Indonesia merupakan negara yang terletak di Lingkaran Pasifik yang memiliki banyak gunung berapi aktif dan sering terjadi gempa bumi. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tahun 2020 terjadi 4.650 bencana yang menewaskan lebih dari 350 orang. Karena kondisi ini, Indonesia mendapatkan julukan “Supermarket Bencana,” yang mengimplikasikan bahwa bencana alam erat kaitannya dengan budaya dan masyarakat Indonesia. Bencana longsor besar melanda desa Banaran di wilayah Ponorogo, Jawa Timur pada bulan April 2017, menewaskan sekitar 27 orang dan mengakibatkan lebih dari 175 orang mengungsi. Banyak faktor, termasuk aspek geomorfologi, karakteristik hujan, dan kesalahan manusia yang diprediksi menjadi penyebab longsor Ponorogo.
Sebagai respons terhadap kondisi sosial tersebut, Departemen Odontologi Forensik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga mengorganisir program pemberdayaan komunitas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana dan pentingnya data antemortem, khususnya rekam medis gigi. Program ini merupakan proyek percontohan yang dilakukan di daerah rawan bencana desa Banaran, Ponorogo, Jawa Timur. Tujuan utama dari program pemberdayaan komunitas ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya rekam medis gigi sebagai data antemortem dan kesiapsiagaan bencana.
Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari program pemberdayaan masyarakat oleh Departemen Odontologi Forensik, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga. Tujuan utama program ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya rekam medis gigi sebagai data antemortem dan kesiapan menghadapi bencana. Serangkaian kuliah, konseling, dan program pelatihan disampaikan kepada kader kesehatan puskesmas di daerah yang rentan terhadap bencana di desa Banaran. Peran penting kader kesehatan adalah memberikan edukasi, menyampaikan informasi, dan mengoordinasikan kelompok kecil di masyarakat.
Kegiatan ini melibatkan 58 kader kesehatanPuskesmas dengan tingkat pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga sarjana. Para peserta diminta untuk mengisi kuesioner pre-test dan post-test untuk mengetahui pemahaman mereka tentang siaga bencana dan data antemortem. Berdasarkan hasil kuesioner pre-tes dapat diketahui bahwa peserta dengan pendidikan SMA memiliki skor rata-rata tertinggi (78,5/100). Di sisi lain, hasil kuesioner post-tes menunjukkan bahwa peserta dengan gelar sarjana memiliki peningkatan skor yang signifikan, dengan skor 91,0/100. Skor rata-rata kuesioner pre-tes adalah 77,41±11,7, sementara skor rata-rata kuesioner post-tes adalah 83,79±12,0.
Berdasarkan hasil kuesioner post-tes tentang mitigasi bencana dapat diketahui bahwa 88% responden mengetahui tentang area rentan longsor, 94% responden mengetahui penyebab dan tanda-tanda longsor, dan 90% responden memahami cara mengurangi risiko longsor. Berdasarkan kuesioner tentang data antemortem dapat diketahui bahwa lebih dari 90% responden memahami definisi, tujuan identifikasi, dan jenis data antemortem. Selain itu, hasil kuesioner juga mengungkapkan bahwa semua responden mengetahui bahwa gigi manusia penting untuk identifikasi individu dan 88% responden mengetahui pentingnya rekam medis gigi untuk identifikasi manusia.
Bencana didefinisikan sebagai kerentanan terhadap fungsi suatu komunitas yang berdampak pada kerugian baik manusia, materi, ekonomi, maupun lingkungan. Kondisi geologi dan geografis Indonesia menyebabkan seluruh wilayah ini rentan terhadap bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, longsor, dan erupsi gunung berapi. Oleh karena itu, strategi pengelolaan bencana yang efektif melibatkan kerjasama dan kolaborasi pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat sangat dibutuhkan. Pengelolaan bencana meliputi pengembangan kebijakan, pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Tujuan utama pengelolaan bencana adalah melindungi komunitas, menyelaraskan regulasi, memastikan implementasi pengelolaan bencana, mendorong kerjasama, dan menciptakan kedamaian dalam masyarakat dan bangsa.
Dalam situasi bencana massal, identifikasi forensik menjadi kritis untuk menentukan identitas korban. Panduan Interpol untuk Identifikasi Korban Bencana (DVI) mengklasifikasikan DNA, sidik jari, dan pemeriksaan gigi sebagai metode utama dan paling dapat diandalkan dalam identifikasi. Ada juga metode identifikasi sekunder, seperti deskripsi personal, temuan medis, bukti, dan pakaian yang ditemukan pada jenazah. Gigi dianggap sebagai penanda primer karena keunikan, individualitas, dan daya tahan mereka. Dasar ilmiah identifikasi gigi forensik adalah perbandingan temuan gigi antemortem (AM) dan postmortem (PM). Rekam medis gigi AM dapat diperoleh dari dokter gigi, rumah sakit, dan pusat layanan kesehatan masyarakat. Dalam beberapa situasi, informasi dari keluarga atau kerabat, teknisi gigi, dan bukti tertulis tentang kondisi mulut juga dapat membantu dalam menyusun rekam medis gigi AM.
Setiap negara memiliki peraturan tersendiri untuk mengelola dan mendokumentasikan rekam medis gigi sebagai data antemortem. Kementerian Kesehatan Indonesia telah menetapkan standar nasional untuk rekam medis gigi. Menurut pedoman nasional, rekam medis gigi di Indonesia harus mencakup informasi tentang identitas pasien, odontogram, diagnosis dan perawatan, serta lampiran pendukung. Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa rekam medis gigi yang baik diimplementasikan pada tingkat yang lebih rendah di Indonesia. Beberapa lembaga di Indonesia, seperti Tentara Nasional Indonesia (TNI), kepolisian, pilot, dan pramugari, dapat menyediakan rekam medis gigi berkualitas baik sebagai data antemortem. Namun, sebagian besar penduduk Indonesia di daerah pedesaan tidak menyadari pentingnya pemeriksaan gigi rutin dan perawatan gigi. Kondisi ini berpotensi mempersulit proses identifikasi korban bencana massal karena kurangnya data gigi antemortem.
Program pemberdayaan masyarakat ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya rekam medis gigi sebagai data antemortem dan kesiapsiagaan bencana. Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan identifikasi korban bencana massal di Indonesia dan memfasilitasi proses pengembalian jenazah kepada keluarga yang berduka. Program ini juga dapat menjadi contoh yang dapat diadopsi dan disesuaikan oleh daerah-daerah lain di Indonesia yang rentan terhadap bencana alam.
Ditulis oleh: Arofi Kurniawan, drg., Ph.D
Diambil dari artikel berjudul: Improving knowledge of antemortem dental records through community
empowerment programs in disaster-prone areas of Indonesia Artikel dapat diakses pada: https://wjarr.com/content/improving-knowledge-antemortem-dental-records-through-community-empowerment-programs





