Universitas Airlangga Official Website

Thymoquinone Berpotensi Menekan Peradangan dan Mempercepat Pemulihan Otak Akibat Stroke Perdarahan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Salah satu jenis stroke yang paling berbahaya adalah stroke perdarahan intraserebral (intracerebral hemorrhage/ICH), yaitu kondisi ketika pembuluh darah di otak pecah sehingga darah menggenangi jaringan otak. Meskipun jumlah kasusnya lebih sedikit dibandingkan stroke iskemik, stroke perdarahan memiliki angka kematian yang jauh lebih tinggi dan sering meninggalkan kecacatan neurologis permanen pada penyintas. Di Indonesia sendiri, beban penyakit ini masih sangat besar sehingga diperlukan pengembangan terapi yang mampu melindungi jaringan otak sekaligus mempercepat proses pemulihan. 

Kerusakan otak setelah stroke perdarahan tidak hanya disebabkan oleh perdarahan itu sendiri. Setelah darah memasuki jaringan otak, terjadi serangkaian proses yang dikenal sebagai cedera sekunder, yaitu aktivasi sel-sel imun, peningkatan stres oksidatif, pelepasan berbagai mediator inflamasi, dan kematian sel saraf. Salah satu penanda penting dari proses peradangan tersebut adalah Tumor Necrosis Factor-alpha (TNF-α) yang dapat memperburuk kerusakan jaringan otak. Di sisi lain, tubuh sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk memperbaiki kerusakan melalui aktivasi jalur regenerasi saraf yang melibatkan protein PPARγ dan penanda proliferasi sel Ki-67. Oleh karena itu, berbagai penelitian kini berupaya menemukan senyawa yang mampu menghambat peradangan sekaligus mengaktifkan mekanisme regenerasi otak.

Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa thymoquinone, senyawa aktif utama yang berasal dari Nigella sativa atau jintan hitam, memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi yang kuat. Senyawa ini diketahui mampu menekan jalur inflamasi NF-κB, mengurangi produksi sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IL-1β, IL-6, dan IL-8, serta melindungi fungsi mitokondria sehingga berpotensi mengurangi kerusakan jaringan saraf. Temuan-temuan tersebut menjadikan thymoquinone sebagai kandidat terapi neuroprotektif yang menjanjikan untuk berbagai penyakit saraf, termasuk stroke perdarahan.

Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah penelitian eksperimental dilakukan oleh Khamim Thohari dkk. pada tahun 2026 dari Universitas Airlangga. Penelitian yang telah diterbitkan dalam Tropical Journal of Pharmaceutical Research (Pharmaceutical Society of Nigeria) ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas thymoquinone dalam menghambat proses inflamasi sekaligus meningkatkan regenerasi neuron pada model tikus Wistar yang mengalami perdarahan intraserebral.

Penelitian menggunakan 33 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi secara acak menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol yang hanya mengalami perdarahan otak, kelompok yang mendapat thymoquinone dosis 150 mg/kgBB/hari, dan kelompok yang mendapat dosis 250 mg/kgBB/hari. Perdarahan otak dibuat dengan menyuntikkan darah autolog ke ganglia basalis menggunakan teknik stereotaktik. Thymoquinone diberikan secara oral selama tiga hari setelah induksi perdarahan. Selanjutnya jaringan otak dianalisis menggunakan pewarnaan hematoksilin-eosin serta pemeriksaan imunohistokimia untuk mengukur ekspresi TNF-α, PPARγ, Ki-67, dan jumlah neuron matang (NeuN). Analisis statistik dilakukan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji lanjut Tukey HSD, serta analisis jalur (path analysis).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian thymoquinone memberikan efek neuroprotektif yang bergantung pada dosis. Dibandingkan kelompok kontrol, kadar TNF-α menurun secara nyata, terutama pada dosis 250 mg/kgBB, yang menurunkan nilai TNF-α dari 10,20 menjadi 3,73. Penurunan ini menunjukkan bahwa thymoquinone mampu meredam respons inflamasi yang terjadi setelah perdarahan otak. Pada saat yang sama, ekspresi PPARγ meningkat dari 3,20 menjadi 10,82, sedangkan ekspresi Ki-67 meningkat dari 3,10 menjadi 10,64, mengindikasikan meningkatnya aktivitas regenerasi jaringan dan proliferasi sel reparatif. Selain itu, jumlah neuron matang yang bertahan hidup juga meningkat dari 4,20 menjadi 11,36, menandakan bahwa thymoquinone membantu melindungi neuron dari kerusakan lanjutan akibat proses inflamasi. Seluruh perubahan tersebut menunjukkan hubungan yang konsisten antara penurunan inflamasi dan peningkatan mekanisme perbaikan jaringan otak.

Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa dosis 250 mg/kgBB secara konsisten memberikan hasil terbaik dibandingkan dosis 150 mg/kgBB. Penurunan TNF-α berlangsung bersamaan dengan peningkatan PPARγ dan Ki-67, yang mengindikasikan bahwa thymoquinone tidak hanya menghambat proses inflamasi, tetapi juga mengarahkan respons imun menuju fase perbaikan jaringan. Aktivasi PPARγ diperkirakan berperan penting dalam mengubah aktivitas mikroglia menuju fenotipe antiinflamasi yang mendukung regenerasi jaringan saraf, sehingga mempercepat proses pemulihan setelah stroke perdarahan.

Pada akhirnya, penelitian ini mengungkapkan bahwa thymoquinone merupakan kandidat agen neuroprotektif yang sangat menjanjikan dalam penanganan stroke perdarahan intraserebral. Senyawa ini mampu menghambat peradangan melalui penurunan TNF-α, sekaligus meningkatkan regenerasi dan kelangsungan hidup neuron melalui peningkatan ekspresi Ki-67 dan PPARγ. Efek tersebut terjadi secara bergantung pada dosis, dengan dosis 250 mg/kgBB memberikan manfaat paling optimal. Meskipun hasil penelitian ini masih terbatas pada model hewan, temuan tersebut membuka peluang bagi pengembangan thymoquinone sebagai terapi adjuvan pada pasien stroke perdarahan melalui penelitian lanjutan, terutama uji praklinis dan uji klinis pada manusia.

Penulis: Prof. Dr. Asra Al Fauzi, dr., Sp.BS(K). FICS, IFAANS

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/effectiveness-of-thymoquinone-for-inhibiting-the-inflammation-pro/