Universitas Airlangga Official Website

Urgensi Edukasi Kesadaran Masyarakat Terhadap Kasus Pelecehan di Era Transportasi Massal Modern

Ilustrasi by SINDOnews

Transportasi umum salah satu kendaraan bagi masyarakat yang sangat diandalkan untuk bepergian sekarang ini baik itu jarak dekat di dalam kota ataupun jarak jauh antar kota. Pengguna transportasi umum terbesar menjadi urutan pertama ialah Kota Jakarta dengan menghubungkan antar wilayah lainnya yang jaraknya bisa di jangkau dan saling menghubungkan roda perekonomian setiap harinya seperti wilayah Bekasi, Bogor, Depok, dan Tangerang dimana keempat wilayah tersebut merupakan pondasi perekonomian Kota Jakarta yang sama-sama saling menguntungkan. Beraneka ragam jaringan transportasi umum yang tersedia di kawasan Jabodetabek baik itu KRL / Kereta Listrik Commuter Line, Transjakarta, MRT, Angkutan Perkotaan (Angkot) Jaklingko, Metro Trans, Feeder Transjakarta, Bajaj, Angkot Koperasi Wahana Kalpika (KWK), dan transportasi terbaru yang rencananya akan dioperasikan pada tahun depan ialah LRT Jakarta serta Kereta Cepat Jakarta- Bandung.

Terdapat banyak transportasi umum yang dimiliki oleh Kota Jakarta sebagai penghubung wilayah Jabodetabek dan setiap tahun angka penggunanya selalu mengalami peningkatan. Namun, seiring berjalannya waktu dengan banyaknya jenis transportasi umum terdapat ketimpangan dari jumlah armada yang di operasionalkan setiap harinya dengan jumlah penggunanya di masa pandemi COVID-19 saat ini yang tak kunjung usai. Sebagai contoh jadwal bus Transjakarta sekarang ini yang sudah tidak lagi beroperasi 24 jam dan hanya pada koridor tertentu beroperasi 24 jam itupun untuk rute khusus yang vital dan menjadi tujuan wisata serta realisasi pada saat weekend atau libur akhir pekan. Kemudian jadwal KRL Commuter Line yang dibatasi maksimal sampai pukul setengah 12 malem untuk rute Jakarta-Bekasi, sedangkan rute lainnya hanya sampai pukul 10 malem. Dari pembatasan waktu yang tidak lagi 24 jam di semua jenis transportasi dan armada operasional yang tidak setiap berapa puluh menit tersedia terjadi penumpukan penumpang terutama saat jam berangkat kerja dan pulang kerja baik itu di dalam transportasi ataupun di ruang tunggu.

Penumpukan penumpang yang melebihi kapasitas sehingga berdesak-desakan di dalam transportasi umum inilah dapat menyebabkan unsur pelecehan seksual baik yang disengaja ataupun tidak sengaja. Kejadian yang sering terjadi berulang kali tindakan pelecehan seksual ialah di transportasi KRL dan Transjakarta pada saat jam berangkat kerja waktu pagi hari dan jam pulang kerja waktu sore hingga malam hari. Kedua waktu tersebut saat terjadi penumpukan penumpang sangatlah rawan tindakan pelecehan seksual, bisa dibayangkan dalam satu jenis kendaraan umum seperti Transjakarta dengan kapasitas full 100% saat posisi berhimpitan dengan penumpang yang lain menjadi serba salah terlebih jika dekat dengan penumpang wanita sangatlah kurang nyaman menggerakkan anggota badan disaat posisi kurang nyaman selama dalam perjalanan. Terdapat beberapa faktor terjadinya unsur pelecehan seksual di dalam transportasi umum saat ini yang menimbulkan ketidaksengajaan ataupun disengaja. Faktor pertama dari segi operasional kendaraan kurang memadai dan tidak adanya tambahan unit atau jadwal tambahan pengoperasian saat momen weekdays sehingga terjadi penumpukan penumpang dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi penumpang untuk menjaga jaga jarak di dalam kendaraan.

Faktor kedua kurangnya pemahaman pada masyarakat pentingnya untuk menghargai ke lawan jenis baik itu pria ke wanita ataupun wanita ke pria saat menggunakan transportasi umum saat ini. Aktivitas masyarakat saat pagi hari dan sore hari di waktu weekdays sangat rawan terjadi pelecehan seksual di dalam transportasi massal era sekarang ini, terlebih banyak oknum-oknum pria tertentu yang memanfaatkan situasi tersebut dengan gadget pribadinya untuk mengambil gambar secara diam-diam dan bisa dijadikan sebuah dokumen gambar pribadi di gadget yang dimilikinya. Hal inilah yang terkadang sering terjadi dan tidak diketahui oleh penumpang lain saat dalam perjalanan menggunakan transportasi umum sehingga oknum dapat leluasa menggambil gambar yang tidak sepantasnya dengan cara berpura-pura bermain gadget yang posisinya diletakan dibawah sambil mengambil gambar dihadapkan pada penumpang lain terutama penumpang wanita yang di dekatnya baik itu di sebelah kanan, kiri, dan depan karena situasi saat aktivitas orang bekerja menimbulkan kepadatan penumpang di dalam transportasi pada sekarang ini dan banyak kantor atau perusahaan yang mayoritas menerapkan work from office di semua bidang.

Dengan adanya kejadian kasus pelecehan seksual di dalam transportasi umum baik itu tindakan secara fisik ataupun tindakan non fisik dengan memanfaatkan teknologi terkadang masyarakat masih belum bisa memahami pentingnya edukasi pelecehan seksual dan yang sangat disayangkan ketika di dalam transportasi sengaja atau tidak sengaja melihat kejadian pelecehan seksual banyak yang tidak menyelematkan korban serta menegur pelaku, akan tetapi merekam terlebih dahulu gerak-gerak kejadiannya dan di viralkan ke berbagai media sosial supaya mendapatkan tanggapan viewers dari netizen yang dapat menaikan rating akun milik pribadi sendiri. Hal semacam itulah yang perlu di kritiskan edukasi dan fikirannya oleh generasi muda calon pemimpin bangsa di masa depan yaitu Mahasiswa. Sudah banyak sekali kampanye gerakan anti pelecehan seksual terutama perlindungan kepada Mahasiswa itu sendiri, namun kontribusi mahasiswa hanya banyak dilakukan  untuk melindungi secara internal saat aktivitas di dalam kampus itu sendiri dimana aduannya hanya kejadian sering terjadi di lingkungan kampus antar mahasiswa yang muncul di pemberitaan seperti kasus-kasus pelecehan antar mahasiswa yang dilakukan oleh pejabat kampus, perlakuan tidak mengenakan dari mahasiswa senior ke mahasiswi junior saat berada di kampus ataupun luar kampus mengenai organisasi, dan lain sebagainya. Padahal aktivitas mahasiswa/mahasiswi juga banyak dilakukan di luar kampus dan membaur langsung kepada masyarakat umum apalagi ketika naik transportasi umum yang secara tidak langsung juga banyak terjadi pelecehan seksual yang sasarannya adalah para mahasiswi oleh oknum-oknum pria yang tidak bertanggung jawab yang entah itu mahasiswa atau orang lain yang bukan mahasiswa.  

Peran mahasiswa saat ini sudah sangat perlu dibutuhkan untuk mengedukasi kepada masyarakat umum dan mengkampanyekan gerakan anti pelecehan seksual di dalam transportasi umum karena jarang sekali atau bahkan tidak ada mahasiswa membantu mengedukasi terjun langsung ke masyarakat saat naik transportasi umum mengkampanyekan kekerasan seksual atau pelecehan seksual, justru yang sering melakukan itu ialah komunitas-komunitas pegiat transportasi umum yang anggotanya malah dari masyarakat itu sendiri bukan dari mahasiswa baik itu komunitas railfans, komunitas gerakan naik transportasi umum, komunitas busmania, dan berbagi komunitas lainnya yang berhubungan dengan transportasi. Sehingga sudah saatnya mahasiswa dari berbagai elemen organisasi internal kampus dan unsur mahasiswa lainnya untuk bisa merasakan menggunakan transportasi umum sekaligus mengkampanyekan serta mengedukasi supaya masyarakat umum yang menaiki kendaraan menjadi paham akan bahayanya pelecehan seksual dan bisa mengkritisi kemudian berani bertindak jika melihat atau mengetahui kejadian pelecehan seksual di dalam kendaraan umum. Hal itulah yang nantinya akan berdampak dan membuka wawasan kepada masyarakat umum untuk lebih berhati-hati dalam menaiki kendaraan atau transportasi massal umum supaya menciptakan humanisme rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang menaiki kendaraan umum sehingga selamat sampai di tujuan tanpa ada rasa kekhawatiran berkepanjangan nantinya.

Edukasi dan wawasan yang disampaikan oleh Mahasiswa tidak hanya berupa gerakan mengkampanyekan saja, akan tetapi membantu masyarakat juga sebagai posko pelapor jika ada tindakan pelecehan seksual dan menyampaikannya kepada lembaga perlindungan yang terkait supaya bisa diproses secara hukum untuk memberikan efek jerah dengan dibantu bantuan tenaga hukum dari kampus yang bisa melindungi korban. Bantuan dari mahasiswa inilah yang dapat bermanfaaat kepada masyarakat dan menjadi timbal balik dari masyarakat juga mempercayai unsur civitas akademika baik itu mahasiswa dan tenaga pendidik yang bisa berkontribusi tidak hanya lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) akan tetapi membantu permasalahan sosial yang tidak terlihat serta dijadikan sebuah simbiosis mutualisme bagi masyarakat dan mahasiswa serta tenaga pendidik di masa sekarang hingga masa yang akan datang.

Penulis: Rizal Djati Dwisepta (Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Airlangga)