Kepala Subdirektorat Riset Internasional dan Penguatan Pusat Penelitian DRI UNAIR, Dr Kurnia Dwi Artanti dr MSc, saat memaparkan materi strategi penguatan ekosistem riset dan kolaborasi lintas disiplin pada Workshop Riset Berdampak. (Foto: Panitia LPJPHKI)

Perkuat Ekosistem Riset, DRI UNAIR Dorong Penelitian Berkelanjutan dan Berdampak

44 Views•3 minutes read

UNAIR NEWS – Paradigma baru dalam dunia akademik menuntut hasil penelitian tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, melainkan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Subdirektorat Riset Internasional dan Penguatan Pusat Penelitian Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) UNAIR, Dr Kurnia Dwi Artanti dr MSc, dalam Workshop Riset Berdampak di Gedung Airlangga Convention Center, Senin (19/10/2026).

Diselenggarakan oleh  Lembaga Pengembangan Jurnal, Publikasi, dan Hak Kekayaan Intelektual (LPJPHKI) Universitas Airlangga (UNAIR), workshop bertajuk Menyelaraskan Riset, Publikasi dengan Agenda Kebijakan Kesehatan Nasional ini bertujuan memperkuat sinergi akademisi. Dr Kurnia menegaskan bahwa ekosistem riset yang terstruktur menjadi kunci utama dalam mendukung kebutuhan kebijakan nasional.

Guna menjaga keberlanjutan hasil riset, DRI UNAIR menggeser skema penelitian dari model perorangan menuju skema berbasis kelompok riset (Research Group) dan pusat penelitian (Research Center). Langkah strategis itu diambil untuk meminimalkan risiko terhentinya proyek penelitian apabila peneliti utama berhalangan hadir atau purnatugas.

“Penelitian tidak lagi bisa dikerjakan secara mandiri oleh satu orang saja. Melalui kelompok riset, tanggung jawab penyelesaian luaran dapat diemban bersama sehingga keberlanjutan penelitian tetap terjaga,” tegas Dr Kurnia.

Sebagai bentuk penataan efektivitas riset, UNAIR telah merampingkan sekitar lima ratus kelompok riset menjadi seratus tiga puluh lima Research Group aktif. Seluruh kelompok ini terbagi dalam tiga rumpun utama. Yakni, Health Science, Science and Engineering, serta Social Science.

Lebih lanjut, dosen fakultas kesehatan masyarakat tersebut menjelaskan bahwa kelompok riset berfokus pada satu disiplin ilmu di tingkat fakultas. Sementara itu, Research Center wajib bersifat interdisiplin dengan menghimpun minimal tiga kelompok riset dari lintas fakultas.

“Pusat penelitian menjadi cikal bakal lahirnya Pusat Unggulan Ipteks Perguruan Tinggi yang diakui kementerian. Pembentukannya harus melibatkan kolaborasi lintas disiplin demi menghadirkan solusi yang komprehensif,” ujarnya.

Dr Kurnia menambahkan bahwa pengawalan riset di DRI UNAIR tidak pada ranah akademik saja, melainkan terus didampingi hingga siap dikomersialisasi. “Proses bisnis kami di DRI adalah mengawal riset dari Tingkat Kesiapterapan Teknologi satu hingga enam. Setelah riset matang, produk akan diserahterimakan ke direktorat mitra untuk proses hilirisasi ke dunia industri,” jelasnya.

Di akhir, Dr Kurnia menjelaskan keberadaan berbagai fasilitas penunjang unggulan seperti Rumah Sakit Universitas Airlangga, Institute of Tropical Disease, hingga rumah sakit terapung kian memperkuat fondasi riset terapan UNAIR. Pihaknya membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya bagi akademisi dan lembaga riset eksternal.

“Tugas kami adalah memastikan riset berjalan optimal hingga siap dikembangkan ke tahap industri. Kami sangat terbuka untuk menjalin kolaborasi riset demi kebermanfaatan masyarakat luas,” pungkasnya.

Penulis: M Yasir Dharmawan Diniy

Editor: Khefti Al Mawalia

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top