Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Selama ini, masyarakat lebih mengenal kolesterol Low-Density Lipoprotein (LDL) sebagai faktor utama penyebab penyakit jantung. Namun, penelitian terbaru menunjukkan adanya ancaman lain yang sering terabaikan, yaitu remnant cholesterol atau kolesterol sisa. Jenis kolesterol ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung meskipun kadar LDL seseorang berada dalam batas normal, sehingga menjadi faktor risiko yang tersembunyi namun berbahaya.
Penelitian terhadap polisi wanita di Jawa Timur memberikan gambaran nyata tentang tingginya risiko kardiometabolik pada perempuan dengan tingkat stres kerja tinggi. Dari 381 partisipan, lebih dari setengah mengalami hipertensi, sebagian besar memiliki kadar LDL tinggi, dan sekitar 50% memiliki kadar remnant cholesterol yang tinggi . Selain itu, hampir 70% mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Data ini menunjukkan bahwa kombinasi faktor pekerjaan, gaya hidup, dan kondisi metabolisme dapat meningkatkan risiko penyakit jantung secara signifikan.
Remnant cholesterol sendiri merupakan sisa partikel lemak dalam darah setelah trigliserida dipecah. Berbeda dengan LDL yang umum diperiksa, remnant cholesterol jarang menjadi perhatian dalam pemeriksaan rutin. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa zat ini berkontribusi langsung terhadap pembentukan plak di pembuluh darah dan meningkatkan risiko aterosklerosis . Hal ini menjelaskan mengapa seseorang tetap berisiko terkena penyakit jantung meskipun hasil tes kolesterol standar terlihat normal.
Selain remnant cholesterol, indikator lain seperti Triglyceride-Glucose Index (TyG) juga terbukti berkaitan dengan risiko penyakit jantung. Indeks ini mencerminkan resistensi insulin, yang berperan dalam gangguan metabolisme dan pembentukan plak di pembuluh darah. Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara remnant cholesterol dengan berbagai indikator lipid dan metabolik, sehingga pemeriksaan kesehatan ke depan perlu lebih komprehensif dan tidak hanya bergantung pada satu parameter saja.
Untuk mengurangi risiko tersebut, langkah pencegahan perlu dilakukan sejak dini. Pola makan sehat, aktivitas fisik rutin, pengelolaan stres, serta pemeriksaan kesehatan berkala menjadi kunci utama menjaga kesehatan jantung. Selain itu, penting bagi institusi kerja untuk mendukung program kesehatan bagi karyawan, terutama pada profesi dengan tingkat stres tinggi. Dengan peningkatan kesadaran dan deteksi dini, ancaman “kolesterol tersembunyi” ini dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup masyarakat, khususnya perempuan, dapat terus terjaga.
Penulis: Dr. Meity Ardiana, dr., Sp.JP(K)FIHA
Link artikel : https://malque.pub/ojs/index.php/msj/article/view/13744





