Universitas Airlangga Official Website

Audiometri Otomatis sebagai Metode Pemeriksaan Pendengaran pada Penderita Tuberkulosis Resisten Obat

Tuberkulosis resisten obatatau Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB)merupakan perkembangan dari penyakit tuberkulosis (TB) yang menjadi kebal terhadap beberapa obat tertentu, utamanya adalah Isoniazid dan Rifampisin, selain dapat disertai resisten obat anti TB lain. Pemberian aminoglikosida pada penderita MDR-TB dapat terjadi masalah berupa efek samping ototoksisitas, telinga mengalami ketulian yang bersifat permanen. Permasalahan ini perlu penanganan segera melalui  deteksi secara dini dan monitoring ambang pendengaran berkala hingga pasien sembuh. Perangkat audiometri otomatis bermanfaat untuk monitoring fungsi pendengaran dengan metode yang praktis dan mudah dilakukan.

Perangkat audiometer ini dalam penggunaannya tidak memerlukan bilik kedap suaraatau dengan kata lain dapat dilakukan di tempat terbuka. Prosedur dan interpretasi dilakukan secara otomatis. Terdapat fitur yang berfungsi untuk memonitor tinggi level bising sekitar saat melakukan uji audiometri. Untuk pemeriksaan dicari tempat yang sunyi sehingga tidak mengganggu pemeriksaan. Penelitian mengenai keakuratan dan efisiensi dari Audiometri otomatis disebutkan yaitu metode yang stabil, akurat, dan efisien waktu untuk mengevaluasi status pendengaran orang dewasa dengan pendengaran normal dan gangguan pendengaran.

Penelitian mengenai hal ini dilakukan oleh Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.T.H.T.B.K.L (K), Subsp.N.O.(K)., Subsp.K.(K) dan rekannya, guna mengetahui validitas metode audiometri otomatis pada penderita MDR-TB di RSUD Dr. Soetomo, selama periode Juli hingga Desember 2019. Sebanyak 36 penderita (72 telinga) yang berpartisipasi pada penelitian ini, menerima injeksi kanamisin. Penderita yang dikonsultasikan ke Unit Rawat Jalan THT-KL Divisi Neurotologi untuk pemeriksaan fungsi pendengaran sebelum diberikan terapi obat anti tuberkulosis, sebagai data dasar dan setelah pemberian injeksi aminoglikosida, sebagai monitoring ototoksisitas.

Analisis statistik dilakukan untuk menguji validitas alat melalui pengukuran tingkat ambang pendengaran pada frekuensi 250 Hz, 500 Hz, 1000 Hz, 2000 Hz, 4000 Hz, 6000 Hz, dan 8000 Hz menggunakan audiometri otomatis dibandingkan dengan audiometri nada murni sebagai standar baku emas.  Hasil penelitian yaitu didapatkan sensitivitas 80-97%, spesifisitas 37-96%, nilai ramal positif 74-98%, dan nilai ramal negatif 59-96%.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa audiometri otomatis valid untuk digunakansebagai metode pemeriksaan dan monitoring pendengaran padapenderita Tuberkulosis resisten obatataumultidrug-resistant tuberculosis dengan pendengaran normal maupun pendengaran yang terganggu. Gangguan pendengaran pada ototoksisitas tersebut dapat dideteksi menggunakan alat audiometri otomatis.

Penulis: Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp. T.H.T.B.K.L., Subsp.N.O.(K)., Subsp.K.(K)

Sumber :

Purnami N, Palandeng RW, Soedarsono, Arifianto D, Moon IS. Validity of automated audiometry for hearing examination in patients with multidrug-resistant tuberculosis. F1000Research 2022, 10:1277 (https://doi.org/10.12688/f1000research.75090.2)