Merokok merupakan salah satu permasalahan kesehatan yang masih sulit dikendalikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Rokok mengandung zat berbahaya seperti nikotin dan tar yang dapat menyebabkan berbagai penyakit serius, baik bagi perokok aktif maupun perokok pasif. Tingginya angka kematian akibat rokok menunjukkan bahwa perilaku merokok masih menjadi tantangan besar dalam bidang kesehatan masyarakat.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi jumlah perokok, seperti kampanye kesehatan, pembatasan area merokok, kenaikan harga rokok, hingga terapi penghentian merokok. Namun demikian, perilaku merokok tetap mengalami peningkatan pada beberapa kelompok masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan ilmiah untuk memahami dinamika penyebaran perilaku merokok, salah satunya melalui pemodelan matematika.
Dalam penelitian ini dikembangkan model matematika perilaku merokok dengan pendekatan non-monotone incidence rate. Pendekatan ini digunakan untuk menggambarkan adanya efek psikologis pada masyarakat ketika jumlah perokok meningkat sangat tinggi. Semakin banyak perokok, sebagian individu dapat menjadi lebih sadar terhadap bahaya rokok sehingga interaksi yang menyebabkan seseorang mulai merokok menjadi berkurang.
Model yang dikembangkan membagi populasi menjadi empat kelompok, yaitu calon perokok, perokok ringan, perokok berat, dan individu yang berhenti merokok sementara. Analisis dilakukan untuk mengetahui kondisi ketika perilaku merokok tidak menyebar dan kondisi ketika perilaku merokok tetap bertahan dalam populasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model memiliki dua kondisi kesetimbangan, yaitu kondisi bebas perilaku merokok dan kondisi endemik perilaku merokok. Kondisi bebas perilaku merokok terjadi ketika penyebaran perilaku merokok dapat dikendalikan sehingga jumlah perokok tidak bertambah secara signifikan. Sebaliknya, kondisi endemik terjadi ketika perilaku merokok terus menyebar di masyarakat.
Selain itu, penelitian ini juga melakukan analisis sensitivitas parameter untuk mengetahui faktor yang paling memengaruhi penyebaran perilaku merokok. Hasil analisis menunjukkan bahwa laju perpindahan calon perokok menjadi perokok berat serta faktor penyakit akibat rokok merupakan parameter yang paling berpengaruh terhadap dinamika model.
Simulasi numerik memperlihatkan bahwa ketika penyebaran perilaku merokok tidak terkendali, jumlah perokok berat cenderung meningkat seiring waktu. Sebaliknya, pada kondisi terkendali, jumlah calon perokok dapat ditekan dan populasi perokok menjadi lebih stabil.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan matematika dapat membantu memahami pola penyebaran perilaku merokok serta memberikan gambaran mengenai faktor-faktor yang paling berpengaruh dalam pengendalian perilaku merokok di masyarakat. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi dalam penyusunan strategi kesehatan masyarakat untuk mengurangi prevalensi perokok, khususnya di kalangan generasi muda.
Penulis: Cicik Alfiniyah, M.Si., Ph.D
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
https://pubs.aip.org/aip/acp/article-abstract/3326/1/040013/3382132
Authors: Cicik Alfiniyah*, Nathasya Fradinda Gersih, Windarto, and Anisa Puspitasari
Title: Stability analysis of mathematical model of smoking behavior with non-monotone incidence rate





