Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

Circadian disruption in ADHD: Is the gut microbiome the missing link?  

16 Views•3 minutes read

Gangguan tidur merupakan masalah yang sering ditemukan pada anak dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), terutama berupa keterlambatan waktu tidur, waktu tidur yang tidak teratur, dan kesulitan bangun pada pagi hari. Selama ini, gangguan tidur sering dianggap sebagai masalah sekunder akibat gejala ADHD. Namun, artikel ini menekankan bahwa gangguan ritme sirkadian dapat memiliki relevansi klinis yang lebih besar. Perubahan waktu dan keteraturan tidur dapat berhubungan dengan variasi perhatian, iritabilitas, regulasi emosi, dan kontrol perilaku dari hari ke hari. Hubungan antara ADHD dan gangguan tidur juga kemungkinan bersifat dua arah, karena gejala ADHD dapat mengganggu tidur, sementara gangguan tidur dan ketidaksesuaian ritme sirkadian dapat memperburuk fungsi perhatian dan perilaku.

Artikel ini menjelaskan konsep gut–circadian–sleep axis sebagai kerangka untuk memahami hubungan antara mikrobioma usus, ritme sirkadian, tidur, dan manifestasi klinis ADHD. Mikrobioma usus tidak bersifat statis, tetapi mengalami perubahan sepanjang hari yang dipengaruhi oleh pola makan, metabolisme, dan sinyal hormonal. Sejumlah metabolit mikroba, terutama short-chain fatty acids dan produk metabolisme triptofan, berpotensi berinteraksi dengan sistem sirkadian. Triptofan merupakan prekursor serotonin dan selanjutnya melatonin, sehingga perubahan jalur metabolisme ini secara teoritis dapat memengaruhi waktu dan kualitas tidur.

 Perubahan komposisi mikrobioma dapat memengaruhi regulasi sirkadian melalui metabolit dan mekanisme gut–brain signaling. Gangguan sinkronisasi antara central dan peripheral clocks kemudian dapat menyebabkan perubahan waktu tidur dan meningkatkan variabilitas pola tidur. Selanjutnya, tidur yang tidak teratur dapat berkontribusi terhadap variasi perhatian, regulasi emosi, dan perilaku pada anak dengan ADHD. Namun, penulis menekankan bahwa hubungan tersebut bukan merupakan jalur linear tunggal. Faktor perilaku dan lingkungan, seperti pola makan tidak teratur, selective eating, aktivitas fisik, jadwal tidur, serta paparan obat stimulan, juga dapat memengaruhi komposisi mikrobioma. Dengan demikian, hubungan antara mikrobioma, ritme sirkadian, tidur, dan ADHD kemungkinan bersifat dinamis dan dua arah.

Dari sisi klinis, artikel menyarankan agar evaluasi tidur pada anak dengan ADHD dilakukan secara lebih komprehensif. Penilaian tidak hanya berfokus pada apakah anak memperoleh tidur yang cukup, tetapi juga mencakup waktu tidur, keteraturan jadwal tidur dan bangun, durasi hingga tertidur, kesulitan bangun pada pagi hari, serta perubahan perhatian, suasana hati, atau perilaku setelah tidur terlambat atau tidak teratur. Sleep diary selama satu hingga dua minggu dapat digunakan untuk menilai pola tidur dan variabilitas harian. Aktigrafi juga dapat dipertimbangkan apabila diperlukan untuk memperoleh gambaran objektif mengenai waktu dan keteraturan tidur.

Intervensi untuk memperbaiki keselarasan ritme sirkadian dapat mencakup konsistensi waktu tidur dan bangun sepanjang minggu, mengurangi paparan cahaya serta aktivitas stimulatif pada malam hari, dan mempertahankan rutinitas harian yang teratur. Pada kondisi tertentu, pendekatan kronoterapi seperti melatonin atau bright light therapy dapat dipertimbangkan sesuai indikasi klinis. Sebaliknya, intervensi yang secara langsung menargetkan mikrobioma, seperti diet tertentu, probiotik, atau suplementasi, masih bersifat investigational karena hasil penelitian sejauh ini heterogen dan belum menunjukkan pola mikrobioma yang konsisten pada ADHD.

 Secara keseluruhan, gut–circadian–sleep axis merupakan model konseptual yang menarik untuk menjelaskan sebagian variasi klinis ADHD, tetapi hubungan kausalnya belum terbukti. Bukti yang tersedia masih terutama bersifat asosiatif, sehingga diperlukan penelitian longitudinal, mekanistik, dan intervensional yang menggabungkan pemeriksaan mikrobioma, penilaian tidur objektif, pola diet, paparan obat, dan luaran klinis. Pendekatan ini berpotensi membantu mengidentifikasi subkelompok anak dengan ADHD yang memiliki gangguan ritme sirkadian lebih menonjol dan membutuhkan pendekatan yang lebih individual.

Penulis: Yunias Setiawati

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://www.scopus.com/pages/publications/105044827636?origin=resultslist

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top