Tujuan dari riset ini meneliti hubungan antara lima sifat kepribadian (Big Five) dan kelelahan kerja (burnout) di antara karyawan di sebuah perusahaan transportasi umum regional di Jawa Timur dan menganalisis peran moderasi kesadaran (mindfulness) sebagai sumber daya psikologis.
Desain survei kuantitatif lintas-seksional digunakan dengan menggunakan kuesioner laporan diri yang diberikan kepada 436 karyawan. Pemodelan Persamaan Struktural (SEM-AMOS) diterapkan untuk meneliti hubungan antara sifat kepribadian dan kelelahan kerja serta untuk menguji peran moderasi kesadaran (mindfulness). Model pengukuran dan struktural menunjukkan kesesuaian yang dapat diterima (misalnya, CFI, TLI, dan RMSEA dalam ambang batas yang dapat diterima).
Temuan studi ini menawarkan implikasi sementara dan terikat konteks untuk penilaian dan penelitian organisasi di masa mendatang, bukan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk praktik. Mengingat desain lintas-seksional, data sumber tunggal, dan tidak adanya validasi prediktif, hasil tersebut tidak boleh digunakan untuk menginformasikan pengambilan keputusan personel seperti seleksi, penempatan, atau penyaringan karyawan, terutama mengingat tidak adanya validasi prediktif dan sensitivitas etis dari aplikasi tersebut.
Meskipun sifat kepribadian dan kesadaran diri (mindfulness) ditemukan terkait dengan kelelahan kerja (burnout), hubungan ini harus ditafsirkan sebagai deskriptif daripada preskriptif, dan tidak membenarkan penerapan strategi perekrutan atau penugasan berbasis kepribadian.
Demikian pula, meskipun kesadaran diri (mindfulness) dikaitkan dengan variasi kelelahan kerja di antara individu, studi ini tidak mengevaluasi intervensi kesadaran diri (mindfulness), efektivitasnya, atau potensi efek samping. Oleh karena itu, temuan tersebut tidak boleh ditafsirkan sebagai bukti bahwa program kesadaran diri (mindfulness) harus diterapkan secara selektif atau ditahan untuk kelompok karyawan tertentu.
Selain itu, rekomendasi mengenai manajemen kelelahan kerja (burnout) individual atau strategi intervensi yang disesuaikan melebihi apa yang dapat didukung oleh data asosiasi lintas-seksional, dan harus didekati dengan hati-hati. Sebaliknya, temuan saat ini dapat berfungsi sebagai dasar untuk penelitian di masa mendatang, khususnya dalam meneliti bagaimana perbedaan individu berkaitan dengan kesejahteraan karyawan di berbagai konteks. Rekomendasi terapan apa pun untuk desain intervensi, kebijakan organisasi, atau pengembangan karyawan memerlukan konfirmasi melalui desain penelitian longitudinal atau eksperimental.
Terakhir, hasil tersebut menyoroti pentingnya mempertimbangkan variabilitas kontekstual dan individu dalam penelitian tentang kelelahan kerja, tetapi harus ditafsirkan sebagai eksploratif dan bukan sebagai dasar untuk praktik organisasi atau keputusan kebijakan yang definitif. Oleh karena itu, temuan ini tidak boleh digunakan sebagai dasar untuk kebijakan atau pengambilan keputusan organisasi.
Kesimpulan: Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara sifat kepribadian dan burnout bergantung pada tingkat kesadaran (mindfulness) individu. Meskipun kesadaran (mindfulness) umumnya dikaitkan dengan burnout yang lebih rendah, efektivitasnya sebagai penahan tidak bersifat universal dan bervariasi di berbagai profil kepribadian. Mengingat desain lintas sektoral, data laporan diri, dan sampel organisasi tunggal, temuan ini harus diinterpretasikan sebagai hubungan spesifik konteks bukan sebagai efek kausal.
Oleh: Ouys Alkharani, Fendy Suhariadi*, Mohammad Fakhrudin Mudzakkir, Rini Sugiarti, Elisabeth Supriharyanti, dan Ilham Phalosa Reswara





