Di tengah persaingan industri telekomunikasi yang semakin ketat, kehilangan pelanggan sering kali menjadi ancaman yang lebih mahal daripada mencari pelanggan baru. Setiap pelanggan yang berhenti berlangganan bukan hanya mengurangi pendapatan perusahaan, tetapi juga meningkatkan biaya pemasaran dan akuisisi pelanggan. Pertanyaannya, bisakah kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membantu perusahaan memprediksi pelanggan yang berpotensi meninggalkan layanan sebelum hal itu benar-benar terjadi?
Dalam dunia bisnis modern, data telah menjadi aset strategis yang mampu memberikan wawasan berharga mengenai perilaku pelanggan. Perusahaan telekomunikasi setiap hari mengumpulkan berbagai informasi, mulai dari lama berlangganan, jenis kontrak, penggunaan layanan, hingga pola pembayaran pelanggan. Jika diolah dengan tepat, data tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal pelanggan yang berisiko berhenti menggunakan layanan atau yang dikenal sebagai customer churn.
Melalui penelitian berjudul A Random Forest-Based Model for Customer Churn Prediction in a Telecommunication Company, peneliti Universitas Airlangga mengembangkan model prediksi churn berbasis machine learning menggunakan algoritma Random Forest. Algoritma ini dipilih karena memiliki kemampuan klasifikasi yang baik, tahan terhadap overfitting, dan mampu menunjukkan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap hasil prediksi.
Penelitian memanfaatkan Telco Customer Churn Dataset yang berisi 7.043 data pelanggan dengan 21 atribut yang mencakup karakteristik demografis, penggunaan layanan, serta informasi tagihan pelanggan. Dataset tersebut memiliki tantangan tersendiri karena distribusi datanya tidak seimbang: sekitar 73% pelanggan tetap bertahan, sedangkan hanya 27% yang melakukan churn.
Untuk meningkatkan kualitas model, dilakukan serangkaian proses data preprocessing seperti penghapusan duplikasi, reduksi atribut, penyeimbangan kelas menggunakan Random Undersampling, serta transformasi data kategorikal menggunakan One-Hot Encoding. Menariknya, penelitian ini tidak hanya menguji satu model, tetapi membandingkan empat konfigurasi berbeda untuk mengetahui pengaruh reduksi fitur dan hyperparameter tuning terhadap performa prediksi.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang cukup menarik. Model terbaik justru diperoleh dari dataset yang telah direduksi tanpa melakukan hyperparameter tuning, dengan tingkat akurasi mencapai 84,8%. Hasil ini bahkan lebih baik dibandingkan model yang menggunakan konfigurasi yang lebih kompleks.
Temuan tersebut memberikan pelajaran penting bahwa dalam machine learning, model yang lebih rumit belum tentu menghasilkan performa yang lebih baik. Pemilihan fitur yang relevan sering kali memberikan dampak yang lebih besar dibandingkan sekadar melakukan optimasi parameter secara berlebihan. Dengan kata lain, kualitas data dan pemahaman terhadap domain bisnis tetap menjadi faktor utama dalam membangun sistem AI yang efektif.
Penelitian ini juga berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap churn pelanggan. Lama berlangganan (tenure), biaya bulanan (monthly charges), dan jenis kontrak menjadi tiga variabel utama yang menentukan apakah pelanggan berpotensi meninggalkan layanan. Pelanggan dengan masa berlangganan yang pendek, biaya layanan tertentu, atau kontrak yang kurang mengikat cenderung memiliki risiko churn yang lebih tinggi.
Dari perspektif bisnis, informasi semacam ini sangat berharga. Perusahaan dapat melakukan tindakan preventif seperti memberikan program loyalitas, penawaran khusus, atau peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan yang teridentifikasi memiliki risiko tinggi. Dengan demikian, strategi retensi pelanggan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran dan berbasis data.
Lebih jauh lagi, penelitian ini menunjukkan bagaimana AI tidak hanya berfungsi sebagai alat prediksi, tetapi juga sebagai instrumen pengambilan keputusan strategis. Ketika perusahaan mampu memahami perilaku pelanggan secara lebih mendalam, keputusan bisnis dapat dilakukan secara lebih cepat, objektif, dan efisien.
Prediksi customer churn merupakan salah satu contoh nyata bagaimana kecerdasan buatan dapat memberikan nilai tambah bagi dunia industri. Penelitian ini membuktikan bahwa algoritma Random Forest mampu menjadi solusi yang efektif untuk mengidentifikasi pelanggan yang berpotensi berhenti berlangganan, dengan akurasi mencapai 84,8%. Lebih penting lagi, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan data yang baik dan pemilihan fitur yang tepat sering kali lebih menentukan keberhasilan sistem AI dibandingkan kompleksitas model yang digunakan. Di era transformasi digital saat ini, kemampuan memanfaatkan data untuk memahami pelanggan bukan lagi sekadar keunggulan kompetitif, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Penulis: Yutika Amelia Effendi
Detail artikel:
Judul : A Random Forest-Based Model for Customer Churn Prediction in a Telecommunication Company. DOI: 10.1109/ICoABCD67551.2025.11470884. https://ieeexplore.ieee.org/document/11470884







