Universitas Airlangga Official Website

Studi Penggunaan Obat Antipiretik pada Pasien Anak

Ilustrasi anak-anak (foto: beritac)

Demam merupakan gejala dari suatu penyakit, terutama penyakit yang disebabkan oleh infeksi. Meskipun demam pada anak dapat sembuh dengan sendiri, peningkatan suhu tubuh diatas 39℃ harus diwaspadai. Oleh karena itu, anak yang demam perlu diperiksa dan diberikan pengobatan yang sesuai. Antipiretik merupakan salah satu obat yang diresepkan pada anak ketika mengalami demam. Parasetamol menjadi obat yang lebih banyak dipilih karena efek sampingnya lebih sedikit daripada ibuprofen. Antipiretik lain yang dapat mengobati demam pada anak adalah metamizole. Namun, penggunaan metamizole dilarang di beberapa negara karena obat tersebut berpotensi menyebabkan agranulositosis, atau kondisi saat sum sum tulang tidak memproduksi sel darah putih jenis tertentu. 

Penelitian terdahulu menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan mengenai efektivitas parasetamol dibandingkan dengan ibuprofen. Penggunaan obat antipiretik dapat bervariasi, namun hal ini memiliki efektivitas yang berbeda-beda dan terdapat kekurangan data mengenai praktik ini. Dalam memilih antipiretik, praktisi harus menimbang risiko dan manfaat setiap antipiretik, khususnya yang dapat menimbulkan efek samping dan kontraindikasi. Selain antipiretik, pasien anak rawat inap juga mendapat obat lain sebagai bagian dari pengobatan mereka yang mungkin dapat menimbulkan interaksi obat. Pedoman khusus penggunaan antipiretik pada anak belum ada, terutama penggunaan metamizole sebagai antipiretik. Berdasarkan permasalahan diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil antipiretik yang digunakan pada pasien rawat inap anak di Rumah Sakit Universitas Airlangga dan mengidentifikasi kemungkinan efek samping dan interaksi yang berhubungan dengan antipiretik. 

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian observasional deskriptif pada bulan Maret hingga Juni 2023 dengan menggunakan data rekam medis pasien Rumah Sakit Universitas Airlangga. Data pasien yang diambil harus memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien anak demam yang telah didiagnosis dan mendapatkan antipiretik selama menjalani rawat inap. Pasien anak dikategorikan mengalami demam apabila suhu tubuh mencapau 37,4℃ atau lebih tinggi yang diukur dari ketiak. Jumlah sampel sebanyak 87 pasien anak dihitung menggunakan rumus slovin. Hasil penelitian dianalisis secara deskriptif menggunakan Micromedex dan VigiAcces untuk menentukan efek samping dan interaksi obat. 

Pada 87 pasien anak, diagnosis yang paling banyak ditemukan adalah pneumonia.  Semua pasien pediatrik dengan demam mendapatkan metamizole intravena (100%) sebagai antipiretik mereka. Metamizole dengan dosis 3×8-20mg/kgBB sesuai kebutuhan merupakan rejimen dosis antipiretik yang paling banyak digunakan dan dosis parasetamol IV yang diberikan pada pasien anak (9,2%) lebih rendah dari dosis yang ada pada literatur sebelumnya. Pasien pediatrik yang mendapatkan metamizole IV sebagai monoterapi menunjukkan durasi terapi antipiretik terpendek dibandingkan dengan pola lainnya. Parasetamol hanya digunakan sebagai peralihan (11,5%) dan bergantian (8,1%). Pasien yang antipiretiknya dialihkan dari parasetamol rektal ke metamizole IV (2,3%) menunjukkan rata rata durasi penurunan suhu terpendek dibandingkan pola lainnya. Efek samping metamizole yang paling banyak adalah nyeri perut (3,4%) dan tidak ditemukan potensi interaksi obat selama penggunaann antipiretik dengan obat lain. 

Pada penelitian ini, pneumonia dan gastroenteritis akut memiliki suhu tubuh tertinggi rata-rata 38,5℃ dan 38,7℃. Metamizole lebih banyak digunakan karena keevektifannya dalam menurunkan suhu badan dan memiliki potensi analgesik yang lebih besar dibandingkan parasetamol, selain itu metamizole mempunyai indeks terapeutik yang luas, kontraindikasi yang minimal, dan harga yang lebih rendah. Literatur menyebutkan bahwa metamizole harus diberikan dengan dosis 8-16mg/kgBW untuk anak sampai usia 14 tahun dan dalam dosis tunggal 500-1000mg untuk anak berusia 15 tahun keatas dengan berat badan lebih dari 53 kg. Dosis parasetamol intravena yang diberikan lebih rendah dari literatur sebelumnya. Sementara itu, dosis parasetamol oral dan rektal sudah sesuai dengan literatur, kecuali satu pasien yang menerima parasetamol oral di bawah dosis yang disarankan. Hal ini disebabkan oleh kondisi klinis pasien dan pembulatan perhitungan yang dapat menentukan dosis yang diberikan. 

Metamizole memiliki risiko yang lebih rendah terhadap sistem pencernaan dibandingkan dengan NSAID lain seperti ibuprofen. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (2023), semua obat selain ceftriaxone yang dikonsumsi pasien anak dalam penelitian ini memiliki lebih sedikit laporan yang menyebabkan efek samping dibandingkan dengan antipiretik. Tidak ada potensi interaksi obat yang ditemukan dalam penelitian ini. Sebagai kesimpulan, secara umum, penggunaan metamizole intravena efektif dalam menurunkan demam pada sebagian besar pasien anak rawat inap di Rumah Sakit Universitas Airlangga.

Nama : apt. Arina Dery Puspitasari, M.Farm.Klin.

Link  jurnal: https://pharmacyeducation.fip.org/pharmacyeducation/article/view/2772/1845