Universitas Airlangga Official Website

Pengaruh Program Preceptorship pada Kemampuan Klinisi Residen Ilmu Kesehatan Anak

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi atau kelengkapan fasilitas rumah sakit. Di balik setiap keputusan medis, terdapat proses berpikir yang kompleks yang dikenal sebagai clinical reasoning atau penalaran klinis. Kemampuan ini sangat penting karena membantu dokter menentukan diagnosis dan memilih terapi yang tepat bagi pasien. Sayangnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kesalahan diagnosis masih menjadi salah satu penyebab utama kejadian yang membahayakan pasien.

Pada dokter yang sedang menjalani pendidikan spesialis, yang biasa disebut residen, kemampuan penalaran klinis masih terus berkembang. Oleh karena itu, keberadaan seorang preceptor atau pembimbing klinis menjadi sangat penting. Preceptor merupakan dokter spesialis berpengalaman yang mendampingi peserta didik secara langsung dalam menangani pasien, memberikan arahan, berdiskusi mengenai kasus nyata, serta memberikan umpan balik terhadap proses pengambilan keputusan klinis. Pendampingan seperti ini diharapkan mampu mempercepat perkembangan kompetensi residen.

Sebuah penelitian di RSUD Dr. Soetomo Surabaya mencoba membuktikan manfaat sistem preceptorship tersebut. Dalam penelitian ini, residen ilmu kesehatan anak dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang memperoleh pendampingan terstruktur selama delapan minggu dan kelompok yang menjalani pembelajaran seperti biasa. Kemampuan penalaran klinis mereka kemudian diukur menggunakan Script Concordance Test (SCT), yaitu metode penilaian yang dirancang untuk mengukur cara seorang dokter mengambil keputusan ketika menghadapi kondisi pasien yang tidak selalu memiliki jawaban pasti.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan peningkatan kemampuan penalaran klinis belum terjadi pada semua bidang ilmu. Namun, pada bidang hematologi dan onkologi anak ditemukan peningkatan yang bermakna pada kelompok yang mendapatkan preceptorship dibandingkan kelompok kontrol. Temuan ini menunjukkan bahwa pendampingan yang terstruktur memiliki potensi memberikan manfaat, meskipun efeknya belum merata pada seluruh materi pembelajaran.

Secara kualitatif, sebagian besar peserta pada kelompok preceptorship memberikan penilaian positif terhadap program ini. Mereka merasa proses belajar menjadi lebih terarah, lebih mudah berdiskusi, memperoleh pengalaman klinis yang lebih nyata, serta lebih percaya diri dalam memecahkan masalah pasien. Selain itu, adanya umpan balik secara langsung membuat peserta lebih memahami alasan di balik setiap keputusan medis yang diambil.

Meski demikian, penelitian ini juga mengungkap tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan program. Hambatan terbesar adalah keterbatasan waktu karena kesibukan dokter pembimbing. Sebagian besar peserta mengaku frekuensi pertemuan belum mencapai target yang direncanakan sehingga kesempatan berdiskusi menjadi terbatas. Beberapa peserta juga mengusulkan adanya panduan materi yang lebih baku agar kualitas pembelajaran antar-preceptor menjadi lebih seragam.

Temuan ini memberikan pelajaran penting bahwa peningkatan mutu pendidikan dokter tidak cukup hanya dengan menambah jam belajar. Kualitas interaksi antara peserta didik dan pembimbing ternyata memiliki peran besar dalam membentuk kemampuan berpikir klinis. Dengan dukungan institusi berupa alokasi waktu khusus, pelatihan bagi para preceptor, serta kurikulum pendampingan yang lebih terstruktur, program preceptorship berpotensi menghasilkan dokter spesialis yang lebih siap mengambil keputusan medis secara tepat dan aman. Pada akhirnya, manfaat terbesar dari sistem ini bukan hanya dirasakan oleh dokter yang sedang belajar, tetapi juga oleh pasien yang memperoleh pelayanan kesehatan yang semakin berkualitas.

Penulis: Retno Asih Setyoningrum, Astrid Pratidina Susilo, Helmia Hasan, Nancy Margarita Rehatta

Judul Artikel: Effect of structured preceptorship on clinical reasoning of pediatric residents in Indonesia: a randomized controlled trial

Jurnal: Korean Journal of Medical Education

Link: https://doi.org/10.3946/kjme.2025.130