Ada frasa: “It is happening in our own backyard”. Frasa ini biasanya digunakan sebagai ungkapan metaforis untuk menyatakan bahwa suatu masalah, tren, atau peristiwa besar kini terjadi tepat di sekitar kita, alih-alih di tempat yang jauh atau di luar negeri.
Kejadian yang sedang terjadi yang saya maksud di artikel ini adalah tentang kasus HIV di Kabupaten Sidoarjo yang merupakan wilayah dekat dengan kota Surabaya atau dekat dengan kampus kita tercinta Universitas Airlangga. Kabupaten Sidoarjo pada dasarnya berada di “halaman kita sendiri” atau “in our own backyard”.
Baru-baru ini beberapa media menurunkan berita tentang tingginya angka penyakit HIV di Kabupaten Sidoarjo dan menjadi perhatian Pemprov Jawa Timur. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak ketika diwawancarai di depan ruang Bhinaloka tanggal 22 Juli 2026 memastikan Pemprov Jatim memberi perhatian untuk menurunkan angka HIV itu.
Pak Emil menambahkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur memberikan perhatian serius terhadap peningkatan kasus HIV/AIDS di Sidoarjo yang hingga bulan April 2026 tercatat mencapai 7.129 kasus. Pak Emil mengakui persoalan HIV ini merupakan masalah yang kompleks sehingga penangannya harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari upaya pencegahan hingga pendampingan bagi orang dengan HIV (ODHIV).
7.129 kasus itu bertambah 215 kasus dibandingkan dengan Desember 2025 yang tercatat sebanyak 6.914 kasus. Data dari Dinas Kesehatan Sidoarjo menyebutkan bahwa kasus sebanyak itu didominasi laki-laki sebanyak 4.539 orang, perempuan 2.589 orang; dan dari total kasus itu ditemukan sebanyak 4.782 ODHIV masih hidup. Sementara itu sebanyak 3.064 ODHIV masih menjalani terapi antiretroviral (ARV). Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo juga merilis data 1.708 orang masuk kategori Lost to Follow Up (LFU) atau tidak lagi menjalani pemantauan dan pengobatan secara rutin. Sebanyak 1.718 ODHIV dilaporkan sudah meninggal duniam 692 orang dirujuk ke fasilitas kesehatan lain.
Menurut saya kejadian ini harus menjadi “Wake Up Call” bagi Universitas Airlangga Surabaya termasuk para alumninya yang tergabung dalam IKA UNAIR terutama yang ada di Sidoarjo karena terjadi di daerah “kekuasaannya”. Perhatian yang serius patut dilakukan mengingat ada banyak anak-anak dan generasi muda yang terkena HIV itu.
Pak Wakil Gubernur mengakui bahwa ini merupakan fenomena yang terjadi di masyarakat dan penyebabnya beragam dan tidak bisa disederhanakan hanya pada satu faktor. Bagaimana seseorang bisa terinfeksi HIV berbeda-beda, ada yang karena pergaulan yang salah, penggunaan narkoba, ujarnya.
Kita sebagai stakeholder dari Universitas Airlangga perlu mengidentifikasi akar masalah sekaligus memastikan para warga yang terinfeksi itu memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, termasuk layanan counseling atau pendampingan. Karena mereka itu memerlukan perlakuan dan pelayanan kesehatan yang baik.
Kasus banyaknya warga Kabupaten Sidoarjo terkena virus HIV itu memang selayaknya menjadi “Wake Up Call” kita mengingat tidak hanya terjadi di wilayah dekat dengan kampus UNAIR dan para alumninya di Sidoarjo, juga mengingat Kabupaten ini dikenal sebagai Kabupaten yang religius, banyak ulama dan pesantren yang ternama.
Ada baiknya, para pengurus dan anggota IKA UNAIR Kabupaten Sidoarjo – take a lead – atau berada di garda depan untuk ikut berkontribusi menangani permasalahan HIV ini dan tentunya perlu menggandeng para pihak di lingkungan UNAIR seperti Fakultas Kedokteran, Fakultas Psikologi, dll.





