran lokal dari obat ke jaringan telah banyak digunakan dalam perawatan nyeri gigi, penyakit periodontal, infeksi bakteri dan jamur, ulser pada mukosa oral, serta pergerakan gigi dengan prostaglandin. Sebuah studi in vitro menyatakan bahwa patch gingiva mukoadhesif yang mengandung agen antibakteri mampu melepaskan agen dengan baik dan dianggap sebagai sistem penghantaran obat yang potensial untuk pengobatan lokal periodontitis. Penelitian lain menggunakan patch gingiva mukoadhesif yang mengandung antibiotika untuk pengelolaan periodontitis. Patch gingival mukoadhesif  yang mengandung EGCG teh hijau berpotensi menginduksi aktivitas osteoblastik sebagai terapi tambahan untuk memperbaiki kerusakan jaringan periodontal akibat penyakit periodontal.

Penulis: Dr. Rini Devijanti Ridwan drg.,MKes

Informasi dan detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

https://doi.org/10.20473/j.djmkg.v55.i2.p114-119

 A mucoadhesive gingival patch with Epigallocatechin-3-gallate green tea (Camellia sinensis) as   

 an alternative adjunct therapy for periodontal disease: A narrative review

Yeka Ramadhani, Riski Rahayu Putri Rahmasari, Kinanti Nasywa Prajnasari, Moh. Malik Alhakim, Mohammed Aljunaid, Hesham Mohammed Al-Sharani, Tantiana, Wisnu Setyari Juliastuti, Rini Devijanti Ridwan, Indeswati Diyatri.