Universitas Airlangga Official Website

Terapkan Education for All, Perwakilan SDGs Center UNAIR Singgung Penanganan Kemiskinan Demi Indonesia Maju

UNAIR NEWS – Perwakilan SDGs Center Universitas Airlangga, Savira Rizma Yunita SM menjadi pembicara di webinar bertajuk No Poverty di Level Negara pada Sabtu (19/11/22). Webinar yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPN Veteran Jawa Timur itu dihadiri oleh 250 peserta dari perguruan tinggi seluruh Indonesia. Tema kemiskinan dipilih karena merupakan salah satu permasalahan dan fokus dunia untuk diselesaikan, bersamaan dengan 17 goals lainnya.

Pada webinar itu Savira mengemukakan bahwa masalah pokok di negara berkembang adalah kesenjangan ekonomi atau yang dikenal sebagai ketimpangan distribusi pendapatan. Banyak faktor penyebab ketimpangan di Indonesia, di antaranya fundamental pasar, political capture, ketidaksetaraan gender, rendahnya pembayaran upah, ketimpangan akses infrastruktur, dan masih banyak faktor lain.

Savira juga menjelaskan definisi sederhana mengenai kemiskinan yang menurutnya merupakan suatu keadaan dimana terjadi ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar.

“Terdapat beberapa faktor penyebab kemiskinan di antaranya tingkat pendidikan yang kurang, produktivitas tenaga kerja, tingkat upah, ketimpangan distribusi pendapatan, kesempatan kerja sedikit, kualitas sumber daya yang rendah, gagap teknologi dan culture yang berlaku,” imbuh Savira.

Tren Penduduk Miskin di Indonesia

Setelah menjelaskan mengenai pengertian kemiskinan secara general, Savira juga menjelaskan mengenai tren jumlah penduduk miskin di Indonesia yang mengalami penurunan di tahun 2022. Menurutnya, tren penurunan angka kemiskinan di Indonesia didukung oleh upaya pemerintah yang terus berbenah dalam mengimplementasikan program yang bertujuan untuk pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Savira mengatakan, upaya pemerintah dalam menangani kemiskinan yang terjadi di Indonesia tidak main-main. Di tahun 2022, pemerintah menggagas beberapa program melalui beberapa kementerian.

“Kementerian sosial telah melakukan perluasan target dan kenaikan anggaran program untuk pengentasan kemiskinan, penyaluran bansos dan subsidi tunai untuk kebutuhan hidup masyarakat, integrasi bansos, pendampingan bagi keluarga miskin, penguatan kolaborasi bersama seluruh stakeholder, dan lain sebagainya,” terangnya,

Peran Perguruan Tinggi

Selain itu, menurut Savira, selain pemerintah, perguruan tinggi juga dapat berperan dalam mendukung SDGs melalui riset, pengabdian masyarakat, pengelolaan dan pengajaran yang berfokus pada SDGs. Sedangkan, sebagai mahasiswa, peran yang dapat dilakukan sebagai agent of change dalam menangani kemiskinan di antaranya mendukung pembuatan kebijakan dalam sektor perekonomian, monitoring terhadap program perekonomian, pendampingan dan pemberdayaan masyarakat, serta program aksi nyata lainnya.

Di akhir acara, Savira berpesan kepada mahasiswa untuk turut aktif mendukung penanganan kemiskinan di Indonesia.

“Sebagai mahasiswa, peran yang harus kita lakukan untuk membantu pemerintah dalam menangani kemiskinan adalah dengan terjun langsung dalam program pengabdian masyarakat,” ucap Savira.

Kegiatan tersebut, lanjutnya, harus memuat program kerja yang berfokus pada peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Di antaranya melalui program pendampingan dan pelatihan.

“Seperti pendidikan dan pelatihan untuk komunitas masyarakat atau pelatihan kepada komunitas ibu-ibu PKK. Yang terpenting hasil dari program ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat secara berkelanjutan,” imbuh Savira. (*)

Penulis : Galuh Kurnia Ramadhani

Editor: Binti Q. Masruroh