Universitas Airlangga Official Website

Penjajah itu Bernama Muhammad Al-Fatih

Ilustrasi by detikNews

Anda tidak salah membaca, maksud saya pun tidak berbeda dengan apa yang Anda pikirkan. Ia adalah Muhammad Al-Fatih, pemimpin Kesultanan Turki Utsmani ke tujuh yang digadang-gadang sebagai seorang penakluk. Mehmed, panggilan akrabnya, dikenal sebagai pemimpin muda yang cakap serta memiliki kepakaran dalam bidang kemiliteran, ilmu pengetahuan, matematika, hingga menguasai enam bahasa saat berumur 21 tahun.

Mehmed dikenal sebagai sultan berperangai saleh yang berhasil menaklukan Konstantinopel, kota indah yang sangat penting dan strategis pada abad pertengahan, pada tahun 1453. Jauh sebelum itu, para pendahulunya hingga sahabat nabi, Muawiyah bin Abu Sufyan, pun telah mencoba menaklukan kota yang menjadi simbol kedigdayaan sebuah peradaban ketika itu, namun, nihil hasil.

Bagi umat Muslim, Muhammad Al-Fatih merupakan pemimpin terbaik yang dijanjikan Rasulullah puluhan abad yang lalu. Sabdanya tertulis, Sesungguhnya akan dibuka Kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu.” (HR. Imam Ahmad)

***

Lalu bagaimana kalau Anda diajak untuk melihat dari kacamata lain? Bagaimana ketika Anda berposisi sebagai masyarakat Kristen Ortodoks yang telah hidup nyaman ratusan tahun, lalu kota yang Anda bangun tetiba di jarah oleh orang asing?

Atau, Andai Anda seorang pendeta disana, lalu Anda memiliki tempat ibadah yang sangat indah dengan berbagai ornamen khas, Hagia Shopia namanya, lalu orang asing menduduki, dan mengubahnya menjadi tempat ibadah kepercayaannya. Ketika itu memang Muhammad Al-Fatih mengubah Hagia Shopia menjadi masjid usai menduduki konstantinopel.

Apakah Anda tahu, bagaimana keadaan ketika masyarakat, ketika konstantinopel takluk? Menurut Philip Mansel (1995) dalam Constantinople: City of the World’s Desire, “Ribuan masyarakat sipil dibunuh dan 30.000 masyarakat sipil diperbudak atau diusir.” Bagaimana menurut Venesia Nicolò Barbaro ? katanya, “Sepanjang hari Pasukan Turki membantai amat sangat orang Kristen di seluruh kota.”

Selain itu, Suatu catatan saksi mata, yang muncul di buku They Saw It Happen in Europe 1450-1600 (1965) karya C.R.N. Routh, mengatakan

“Tidak akan ada yang mampu menyamai horror dari tontonan yang mengerikan dan menakutkan ini. Orang-orang yang ketakutan oleh jeritan berlarian dari rumah mereka dan dibunuhi oleh pedang sebelum mereka kenal apa yang sedang terjadi.”

Jadi, Muhammad Al-Fatih adalah Pahlawan Islam atau Penjajah Kristen ?

Dengan logika yang sama, pertanyaan dapat diajukan, sebenarnya Pangeran diponegoro adalah Pahlawan Indonesia atau pemberontak Belanda? Roti Croissant merupakan simbol kemenangan eropa atau simbol penghinaan terhadap Islam? Dan banyak pertanyaan kontradiksi lainnya.

***

Seharusnya, pertanyaan kontradiktif selalu hadir dalam setiap peristiwa. Tidak peduli siapa menang-siapa kalah. Karena si kalah punya pandangan, begitupun si menang. Si menang malah punya kuasa lebih, ia mampu menulis sejarah lebih leluasa dengan kacamata pandangnya sendiri. Si kalah apa boleh buat? Kekuasaan absolut akan memaksanya tunduk di bawah perintah si menang.

Terkadang, lingkungan justru membatasi diri manusia bertanya. Kita hanya diizinkan untuk bertanya hal yang dianggap “pantas” oleh mayoritas orang disekeliling, tanpa pernah dibolehkan bertanya sebaliknya.

Padahal, pembatasan itu tidak akan menghilangkan keliaran abstraksi pikiran manusia. Pembatasan justru akan membuat abstraksi hanya menjadi abstraksi bukan menjadi bukti. Bagaimana bisa membuktikan kalau pikiran manusia itu benar kalau bicara saja sudah dilarang? Ujung-ujungnya kebenaran hanya datang dari tirani mayoritas.

Agaknya, frasa “kebebasan berpikir” perlu direvisi, mungkin yang tepat adalah “kebebasan berpendapat”. Alasannya sederhana, kebebasan berpikir itu adalah mutlak, siapa yang bisa membatasi pikiran manusia? Toh itu hanya hubungan antara dirinya sendiri. Lain halnya dengan kebebasan berpendapat, hubungannya lain, hubungannya antar banyak individu.

***

Ruang Kelas, tempat itu harusnya bisa mewadahi kebebasan berpendapat, bukan hanya kaum intelek, semuanya, semua masyarakat bebas bicara dan berpendapat. Setuju memang, bebas pendapat  tidak bisa di sembarang tempat, agaknya terlalu konyol kalau bicara namun ditempat yang salah. Mungkin bukannya tidak bisa, namun, kita belum siap kalau bebas pendapat dilaksanakan di berbagai media.

Sayangya, kini ruang kelas pun tidak bisa menyediakan tempat itu. Ruang kelas hanya sebuah media kosong tempat guru atau dosen bicara tentang materi yang telah disiapkan puluhan tahun yang lalu. Ruang kelas hanya menjadi sisi sudut yang membuat siswa malas bicara karena terlalu membosankan, inginnya hanya cepat selesai, dan keluar menuju kantin.

Ini jadi bahasan melebar, sebenarnya ruang kelas memang tidak menyediakan ruang berpendapat atau belum memberikan kenyamanan untuk berpendapat ? keduanya benar, saling berkorelasi. Terkadang pembelajaran yang katanya “merdeka”, justru tidak membukakan ruang untuk kemerdekaan itu. Jadi wajar saja ketika kualitas pembelajaran tidak naik signifikan walaupun media pembelajaran semakin melonjak.

***

Sebenarnya, konsep bebas pendapat ini sederhana. Silahkan bertanya, silahkan berpendapat. Kalau salah ya ditolak saja, toh apa salahnya ketika pendapat itu nir bukti? Kalau pendapat itu tanpa bukti, malah mudah saja untuk menggugurkan pendapat itu.

Dengan ini, justru inovasi baru akan semakin bermunculan, gagasan baru akan mulai terbangun, dan ide akan semakin hidup. Bebas pendapat justru akan membuat pikiran tidak hanya sekadar asumsi dan bukan juga prasangka, karena akan ada pembuktian baru dari pendapat yang baru. Selain itu, ide pun akan semakin tangguh dengan kritik dan semakin kuat dengan diskusi. Sekali lagi, hidup itu dilektis.

Bebas pendapat tidak hanya akan menghasilkan ilmu-ilmu baru dalam sains, melainkan juga agama. Percaya lah, tidak akan lahir konsep fiqih dengan puluhan hingga ratusan mahzab, tidak akan lahir tasawuf dengan banyak tarekat, dan tidak akan lahir ilmu kalam dengan banyak aliran ketika kebebasan tidak dibuka.

Akhirnya, bebas pendapat itulah yang membuat kita semakin kaya akan referensi. Bagaimana mungkin Imam Syafi’i bisa berbeda pendapat dengan guru kesayangannya, Imam Malik, dalam konsep rezeki atau konsep status perkawinan dan beragam konsep fiqih lainnya. percayalah, Islam dan ilmu itu kaya karena bebas pendapat, bebas pendapat yang tebarkan oleh pemikir terdahulu.

Kelak, ruang kelas akan dipenuhi pertanyaan dan pendapat tentang mereka yang mendukung komunisme, sekularisme, bahkan pemberontakan. Biarkan ruang kelas yang bertanya, sekaligus ruang kelas yang menjawab.

Penulis: Afrizal Naufal Ghani (Mahasiswa Ekonomi Islam)