Universitas Airlangga Official Website

Pengaruh Terapi Oksigen Hiperbarik terhadap Ekspresi FGF, MMP-9 dan Occludin dalam Perbaikan Erosi Mukosa Gaster

Foto oleh medicalexpo.de

Erosi pada mukosa dan submukosa lambung merupakan kondisi lambung yang mengalami peradangan atau dikenal dengan istilah gastritis. Jika gastritis tidak ditangani secara optimal dan menjadi kronis, gastritis akan berkembang menjadi tukak lambung yang dapat menyebabkan komplikasi perdarahan, perforasi lambung, peritonitis bahkan kematian. Indonesia menempati urutan keempat dari jumlah kasus gastritis di dunia setelah China, Inggris, dan Bangladesh. Data Direktorat Jenderal Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2010, gastritis merupakan penyakit yang menempati urutan kelima dari sepuluh besar penyakit rawat inap dan urutan keenam pasien rawat jalan di rumah sakit. Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) adalah salah satu penyebab gastritis yang paling penting. Penelitian menunjukkan bahwa 52,1% pasien yang menggunakan terapi NSAID menyebabkan kerusakan mukosa lambung berupa ulkus. Pada data lain disebutkan bahwa 70% pasien dengan terapi NSAID jangka panjang, pada gambaran endoskopi terdapat erosi mukosa, ulserasi , dan perdarahan sub-epitel.

Mukosa lambung yang terluka oleh NSAID sebenarnya bisa sembuh dengan sendirinya. Namun, harus melalui proses yang kompleks dan membutuhkan waktu 40-150 hari untuk mencapai fase maturasi. Proses penyembuhan dapat melalui mekanisme peningkatan aktivitas neutrofil chemotactic factor (NCF) yang kemudian menginduksi migrasi sel dan re-epitelisasi erosi mukosa. Re-epitelisasi akan semakin kuat dengan adanya ikatan antar sel epitel dengan adanya tight junction yang berfungsi sebagai penghalang untuk mencegah kembalinya difusi asam dan pepsin. Tight junction adalah protein membran plasma yang terdiri dari claudin dan occludin. Keduanya memiliki peran penting dalam tight junction, terutama occludin yang memiliki peran lebih penting dalam menjaga kestabilan sel epitel. Occludin juga terbukti terregulasi dengan baik pasca transkripsi dan berperan dalam mencegah inflamasi gastrointestinal. Salah satu terapi tambahan atau alternatif untuk kasus erosi mukosa lambung, terutama yang disebabkan oleh pemberian NSAID adalah terapi oksigen hiperbarik (OHB) yaitu pemberian oksigen tekanan tinggi untuk pengobatan yang dilaksanakan di dalam Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT) dan biasanya dilakukan dengan pemberian tekanan lebih dari 1 atmosfer.

Berdasarkan gambaran tersebut, tim peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu Pharmacognosy Journal. Para peneliti mengevaluasi dengan menggunakan metode imunohistokimia (IHK), ekspresi faktor pertumbuhan fibroblas (FGF), matriks metalloproteinase-9 (MMP-9) dan occludin dalam perbaikan erosi mukosa lambung pada tikus Wistar yang diinduksi dengan pemberian aspirin, salah satu obat (NSAID). Ekspresi tersebut dikorelasikan dengan perubahan histopatologi, menggunakan metode HAI (Histology Activity Index).

Desain penelitian yang digunakan adalah post-test only control group design. Sampel penelitian adalah 28 ekor tikus Wistar jantan yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel secara acak dibagi ke dalam empat kelompok. Kelompok 1 sebagai kontrol negatif (K-). Kelompok 2 sebagai kontrol positif (K+). Kelompok 3 sebagai perlakuan 1 (P1) yang diberi terapi OHB 2,4 ATA selama 3 x 30 menit/hari (air break 5 menit) selama 5 hari, setelah induksi aspirin 30 mg/kgBB/hari selama 10 hari. Kelompok 4 sebagai perlakuan 2 (P2) yang diberi terapi OHB 2,4 ATA selama 3 x 30 menit/hari (air break 5 menit) selama 10 hari, setelah induksi aspirin 30 mg/kgBB/hari selama 10 hari. Setiap kelompok dievaluasi ekspresi beberapa variabel secara imunohistokimia (IHC) yaitu FGF, MMP-9 dan occludin, menggunakan indeks skala Remmele dan skor reaktif imun (IRS). Ekspresi tersebut dikorelasikan dengan perubahan histopatologi, menggunakan metode HAI (Histology Activity Index).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi OHB 2,4 ATA cukup signifikan untuk menurunkan erosi mukosa lambung, menurunkan ekspresi MMP-9 (matrix metalloproteinase-9), meningkatkan ekspresi FGF (fibroblast growth factor), dan meningkatkan ekspresi occludin. Penurunan erosi mukasi lambung terlihat dari perbandingan pemeriksaan histopatologi pada kelompok perlakuan terapi (P1 dan P2) yang mengalami inflamasi lebih sedikit dan erosi yang lebih ringan dibandingkan dengan kelompok kontrol positif. Penurunan ekspresi MMP-9 pada kelompok perlakuan terapi (P1 dan P2) menandakan proses penyembuhan yang berjalan dengan baik. Adanya peningkatan FGF berperan penting dalam perkembangan, homeostasis, dan proses perbaikan pada beberapa jaringan dan sistem organ yang terganggu, termasuk sistem gastrointestinal. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi OHB 2,4 ATA secara signifikan memberikan perbaikan erosi mukosa gaster pada tikus Wistar erosi mukosa gaster yang diinduksi NSAID, melalui mekanisme penurunan ekspresi MMP-9, serta meningkatkan ekspresi FGF dan occludin.

Artikel dapat diakses pada: https://www.phcogj.com/article/1817            

Penulis:

M. Fathi Ilmawan

Soetjipto

M. Guritno Suryokusumo

M. Miftahussurur