UNAIR NEWS – Banyak agenda yang dilakukan selama perhelatan The 13th International Convention of Asian Scholars (ICAS) termasuk salah satunya adalah sesi roundtable. Pada hari kedua gelaran ICAS 13, revitalisasi kota lama menjadi topik utama dengan mengangkat judul “Towards the Surabaya Old Town Heritage Revitalization Program: Prospects, Challenges, and Its Future”. Roundtable tersebut berlangsung di Gedung Pascasarjana, Kampus Dharmawangsa – B Universitas Airlangga (UNAIR) ruang P1.03 pada Senin (29/7/2024).
Adrian Prakasa dan Paul Rabe menjadi pemimpin dalam roundtable dengan peserta, yakni Lambert Grijns, Joella van Donkersgoed, Chee-Kien Lai, Ying-kit Chan, dan Maulana Ibrahim. Selama sesi roundtable mereka saling memberikan kritik dan solusi terhadap pengembangan warisan Kota Lama Surabaya.
Hadir juga Sekretaris Daerah Kota Surabaya, Dr Ikhsan SPsi MM yang memberikan paparan mengenai kondisi Kota Surabaya terkini. “Surabaya ini merupakan kota terbesar kedua di Indonesia. Kita bisa lihat bahwa di Surabaya ini ada 286 bangunan cagar budaya dan 10 kawasan cagar budaya. Dan di sini nanti akan ada situs Eropa, situs Pecinan, dan situs Ampel,” ungkapnya.
Keterlibatan Komunitas Jadi Sorotan
Lambert Grijns dalam pernyataanya menyebutkan pentingnya keterlibatan komunitas melalui peningkatan sumber daya manusia di Surabaya. Hal ini demi keberlangsungan pengembangan Kota Lama Surabaya. “Saya ingin memberikan selamat kepada semua karena ini (Kota Lama Surabaya, red) sangat impresif. Pemerintah Surabaya harus berfokus pada peningkatan sumber daya manusia demi menyempurnakan pengelolaan kota ini,” sebutnya.

Senada dengan Lambert, Joella menjelaskan bahwa sebuah warisan tidak hanya sebatas bangunan semata tapi juga aspek penting dalam suatu kota. Maka, menurutnya tetap penting untuk mendengar aspirasi dari berbagai komunitas yang ada. “Sangat penting untuk tetap mendengarkan komunitas tentang apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Karena mereka yang juga hidup di area sekitar,” jelasnya.
Pertahankan Warisan Asli Sejarah
Dalam kesempatan lain, di tengah-tengah euforia perkembangan Kota Lama Surabaya, Maulana mengatakan pentingnya pemerintah untuk tetap mengedukasi generasi sekarang untuk tidak melupakan warisan asli lokal Surabaya. “Tradisi lokal kita itu sangat penting. Kita harus merepresentasikan kembali kepada siswa mengenai sejarah melalui situs-situs heritage ini,” ujarnya.
Selain itu, Chee-Kien Lai juga menyoroti tentang pengelolaan tata letak kota yang harus diperhatikan agar semua orang yang berkunjung dapat merasa nyaman. “Pohon di lanskap Surabaya itu penting untuk mengurangi panas disini, itu harus dipikirkan. Kita harus berpikir bagaimana orang-orang dapat berjalan dengan nyaman,”jelasnya.
Penulis: Mohammad Adif Albarado
Editor: Yulia Rohmawati





