
Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius. Kondisi ini bukan sekedar persoalan tinggi badan anak, tetapi berkaitan dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dapat berdampak hingga masa dewasa, termasuk pada kemampuan belajar dan kualitas sumber daya manusia. Secara global, lebih dari 150,2 juta anak balita diperkirakan mengalami stunting pada 2024. Karena itu, pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dini melalui pendekatan yang menyeluruh, terutama pada masa 1.000 hari pertama kehidupan.
Penelitian pada 110 anak balita di wilayah kerja Puskesmas Pattingalloang, Kota Makassar, menunjukkan bahwa stunting tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan berbagai kondisi ibu dan anak. Dalam penelitian tersebut, 53 anak atau 48,2% mengalami stunting. Anak lebih banyak mengalami stunting ketika ibunya memiliki tingkat pendidikan dan pengetahuan gizi yang lebih rendah serta tinggi badan yang lebih pendek. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dan kapasitas ibu memiliki peran penting dalam mendukung praktik pengasuhan, pemberian makanan, serta pemanfaatan layanan kesehatan yang tepat.
Faktor kesehatan anak dan akses terhadap pelayanan kesehatan juga perlu diperhatikan. Anak yang memiliki riwayat penyakit infeksi menunjukkan proporsi stunting yang lebih tinggi. Dalam penelitian ini, riwayat penyakit infeksi dan akses terhadap pelayanan kesehatan memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan stunting. Oleh karena itu, pencegahan stunting tidak cukup hanya dengan memberikan makanan bergizi, tetapi perlu disertai pencegahan infeksi, pemantauan pertumbuhan secara rutin, konseling gizi bagi ibu, serta pemanfaatan layanan kesehatan primer dan Posyandu secara optimal. Meski demikian, hasil penelitian ini merupakan hubungan pada tingkat bivariat dan belum dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat.
Dengan demikian, upaya menurunkan stunting membutuhkan kerja bersama yang berkelanjutan antara keluarga, Posyandu, Puskesmas, dan masyarakat. Penguatan edukasi gizi bagi ibu, peningkatan literasi kesehatan, pencegahan penyakit infeksi, serta penguatan akses dan pemanfaatan pelayanan kesehatan merupakan langkah penting untuk menciptakan generasi yang tumbuh dan berkembang secara optimal. Upaya tersebut secara langsung mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2: Zero Hunger melalui pencegahan kekurangan gizi dan SDG 3: Good Health and Well-being melalui peningkatan kesehatan ibu dan anak, sekaligus berkontribusi pada pembangunan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.
Penulis: Eny Qurniyawati
Informasi lebih detail mengenai artikel ini dapat dilihat pada:
Sugoro, N. A., Ansar, J., Qurniyawati, E., & Adam, H. (2026). Distribution of maternal and child characteristics based on stunting status among children under five years in a primary health care setting. Berita Kedokteran Masyarakat, 42(05), e28331. https://doi.org/10.22146/bkm.v42i05.28331





