Program pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Pusat Kesehatan Sememi, Surabaya, telah dievaluasi selama pandemi COVID-19. Evaluasi ini bertujuan untuk menilai efektivitas program pengendalian DBD selama periode pandemi dan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Indonesia memiliki jumlah kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Oleh karena itu, program pengendalian DBD menjadi sangat penting dalam upaya mengurangi penyebaran penyakit ini. Namun, selama pandemi COVID-19, program ini mengalami kendala dalam pelaksanaannya karena pembatasan aktivitas di berbagai sektor kesehatan.
Studi evaluasi ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode evaluatif. Informan kunci diidentifikasi menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi. Hasil evaluasi kemudian dianalisis menggunakan metode pendekatan sistem.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa variabel input program pengendalian DBD di Pusat Kesehatan Sememi sudah memenuhi standar minimum yang telah ditetapkan. Variabel input meliputi sumber daya manusia, dana, peralatan, dan materi yang digunakan dalam program. Namun, variabel proses program masih belum optimal. Kegiatan seperti penyuluhan pencegahan DBD, pemberantasan jentik nyamuk, pemantauan, dan evaluasi tidak dilaksanakan selama pandemi COVID-19. Pembatasan kerumunan membuat semua kegiatan tersebut tidak dapat dilakukan dengan efektif.
Meskipun demikian, evaluasi variabel output menunjukkan hasil yang baik. Jumlah hari bebas jentik dan kasus DBD masuk dalam kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa program pengendalian DBD di Pusat Kesehatan Sememi telah berhasil dalam mengurangi penyebaran penyakit ini.
Namun, untuk meningkatkan efektivitas program, variabel proses harus ditingkatkan. Khususnya, peningkatan pelaksanaan kegiatan penyuluhan pencegahan DBD, pemberantasan jaring nyamuk, dan kegiatan pemantauan dan evaluasi. Selama pandemi COVID-19, kegiatan ini tidak dapat dilakukan dengan optimal karena pembatasan aktivitas dan kekhawatiran akan penyebaran virus.
Dalam menghadapi kendala ini, Pusat Kesehatan Sememi perlu mencari solusi yang inovatif. Misalnya, mengadakan penyuluhan secara online atau melalui media sosial untuk tetap memberikan informasi kepada masyarakat tentang pencegahan DBD. Selain itu, perlu dilakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan bahwa kegiatan pemberantasan jentik nyamuk tetap dilakukan dengan aman dan efektif.
Dalam kesimpulannya, evaluasi program pengendalian DBD di Pusat Kesehatan Sememi menunjukkan bahwa variabel input dan output sudah memenuhi standar. Namun, variabel proses masih perlu ditingkatkan.
Penulis: Muhammad Farid Dimjati Lusno
Judul dan link artikel internasional bereputasi (Scopus-Q3)
Judul : Evaluation of the implementation of the dengue hemorrhagic fever eradication
program (P2DBD) during the cOVID-19 pandemic (study at the Sememi Health Center, Benowo district, Surabaya City)
DOI : https://doi.org/10.4081/jphia.2023.2564 Link : https://www.publichealthinafrica.org/jphia/article/view/2564





