
Luka bakar merupakan salah satu cedera yang paling sering menimbulkan nyeri hebat. Rasa nyeri tidak hanya muncul saat cedera terjadi, tetapi juga dapat berlangsung selama proses perawatan dan penyembuhan. Untuk mengatasi kondisi tersebut, dokter biasanya menggunakan kombinasi beberapa obat pereda nyeri, seperti opioid dan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen.
Meskipun efektif, penggunaan OAINS dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping, antara lain gangguan lambung dan penurunan fungsi ginjal. Oleh karena itu, para peneliti terus mencari alternatif yang lebih aman. Salah satu kandidat yang menarik perhatian adalah kakao (Theobroma cacao), yang diketahui kaya akan flavonoid, polifenol, katekin, dan epikatekin yang memiliki sifat antiinflamasi dan antioksidan.
Penelitian ini menggunakan 15 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama tidak mendapatkan terapi nyeri, kelompok kedua menerima kombinasi tramadol dan ibuprofen, sedangkan kelompok ketiga menerima kombinasi tramadol dan ekstrak kakao.
Luka bakar derajat dua dibuat pada telapak kaki tikus menggunakan air panas bersuhu 65°C selama tiga detik. Setelah itu, peneliti menilai tingkat nyeri menggunakan uji Von Frey, yaitu metode untuk mengukur sensitivitas terhadap rangsangan mekanik. Selain itu, dilakukan pemeriksaan kadar protein TRPV1 pada jaringan otak dan sumsum tulang belakang. Protein ini diketahui berperan penting dalam proses penghantaran sinyal nyeri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tikus yang menerima kombinasi tramadol dan ekstrak kakao memiliki ambang nyeri yang jauh lebih baik dibandingkan kelompok tanpa terapi. Menariknya, efektivitas kombinasi tramadol-kakao hampir sama dengan kombinasi tramadol-ibuprofen.
Kelompok tramadol-kakao menunjukkan nilai ambang nyeri rata-rata 14,84 gram, sedangkan kelompok tramadol-ibuprofen sebesar 13,92 gram. Perbedaan tersebut tidak bermakna secara statistik. Selain itu, kedua kelompok terapi juga mengalami penurunan kadar TRPV1 dibandingkan kelompok kontrol. Bahkan, pada jaringan sumsum tulang belakang, kelompok kakao menunjukkan penekanan TRPV1 yang paling besar.
Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak kakao memiliki potensi sebagai pendamping alami dalam terapi nyeri luka bakar. Kandungan flavonoid dan senyawa bioaktif lainnya diduga mampu menghambat proses peradangan dan menekan aktivitas TRPV1 yang berperan dalam meningkatkan sensitivitas nyeri.
Penelitian ini juga menemukan bahwa semakin rendah kadar TRPV1, semakin tinggi ambang nyeri yang dimiliki tikus. Hasil tersebut memperkuat peran TRPV1 sebagai target penting dalam pengembangan terapi nyeri modern. Dengan mekanisme yang melibatkan berbagai jalur biologis sekaligus, kakao berpotensi memberikan efek analgesik yang sebanding dengan ibuprofen.
Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kakao memiliki efektivitas yang setara dengan ibuprofen ketika digunakan bersama tramadol untuk mengurangi nyeri akibat luka bakar pada tikus. Selain mampu meningkatkan ambang nyeri, ekstrak kakao juga menekan kadar TRPV1 yang berperan dalam proses nyeri. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan kakao sebagai alternatif alami dalam strategi pengelolaan nyeri multimodal. Namun, penelitian lebih lanjut pada manusia masih diperlukan sebelum dapat diterapkan dalam praktik klinis.
Penulis: Dr. Prananda Surya Airlangga, dr., M.Kes., Sp.An-TI., Subsp.T.I.(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Rachman AB, Airlangga PS, Putri HS, Santoso KH, Wirabuana B, Mahmudah. Multimodal Burn Pain Management: Cocoa Extract Provides Equivalent TRPV1 Suppression and Pain Reduction to Ibuprofen When Combined with Tramadol in Rats. International Journal of Drug Delivery Technology. 2026;16(8):943–51. doi:10.25258/ijddt.16.8s.105





