UNAIR NEWS – Peningkatan kompetensi tenaga medis dalam menangani kasus patah tulang pada hewan kecil terus menjadi perhatian utama di bidang kedokteran hewan. Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan keahlian klinis para praktisi, Rumah Sakit Hewan Universitas Airlangga (RSH UNAIR) hadirkan workshop bertajuk Practical Animal Orthopedics Limb Fracture Management Principles, Workshop, Approach, & Implants Application pada Jumat (11/9/2026).
Dalam Wawancara bersama UNAIR NEWS, Ketua pelaksana, drh Simeon Marcellino Tantono menyebut peserta workshop hadir dari berbagai daerah di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini untuk memberikan pengalaman baru dan memperkaya wawasan kepada kolega dokter hewan yang sedang atau ingin mendalami ilmu ortopedi.
“Harapannya, setelah memperoleh bekal ilmu dasar ini, mereka dapat mengaplikasikannya langsung di ruang praktik dan ke depannya program ini bisa berlanjut ke tingkat lanjutan,” ujarnya.

Workshop tersebut menghadirkan berbagai pembicara, antara lain Prof Dr Ira Sari Yudaniayanti drh MP, drh Ivan Satriawan, serta drh Anton Susilo AP. Ketiganya memaparkan beragam materi. Mulai dari Aseptic Technique for Orthopedic Surgery, Basic Orthopedic (Klasifikasi, Mekanika, Biologi), Teknik Dasar Radiografi untuk Fraktur, Instrumentasi Orthopedic Umum dan Power Tool, Orthopaedic Pain Management (WSAVA guideline), hingga IM pin, Cerclage wire, TBW, cross pin, dan ESF.
Manajemen Rasa Sakit pada Ortopedi
Dalam salah satu sesi pemaparan materi, Prof Ira memaparkan materi terkait manajemen nyeri pada pasien. Ia menekankan bahwa nyeri harus diantisipasi sejak awal tanpa menunggu hewan berteriak karena hewan memiliki insting alami untuk menyembunyikan rasa sakit sebagai mekanisme pertahanan diri.
Menurutnya, hewan yang kesakitan umumnya menunjukkan perubahan perilaku yang drastis. Hewan lemah cenderung bersembunyi di pojok, sedangkan hewan predator bisa berubah menjadi sangat defensif dan menyerang saat disentuh.
“Penanganan rasa nyeri adalah standar etika kedokteran hewan tertinggi yang sejalan dengan prinsip kesejahteraan hewan, yakni memastikan hewan bebas dari rasa sakit, cedera, dan penderitaan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof Ira menjelaskan bahwa rasa nyeri memicu respons stress yang akan meningkatkan hormon kortisol dan menurunkan insulin. Kondisi ini berujung pada hiperglikemia, pelemahan sistem imun, hingga peningkatan risiko infeksi pasca operasi. “Nyeri memicu pelepasan katekolamin yang dapat menyebabkan komplikasi kardiovaskular seperti takikardia, hipertensi, aritmia, serta membebani kerja otot jantung,” imbuhnya.
Prof Ira menyebut bahwa obat golongan Nonsteroidal Anti-inflammatory Drugs (NSAID) dapat digunakan dan bekerja dengan cara menghambat prostaglandin untuk meredakan nyeri. Namun, penggunaannya harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat merusak pelindung pencernaan, meningkatkan asam lambung, serta memicu ileus.
“Nyeri ortopedi pada tulang dan periosteum bersifat sangat kuat dan jika tidak segera ditangani, nyeri akut ini dapat berubah menjadi nyeri kronis maladaptif yang merusak kualitas hidup hingga membutuhkan obat keras seperti Morfin atau Gabapentin. Rasa sakit yang diabaikan justru memicu kekakuan otot, memperburuk sirkulasi darah, dan pada akhirnya menghambat proses penyembuhan,” tegasnya.
Penulis: Putri Andini
Editor: Yulia Rohmawati
