Universitas Airlangga Official Website

Deteksi Dini Sitomegalovirus Kongenital Melalui Serologi Ibu Pascapersalinan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Mengakselerasi Diagnosis Tuberkulosis pada Pasien HIV: Lompatan Teknologi Uji FujiLAM terhadap AlereLAMDiagnosis tuberkulosis (TB) aktif pada orang dengan HIV (ODHIV) sering kali terhambat oleh keterbatasan metode berbasis sputum. Pasien dengan koinfeksi HIV-TB umumnya mengalami kesulitan memproduksi sputum berkualitas akibat tingginya prevalensi TB ekstrapulmonal atau infeksi paucibacillary (jumlah bakteri yang sangat sedikit). Dalam konteks ini, deteksi antigen lipoarabinomannan (LAM)—sebuah komponen dinding sel Mycobacterium tuberculosis yang diekskresikan melalui urine—menjadi modalitas diagnostik non-invasif yang sangat krusial.

Evaluasi komparatif melalui meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa generasi terbaru uji LAM urine, yaitu FujiLAM, menawarkan sensitivitas yang jauh lebih unggul dibandingkan generasi pendahulunya, AlereLAM (Alere Determine TB-LAM), tanpa mengorbankan spesifisitas secara signifikan.Profil Performa Diagnostik: AlereLAM vs. FujiLAM Analisis statistik terhadap data klinis ODHIV menunjukkan disparitas performa yang jelas antara kedua platform uji cepat ini:Parameter DiagnostikUji AlereLAMUji FujiLAMSensitivitas Gabungan36,4% (95% CI: 27,2% – 46,7%)64,2% (95% CI: 56,7% – 71,1%)Spesifisitas Gabungan92,8% (95% CI: 87,5% – 96,0%)90,1% (95% CI: 87,2% – 92,4%)Diagnostic Odds Ratio (DOR)7,3816,34 Rasio Kemungkinan Positif (LR+)5,066,49Rasio Kemungkinan Negatif (LR-)0,690,40Analisis Kinerja dan Mekanisme TeknisPeningkatan sensitivitas FujiLAM yang mencapai hampir dua kali lipat dari AlereLAM berakar pada inovasi metodologi deteksinya. AlereLAM mengandalkan teknik imunoasai aliran lateral (lateral flow immunoassay) konvensional dengan deteksi visual berbasis emas koloid. Metode ini memiliki batas deteksi (limit of detection) yang relatif tinggi, sehingga sering menghasilkan visualisasi pita yang samar atau negatif palsu pada pasien dengan konsentrasi antigen rendah dalam urine.Sebaliknya, FujiLAM mengintegrasikan teknologi amplifikasi perak berbasis konsentrasi tinggi (high-concentration silver amplification).

Sistem ini melipatgandakan sinyal visual dari kompleks antibodi-antigen menggunakan partikel perak, sehingga mampu mendeteksi konsentrasi protein LAM dalam skala yang jauh lebih rendah (pikogram per mililiter). Kemampuan ini sangat krusial bagi ODHIV dengan jumlah sel CD4 rendah, di mana diseminasi TB sistemik terjadi secara masif tetapi ekskresi antigen di urine berfluktuasi pada level minimal.Meskipun terdapat sedikit penurunan pada spesifisitas gabungan FujiLAM (90,1% dibandingkan 92,8% pada AlereLAM), nilai Diagnostic Odds Ratio (DOR) yang mencapai 16,34 mengonfirmasi bahwa FujiLAM memiliki efektivitas keseluruhan yang jauh lebih tinggi dalam memisahkan kasus positif sejati dari kasus negatif sejati.Implikasi Klinis dalam Manajemen Ko-infeksi HIV-TBSecara klinis, rendahnya sensitivitas AlereLAM (36,4%) membatasi fungsinya hanya sebagai uji konfirmasi tambahan; hasil negatif pada AlereLAM tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis TB aktif. Dengan sensitivitas FujiLAM yang mencapai 64,2%, platform ini bertransformasi menjadi alat penapis (screening tool) yang jauh lebih efektif di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas.Integrasi FujiLAM dalam alur diagnostik berpotensi memangkas waktu tunggu hasil laboratorium, mempercepat inisiasi terapi antituberkulosis (OAT), dan menurunkan angka mortalitas dini pada populasi ODHIV yang rentan akibat keterlambatan diagnosis.

Artikel ini bersumber dari: Indonesian Journal of Medical Laboratory Science and Technology

Bisa di akses melalui link: https://journal2.unusa.ac.id/index.php/IJMLST/article/view/7737

Penulis:

Puspa Wardhani , Joko Pamungkas , Dominicus Husada, Ernawati, Nyilo Purnami, Reni Prasetyani, Munawaroh Fitriah