Ilustrasi AIP (Artikel Ilmiah Populer) (Foto: UNAIR NEWS)

SI BIRU BUNGA TELANG SECERCAH HARAPAN UNTUK MENGENDALIKAN PERADANGAN PADA PSORIASIS

20 Views•4 minutes read

Psoriasis bukan sekadar masalah kulit. Penyakit inflamasi kronis ini berkaitan dengan gangguan sistem imun yang membuat sel kulit berkembang dan berdiferensiasi secara tidak normal. Di balik munculnya bercak merah dan sisik, terdapat jejaring sinyal peradangan, termasuk sumbu TNF-α/IL-23/IL-17, yang menjadi salah satu penggerak penting proses penyakit.

Menariknya, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Scientific Reports tahun 2026 mengeksplorasi bunga telang (Clitoria ternatea) sebagai kandidat pangan fungsional atau nutraseutikal yang berpotensi membantu menjaga keseimbangan inflamasi. Penelitian ini belum membuktikan bahwa bunga telang dapat mengobati psoriasis pada manusia, tetapi memberikan petunjuk awal tentang bagaimana senyawa alaminya dapat berinteraksi dengan jalur peradangan.

Mengapa bunga telang menarik perhatian? Bunga berwarna biru ini dikenal mengandung berbagai senyawa bioaktif, terutama flavonoid. Dalam penelitian tersebut, ekstrak bunga telang dianalisis menggunakan UPLC-QToF-MS/MS dan ditemukan 14 senyawa utama. Flavonoid merupakan kelompok yang dominan, antara lain luteolin, turunan quercetin, kaempferol, ternatin, serta senyawa berbasis chalcone. Profil kimia tersebut memberikan dasar untuk menelusuri kemungkinan aktivitas biologis ekstrak secara lebih terarah.

Bahan tanaman dalam penelitian diperoleh dari sumber budidaya lokal di Batu, Jawa Timur, dan spesimennya didokumentasikan melalui voucher herbarium. Bunga yang dikeringkan kemudian diekstraksi dengan etanol 70 persen menggunakan metode maserasi selama tiga hari. Langkah ini penting karena komposisi dan cara pengolahan bahan tanaman dapat memengaruhi kandungan senyawa aktif yang akhirnya diteliti.

Peneliti kemudian menggabungkan beberapa pendekatan. Analisis bioinformatika digunakan untuk memetakan kemungkinan target molekuler, sedangkan molecular docking digunakan untuk melihat secara komputasional bagaimana senyawa tertentu berinteraksi dengan protein yang berkaitan dengan inflamasi. Salah satu senyawa yang diberi kode C5 menunjukkan skor docking yang kuat terhadap IL-23 dan TNF-α. Namun, hasil docking harus dipahami sebagai prediksi interaksi molekuler, bukan bukti bahwa senyawa tersebut pasti menghambat protein di dalam tubuh.

Temuan berikutnya berasal dari pengujian laboratorium. Pada sel makrofag RAW 264.7 yang dibuat mengalami respons inflamasi menggunakan lipopolisakarida atau LPS, pemberian ekstrak bunga telang menurunkan ekspresi AKT1, IL-23, dan TNF-α secara bermakna. Ekstrak juga menunjukkan kemampuan menangkap radikal bebas dalam uji DPPH dan ABTS, dengan nilai IC50 sekitar 90 μg/mL. Aktivitas antioksidan ini tergolong moderat dan lebih rendah dibandingkan Trolox sebagai pembanding.

Penelitian juga menggunakan sel keratinosit HaCaT yang diberi kombinasi TNF-α dan IL-17A untuk menghasilkan kondisi yang relevan dengan peradangan psoriasis. Hasilnya, ekstrak bunga telang menurunkan ekspresi KRT16 dan KRT17, dua penanda yang berkaitan dengan hiperproliferasi keratinosit, serta meningkatkan kembali ekspresi filaggrin (FLG), penanda diferensiasi epidermis. Temuan ini memperluas hasil dari model makrofag, meskipun tetap belum dapat dianggap sebagai bukti terapi psoriasis pada manusia. s41598-026-53814-8

Di sinilah pentingnya membaca hasil penelitian secara proporsional. Studi tersebut merupakan penelitian praklinis yang menggabungkan analisis kimia, bioinformatika, molecular docking, dan uji sel. Belum ada validasi pada hewan atau uji klinis manusia dalam penelitian ini. Model sel yang digunakan juga belum sepenuhnya menggambarkan kompleksitas psoriasis, yang melibatkan interaksi keratinosit, sel dendritik, dan sel T. Karena itu, bunga telang belum dapat diposisikan sebagai pengganti obat psoriasis yang telah digunakan secara klinis.

Nilai penting penelitian ini justru terletak pada cara pandangnya: tanaman pangan lokal tidak hanya dilihat dari warna, rasa, atau penggunaannya dalam minuman, tetapi juga dapat dipelajari melalui pendekatan modern untuk memahami kandungan bioaktif dan kemungkinan mekanismenya. Bunga telang berpotensi dikembangkan sebagai bahan pangan fungsional atau nutraseutikal, tetapi pengembangannya membutuhkan standardisasi ekstrak, penentuan dosis, penelitian keamanan, validasi in vivo, serta akhirnya uji klinis.

Dengan demikian, bunga telang bukan “obat baru psoriasis” yang sudah terbukti, melainkan kandidat ilmiah yang menarik untuk diteliti lebih lanjut. Pesan utamanya sederhana: kekayaan hayati Indonesia dapat menjadi sumber inovasi kesehatan, tetapi setiap klaim manfaat harus mengikuti tahapan pembuktian ilmiah. Dari secangkir minuman berwarna biru, penelitian ini membuka pertanyaan yang lebih besar—seberapa jauh pangan lokal dapat berkontribusi pada pengelolaan inflamasi, dan bagaimana sains dapat mengubah potensi tersebut menjadi manfaat yang benar-benar terbukti?

Penulis: Arifa Mustika

Detail tulisan ini dapat diakses pada: https://www.nature.com/articles/s41598-026-53814-8

Accessibility ✕
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia English English
Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top