Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Ancaman Tuberkulosis Resistan Obat (TB-RO) pada Anak di Indonesia

46 Views•4 minutes read

Tuberkulosis (TB) tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak juga dapat terinfeksi TB. Permasalahan menjadi lebih kompleks ketika bakteri penyebab TB telah mengalami resistansi terhadap obat. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, menyatakan bahwa dari 423 anak berusia 0–14 tahun yang menderita TB, sebesar 15,9% resisten obat (TB-RO). Angka ini menunjukkan persoalan resistansi obat bukan hanya ancaman pada pasien dewasa, tetapi juga telah menjadi perhatian serius dalam penanggulangan TB pada anak.

TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada penderita TB dapat ditangani dengan kombinasi obat antituberkulosis.  Masalah muncul ketika bakteri mengalami resistansi, sehingga pengobatan menjadi lebih rumit. Pasien mungkin membutuhkan obat yang berbeda, pengobatan yang lebih lama, pemantauan lebih ketat, serta menghadapi risiko efek samping yang lebih besar. Pada anak, tantangannya semakin kompleks karena dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan, kemampuan mengonsumsi obat, kondisi nutrisi, serta kebutuhan tumbuh kembang. Karena itu, TB resistan obat pada anak bukan sekadar persoalan “obat yang tidak mempan”. Ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dapat memengaruhi anak, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.

Resistansi obat pada anak dapat terjadi karena anak tertular langsung dari seseorang yang sudah mengalami TB resistan obat. Dalam keluarga, seorang anak dapat terpapar anggota rumah tangga yang menderita TB. Kontak dengan anggota rumah tangga yang memiliki TB, kemungkinan untuk terkena TB-RO sebesar 5,6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak ada kontak dengan anggota keluarga yang TB.  Karena itu, penemuan satu kasus TB dalam rumah tangga seharusnya tidak berhenti pada pengobatan pasien tersebut. Anggota keluarga lain, terutama anak-anak, perlu diperiksa terinfeksi TB atau bahkan TB-RO.

Anak yang tinggal di wilayah pedesaan, kemungkinan terkena TB-RO 2,68 kali lebih tinggi  dibandingkan anak yang tinggal di wilayah perkotaan. Temuan ini tidak berarti bahwa tinggal di desa secara langsung menyebabkan resistansi obat. Faktor tempat tinggal kemungkinan mencerminkan berbagai kondisi yang saling berkaitan, seperti akses terhadap fasilitas kesehatan, jarak menuju layanan kesehatan, ketersediaan pemeriksaan diagnostik, kondisi sosial ekonomi, maupun kesinambungan pengobatan. Anak di daerah terpencil mungkin menghadapi hambatan untuk datang secara rutin ke fasilitas kesehatan. Ketika diagnosis terlambat atau pengobatan tidak berlangsung optimal, risiko munculnya masalah dalam pengendalian TB dapat semakin besar. Dengan demikian, pemberantasan TB tidak cukup hanya mengandalkan tersedianya obat. Sistem kesehatan juga harus memastikan bahwa anak yang membutuhkan diagnosis dan pengobatan dapat memperoleh layanan secara tepat waktu.

Kepatuhan pengobatan merupakan bagian penting dalam pengendalian TB Anak dengan kepatuhan pengobatan yang buruk, kemungkinan mengalami TB-RO sebesar  17,35 kali lebih tinggi dibandingkan dengan yang patuh melakukan pengobatan. Anak tidak minum obat sendiri, orang tua atau pengasuh memegang peranan besar dalam memastikan obat diminum sesuai jadwal dan dosis yang diberikan tenaga kesehatan. Pendekatan terhadap TB anak harus berbeda, membutuhkan dukungan keluarga, komunikasi yang sesuai usia, pemantauan efek samping, dan layanan kesehatan yang mampu membuat pengobatan lebih mudah dijalani.

Beberapa hal penting yang harus dilakukan adalah :

  • TB pada anak perlu ditemukan sedini mungkin, batuk atau gejala lain yang menetap pada anak, terutama jika ada riwayat kontak dengan pasien TB, perlu perhatian medis.
  • Investigasi kontak dalam rumah tangga harus diperkuat, ketika seseorang didiagnosis TB, anak yang tinggal serumah perlu dipertimbangkan dalam penilaian risiko.
  • Akses layanan kesehatan di daerah pedesaan dan wilayah dengan keterbatasan fasilitas perlu diperkuat, diagnosis dan pengobatan yang berkualitas harus dapat dijangkau oleh anak, terlepas dari tempat tinggalnya.
  • Keluarga harus menjadi bagian dari strategi pengobatan, orang tua, pengasuh, petugas kesehatan, dan sistem pelayanan kesehatan memiliki tanggung jawab bersama.

Penulis: Mahmudah

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di

https://journal.hep.com.cn/apjtm/EN/10.4103/apjtm.apjtm_271_26

Rukmini*, Mahmudah, Hari Basuki Notobroto, Ingan Ukur Tarigan, Zainul Khaqiqi Nantabah dan  Agung Dwi Laksono. Drug-resistant tuberculosis in children in Indonesia: A population-based analysis of the 2023 Indonesian Health Survey. Asian Pacific Journal of Tropical Medicine, Vol. 19 No. 7 (2026)

https://doi.org/10.4103/apjtm.apjtm_271_26

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top