Dari Rawa Terdegradasi menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

85 Views•7 minutes read

Ada tempat di Indonesia yang sering kita sebut “lahan terlantar”: rawa yang luas, berlumpur, berbau tanah basah, dan dihuni nyamuk. Bagi sebagian orang, lahan gambut mungkin terlihat seperti wilayah yang menunggu dibuka, dikeringkan, lalu diubah menjadi perkebunan atau permukiman. Padahal, justru di balik kesan “tidak produktif” itu tersimpan salah satu kekayaan ekologis paling penting bagi masa depan bangsa dan bumi.

Lahan gambut bukan sekadar tanah. Ia adalah arsip alam yang terbentuk selama ribuan tahun dari tumpukan sisa tumbuhan yang membusuk dalam kondisi basah dan minim oksigen. Dalam proses yang lambat itu, gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ketika ekosistemnya sehat, ia menjadi penyangga air, rumah bagi keanekaragaman hayati, serta pelindung masyarakat dari kekeringan dan banjir. Namun ketika gambut dikeringkan, dibakar, atau dibiarkan terdegradasi, ia berubah menjadi sumber masalah: asap tebal, emisi karbon, kerusakan kesehatan, dan kehilangan penghidupan.

Karena itu, memulihkan rawa terdegradasi bukan sekadar urusan lingkungan. Ia adalah bagian nyata dari perjuangan mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDGs. Dari rawa yang dipulihkan, kita dapat membaca harapan tentang iklim yang lebih stabil, air yang lebih terjaga, ekonomi masyarakat yang lebih adil, dan kehidupan yang lebih layak bagi generasi mendatang.

Kerusakan lahan gambut sering tidak tampak segera. Tidak ada pohon raksasa yang tumbang di depan mata. Tidak ada sungai yang mendadak kering dalam sehari. Kerusakan itu bekerja perlahan, melalui parit-parit drainase, pembukaan lahan, dan kebiasaan membakar untuk membersihkan tanah. Air yang seharusnya tertahan di dalam gambut perlahan mengalir keluar. Tanah yang dulu lembap menjadi kering, retak, dan mudah terbakar.

Hery Purnobasuki, Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB), Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR (Foto: Istimewa)

Ketika api menyala, masalahnya menjadi jauh lebih rumit. Kebakaran lahan gambut tidak hanya membakar vegetasi di permukaan. Api dapat merambat ke dalam lapisan tanah organik dan terus menyala meskipun tampak padam dari atas. Asapnya menyelimuti kota dan desa, mengganggu pernapasan, menutup sekolah, menghentikan penerbangan, serta memaksa masyarakat hidup dengan rasa cemas berbulan-bulan.

Dampaknya juga melampaui batas wilayah. Gambut yang terbakar melepaskan karbon yang telah tersimpan lama ke atmosfer. Laporan menyebut kebakaran hutan dan lahan di Indonesia pada 2026 telah melepaskan sekitar 140,5 megaton karbon hingga awal Oktober, angka yang tinggi dan menegaskan betapa besar kontribusi kebakaran gambut terhadap pemanasan global. Dalam kondisi tertentu, satu hektare gambut yang terbakar dapat melepaskan hingga 300ton karbon ke atmosfer.

Angka-angka itu terasa jauh dan abstrak bagi kebanyakan orang. Tetapi di baliknya ada pengalaman yang sangat manusiawi: anak-anak yang batuk karena asap, petani yang gagal panen, nelayan yang sulit bekerja, ibu yang membawa anaknya ke puskesmas, dan keluarga yang kehilangan penghasilan karena ekonomi lokal lumpuh. Kerusakan gambut akhirnya selalu kembali kepada manusia.

SDGs sering dianggap sebagai dokumen global yang penuh target dan indikator. Namun pada dasarnya, SDGs berbicara tentang kehidupan yang lebih baik: mengakhiri kemiskinan, menjamin kesehatan, menjaga air, mengatasi perubahan iklim, melindungi ekosistem darat, dan membangun kemitraan. Lahan gambut berada persis di persimpangan semua tujuan itu.

Ketika gambut sehat, ia membantu menjaga ketersediaan air. Ia menahan air pada musim hujan dan melepaskannya perlahan pada musim kemarau. Dengan demikian, pemulihan gambut berkontribusi pada akses air yang lebih aman dan pengurangan risiko bencana. Ketika gambut rusak, masyarakat justru menghadapi paradoks yang menyakitkan: banjir di musim hujan dan kekeringan serta kebakaran di musim kemarau.

Pemulihan gambut juga merupakan aksi iklim yang sangat penting. Indonesia memiliki salah satu simpanan karbon gambut tropis terbesar di dunia. Ekosistem gambut Indonesia diperkirakan menyimpan sekitar 57 miliar ton karbon, atau sekitar 55 persen karbon yang tersimpan di lahan gambut tropis dunia. Angka ini menunjukkan bahwa menjaga gambut bukan hanya tanggung jawab lokal, melainkan kontribusi Indonesia terhadap stabilitas iklim global.

Lebih dari itu, restorasi gambut berkaitan erat dengan kesehatan. Kebakaran gambut menghasilkan asap yang mengandung partikel halus dan zat berbahaya. Restorasi yang efektif dapat menurunkan emisi PM2.5 secara signifikan serta mengurangi kerugian ekonomi akibat kebakaran. Artinya, setiap upaya menjaga gambut tetap basah dan hidup adalah bentuk perlindungan bagi paru-paru anak-anak, kesehatan lansia, dan produktivitas masyarakat.

Ada anggapan bahwa restorasi berarti menanam pohon sebanyak mungkin. Menanam memang penting, tetapi belum cukup. Gambut tidak akan pulih jika airnya tetap hilang. Lahan yang kering akan tetap rentan terbakar, betapapun banyak bibit yang ditanam di atasnya.

Pemulihan yang benar harus dimulai dari air. Parit drainase perlu ditutup atau diatur ulang agar air dapat tertahan kembali. Bendungan sederhana, sumur bor, dan pembasahan kembali lahan menjadi langkah penting untuk mengembalikan kondisi hidrologis gambut. Setelah air kembali, vegetasi asli dapat tumbuh, satwa dapat kembali, dan ekosistem perlahan menemukan ritmenya.

Pengalaman Badan Restorasi Gambut dan Mangrove menunjukkan bahwa upaya ini bukan hal yang mustahil. Selama periode 2016 hingga 2024, BRGM melaporkan telah merestorasi lahan gambut seluas 1,6 juta hektare di luar konsesi, disertai rehabilitasi mangrove seluas 84.396 hektare. Upaya tersebut juga disebut mampu menurunkan kebakaran lahan gambut hingga 29,59 persen.

Namun capaian tersebut seharusnya tidak membuat kita berpuas diri. Restorasi bukan proyek yang selesai ketika laporan tahunan diterbitkan. Ia adalah proses panjang yang menuntut pemeliharaan, pengawasan, pendanaan, dan komitmen politik. Lahan yang telah dipulihkan dapat rusak lagi jika tata kelola lemah, jika konflik lahan tidak diselesaikan, atau jika masyarakat tidak mendapatkan alternatif penghidupan yang layak.

Restorasi gambut tidak akan berjalan bila masyarakat hanya diposisikan sebagai objek program. Mereka harus menjadi subjek. Mereka adalah orang yang paling mengenal musim, arah angin, kedalaman air, dan perilaku lahan. Mereka pula yang paling merasakan dampak ketika asap datang atau ketika sumur mengering.

Karena itu, restorasi harus berpihak pada penghidupan. Masyarakat tidak dapat diminta menjaga gambut sementara sumber pendapatan mereka hilang. Mereka perlu diberi ruang untuk mengembangkan usaha yang selaras dengan ekosistem: pertanian paludikultur seperti sagu, kelapa, kopi, atau buah-buahan lokal; perikanan berkelanjutan; madu; kerajinan; serta wisata edukasi berbasis rawa.

Keterlibatan masyarakat bukan sekadar nilai tambah, melainkan syarat keberhasilan. BRGM dilaporkan telah memberdayakan sekitar 102.000 kepala keluarga dalam restorasi gambut. Angka itu mengingatkan kita bahwa pemulihan ekosistem pada akhirnya adalah kerja bersama antara negara, ilmu pengetahuan, dunia usaha, dan warga. Ketika masyarakat merasakan manfaat langsung dari gambut yang sehat, mereka akan menjaganya bukan karena diperintah, melainkan karena sadar bahwa rawa itu adalah bagian dari kehidupan mereka.

Mungkin kita perlu mengubah cara pandang. Rawa terdegradasi bukanlah lahan kosong yang harus “diselesaikan”. Ia adalah luka ekologis yang menunggu dirawat. Di balik tanah hitam dan air yang keruh itu ada masa depan yang dapat dipulihkan.

Memulihkan gambut berarti memulihkan kemampuan bumi untuk menyimpan karbon. Ia berarti mengurangi asap yang menyakiti jutaan orang. Ia berarti menjaga air bagi pertanian, menopang keanekaragaman hayati, dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa. Ia juga berarti menegaskan bahwa pembangunan tidak harus mengorbankan alam, tetapi dapat berjalan bersama alam.

SDGs tidak akan tercapai hanya melalui rapat, laporan, dan slogan. Ia tercapai ketika kebijakan benar-benar menyentuh tanah, air, dan kehidupan manusia. Lahan gambut adalah salah satu tempat ujian paling jujur bagi komitmen itu. Jika kita mampu merawat rawa yang pernah terluka, kita sedang membangun bukti bahwa pembangunan berkelanjutan bukan impian jauh, melainkan pilihan yang dapat kita wujudkan hari ini.

Pada akhirnya, memulihkan gambut adalah cara kita membalas kebaikan alam. Alam telah lama menyimpan air, karbon, dan kehidupan untuk kita. Kini giliran kita untuk menjaga agar rawa itu tidak lagi menjadi sumber asap dan bencana, melainkan kembali menjadi rumah bagi kehidupan dan penyangga masa depan Indonesia.

Penulis: Hery Purnobasuki, Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB), Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR (Foto: Istimewa)

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top