Sistem pakar (expert system) merupakan sistem komputer berbasis kecerdasan buatan yang bekerja dengan mengadopsi pengetahuan dan penalaran seorang pakar untuk menyelesaikan masalah spesifik dalam bidang tertentu. Seorang pakar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang sangat spesifik, misalnya dokter, psikolog, ahli komputer, pakar kesehatan, ahli gizi, dan lain-lain. Pengetahuan tersebut selanjutnya ditransformasikan menggunakan basis pengetahuan dan aturan if-then untuk menghasilkan solusi layaknya seorang pakar. Penggunaan sistem pakar dapat meningkatkan efisiensi dan mempercepat pengguna dalam memperoleh informasi untuk memecahkan masalah. Hal ini karena sistem pakar dapat diakses kapan saja dan di mana saja, tidak terbatas oleh ruang dan waktu, serta tidak bergantung pada keberadaan pakar.
Penggunaan sistem pakar untuk merekomendasikan makanan bergizi bagi pasien diabetes bertujuan untuk mendukung pasien dalam memenuhi kebutuhan nutrisi serta memperbaiki pola makan sesuai dengan kondisi kesehatannya. Pasien diabetes memerlukan pengaturan asupan makanan yang lebih terkontrol, terutama terkait jumlah kalori serta kandungan karbohidrat, protein, lemak, serat, natrium, dan gula, agar kadar glukosa darah tetap stabil. Namun, dalam praktiknya, banyak pasien mengalami kesulitan menentukan menu harian yang tidak hanya sehat, tetapi juga bervariasi dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui sistem pakar, pengetahuan ahli gizi mengenai prinsip diet diabetes dapat diterjemahkan menjadi seperangkat aturan yang mampu menyeleksi dan merekomendasikan kombinasi makanan berdasarkan kebutuhan individu pengguna, seperti usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, aktivitas fisik, serta kondisi klinis tertentu. Dengan demikian, sistem ini tidak hanya memberikan saran menu makanan, tetapi juga berperan sebagai alat bantu pengambilan keputusan yang personal, praktis, dan konsisten untuk mendukung manajemen diet pasien diabetes.
Diabetes melitus tipe 2 terjadi akibat menurunnya sensitivitas sel tubuh terhadap insulin (insulin resistance), sehingga glukosa dalam darah tidak dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber energi. Kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko utama seperti obesitas, kurangnya aktivitas fisik, serta pola makan yang tidak sehat dan tidak teratur. Konsumsi makanan tinggi kalori, tinggi gula sederhana, tinggi lemak jenuh, serta rendah serat dalam jangka panjang dapat menyebabkan penumpukan lemak tubuh dan gangguan metabolisme yang berujung pada peningkatan kadar glukosa darah. Selain itu, kebiasaan makan berlebihan tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup dapat memperburuk kerja insulin sehingga pankreas harus memproduksi insulin lebih banyak. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, kemampuan pankreas akan menurun dan pada akhirnya memicu terjadinya diabetes melitus tipe 2.
Sistem pakar rekomendasi makanan bagi penderita diabetes tipe 2 ini menghasilkan satu set menu satu hari setiap kali dijalankan. Setiap rekomendasi terdiri dari menu sarapan, makan siang, makan malam, dan kudapan. Dataset yang digunakan diambil dari Tabel Komposisi Pangan Indonesia yang berisi komposisi 23 jenis nutrisi dalam makanan yang umum ditemukan di Indonesia. Diet diabetes yang diterapkan menggunakan pedoman yang dikeluarkan oleh Persatuan Endokrin Indonesia (Perkeni) dan pedoman hidup sehat dengan diabetes dari Prof. Askandar Tjokoprawiro. Tahapan implementasi meliputi: 1) perhitungan BMI (Indeks Massa Tubuh); 2) penelusuran pohon pengetahuan menggunakan forward chaining; 3) perhitungan kebutuhan nutrisi harian; 4) perhitungan kebutuhan nutrisi untuk tiap waktu makan; 5) penyaringan makanan berdasarkan jenis diet, alergen, makanan yang tidak disukai, dan kategori harga jika berlaku; 6) penyusunan menu makanan; 7) perhitungan berat makanan menggunakan pemrograman linear.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sistem mampu menghasilkan rekomendasi makanan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi penderita diabetes tipe 2. Evaluasi dari ahli gizi berupa skor kesesuaian menunjukkan bahwa sebagian besar menu yang direkomendasikan telah memenuhi prinsip diet diabetes, terutama dalam pengaturan asupan kalori, keseimbangan makronutrien, serta pembatasan gula dan lemak jenuh. Selain itu, sistem juga mampu memberikan variasi menu yang cukup beragam sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalankan pola makan sehat.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendekatan sistem pakar yang digunakan efektif dalam membantu proses pengambilan keputusan terkait pemilihan makanan bagi penderita diabetes tipe 2. Meskipun demikian, terdapat beberapa keterbatasan, seperti belum mempertimbangkan preferensi rasa pengguna secara dinamis serta belum adanya mekanisme pembelajaran dari umpan balik pengguna.
Penulis: Endah Purwanti, S.Si., M.Kom.





