Universitas Airlangga Official Website

Promosi dan Edukasi Konsumsi Makanan Sehat Berimbang untuk Mencegah Masalah Obesitas di Masyarakat

Foto by Alomedika

Masyarakat Indonesia telah memasuki kelompok ekonomi low middle income. Hal ini ditandai oleh kemampuan daya beli masyarakat sebagian besar di atas rata-rata. Konsumsi rumah tangga tidak lagi dibatasi oleh jumlah barang-barang yang mampu diproduksi oleh rumah tangga yang bersangkutan atau produksi dalam negeri saja. Masyarakat Indonesia sebagian besar sudah mampu membeli produk-produk yang diimpor dari pasar internasional. Hal ini dikenal dengan manfaat dari kegiatan perdagangan internasion (gains from trade) dan variasi konsumsi (variety in consumption) (Ehrich & Lui, 1991).

Perkembangan industry makanan dan minuman semakin pesat. Variasi makanan cepat saji dengan harga yang cukup terjangkau menjadi pilihan utama keluarga muda. Waktu yang biasanya dialokasikan untuk memasak, sebagian disubstitusikan ke pasar kerja. Hal ini menyebabkan Sebagian besar keluarga muda mempunyai double income, sehingga semakin mampu membeli makanan jadi atau cepat saji. Makanan cepat saji pada umumnya dikemas sangat menarik, nampak menggugah selera dan disajikan lengkap dengan komposisi dan kandungan energi. Penyajian makanan cepat saji yang apik dan menggugah selera sering kali  tanpa disadari oleh konsumen dimana makanan tersebut mengandung gula tinggi, ber-garam tinggi dan ber-perasa yang mengandung lemak tidak sehat atau lemak jenuh. Konsumsi makanan dengan katagori: berpemanis tinggi (sugar sweetened beverages), bergaram tinggi (salty) dan beraroma atau berasa (tasty) secara terus menerus dapat memicu peningkatan berat badan. Hal ini apabila  tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang memadai diduga merupakan salah satu faktor yang berkontribusi pada peningkatan kasus obesitas di Indonesia (Supraptini & Hapsari, 2011).

Obesitas merupakan salah satu dari jenis penyakit tidak menular (non-communicable doseases/NCDs) yang berpotensi menimbulkan fatalitas yang tinggi. Obesitas ditemukan lebih banyak dialami oleh penduduk perempuan dibanding laki-laki, di wilayah perkotaan, dan hampir terjadi pada semua katagori kesejahteraan keluarga (Puji, 2010). Salah satu orang tua yang mengalami obesitas cenderung akan mempunyai keturunan yang menderita obesitas (Harbuwono et al., 2018; Philipson & Posner, 2008). Hal ini menunjukkan bahwa penyakit obesitas dapat menurun dan hal ini bermakna ada masalah intergenerasional dalam kualitas kesehatan keluarga. Obesitas atau kegemukan di masa balita mungkin menunjukkan kelucuan pada anak, namun kegemukan di masa remaja dan masa tua dapat memicu berkembangnya berbagai macam penyakit penyerta atau komorbid (Harbuwono et al., 2018).

Semakin banyaknya kasus kegemukan atau obesitas mendorong para pengambil kebijakan untuk berfokus untuk mengendalikan tingkat obesitas. Salah satu kebijakan yang banyak dipromosikan di negara-negara maju adalah pengenaan pajak pada penjualan makan cepat saji, khususnya yang berpemanis tinggi, bergaram tinggi, dan berperasa lemak buatan (Esmail, 2012; Frank et al., 2013). Di sisi yang lain, untuk mendorong konsumsi makanan sehat, kebijakan yang diambil adalah memberikan subsidi dan promosi konsumsi sehat dan seimbang (Banerjee et al., 2015; Niebylski et al., 2015).

Seberapa efektifkah kebijakan pengenaan pajak pada makanan tidak sehat (junk foods atau unhealthy foods)?. Sebuah studi eksperimen laboratorium komputer dilakukan di Surabaya, untuk menguji apakah kenaikan harga pada makanan cepat saji yang berlemak, bergaram dan bergula tinggi diikuti oleh penurunan konsumsi pada makanan tidak sehat tersebut. Sebanyak 40 (empat puluh) orang berpartisipasi pada eksperimen ini. Tarif pajak pada makanan tidak sehat dikenalkan secara berjenjang. Pada sesi awal atau baseline, harga makanan sehat (healthy foods) dan makanan tidak sehat (unhealthy foods) diskenariokan sama. Efek perlakukan delakukan dengan mengenakan pajak secara bertahap pada makanan tidak sehat. Adapun besaran tarif pajak yang diberikan dalam eksperimen adalah 15, 25 dan 35%. Besaran tarif ini mengikuti studi dari (Esmail, 2012; Fraser et al., 2012; Fuhrman, 2017). Temuan studi ini sebagai berikut. Pertama, hamper tidak ada perubahan konsumsi atau pembelian makanan cepat saji pada besaran pajak sebesar 15%. Artinya pola konsumsi atau pembelian makanan sebelum ada pajak dan setelah ada pajak sebesar 15% pada makanan tidak sehat tidak ada perubahan yang berarti. Pada saat tarif pajak dinaikkan menajdi 25%, diikuti oleh penurunan konsumsi, namun penurunan ini tidak lebih dari 5%. Penurunan konsumsi pada makanan tidak sehat  hampir 10% baru dicapai pada saat tarif pajak pada makanan tidak sehat sebesar 35%. Hal ini menunjukkan bahwa permintaan konsumsi pada makanan tidak sehat cenderung bersifat inelastis. Kenaikan harga pada jenis makanan ini diiukti oleh penurunan konsumsi dalam persentase yang lebih rendah.

Kesimpulan umum yang dapat ditarik dari hasil studi eksperimen ini adalah bahwa kebijakan kenaikan harga melalui kebijakan pajak belum efektif untuk mengatur pola konsumsi makanan tidak sehat yang dapat memicu masalah obesitas di Indonesia. Hal ini diduga terkait dnegan daya beli masyarakat yang cukup tinggi dan disertai dengan minimnya pengetahuan akan kandungan gizi pada makanan. Makanan yang diolah mesin atau makanan cepat saji cenderung mengandung lemak tinggi, oleh masyarakat dipersepsikan sebagai makanan sehat, dan mengkonsi makanan cepat saji lebih dipandang sebagai bagian dari lifestyle. Oleh karena itu, kebijakan promosi dan edukasi tentang konsumsi makanan sehat dan pola hidup sehat serta bagaimana konsekuensi jangka panjang pada kesehatan keluarga perlu dilakukan secara terus menerus.

Penulis: Ni Made Sukartini, Rudi Purwono, Endang Retno Surjaningrum, Thinzar Win, Adrian Chrisnahutama, Afanin Husna, dan Triwuli Handayani

Jurnal: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/36686586/