UNAIR Perkuat Keterampilan Digital Kader SMART Posyandu Prafi

80 Views•4 minutes read

UNAIRNEWS – Kader SMART Posyandu Prafi mulai mengenalkan produk mereka melalui video edukasi. Di depan kamera, para kader menceritakan bahan yang digunakan, proses pengolahan, dan informasi gizi kepada calon pembeli. Kegiatan ini menjadi bagian dari pendampingan Tim 3 Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi Universitas Airlangga (UNAIR) untuk enam kelompok kader di Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Produk yang dikenalkan meliputi keripik bayam, cistik labu, sale pisang, minyak kelapa, keripik keladi, keripik pisang cokelat, keripik pisang original, dan keripik singkong. Seluruh produk tersebut telah memperoleh sertifikasi halal dan PIRT. Usaha kader juga telah memiliki izin usaha dan NPWP.

Video keripik bayam, cistik labu, keripik pisang cokelat, serta keripik pisang original sudah dibuat. Produk lainnya disiapkan untuk pengambilan video berikutnya. Setiap kelompok mendapat kesempatan untuk bercerita tentang produk yang mereka olah sendiri.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot, Dr Muthmainnah, SKM MKes menjelaskan bahwa video tersebut membantu pembeli mengenal produk sekaligus orang-orang yang membuatnya. “Dalam video, kader menyebutkan nama produk dan menjelaskan bahan bakunya, termasuk bahan yang diambil dari kebun milik mereka sendiri. Kader juga menjelaskan bahwa produk yang dibuat tidak menggunakan pengawet, pewarna buatan, atau penyedap seperti micin. Untuk keripik pisang original, misalnya, rasa manis berasal dari pisangnya, tanpa tambahan gula,” ujar Muthmainnah.

Penjelasan itu disesuaikan dengan resep masing-masing produk. Dengan demikian, konsumen mendapat informasi yang jelas tentang bahan dan proses pembuatannya. Produk dengan tambahan cokelat, misalnya, perlu menyebutkan bahan tambahan tersebut agar pembeli mengetahui komposisinya.

Para kader juga belajar menyampaikan informasi gizi dengan bahasa sederhana. Pada video keripik bayam, kader mengenalkan bayam sebagai salah satu bahan pangan yang mengandung zat besi. Pesan tersebut dihubungkan dengan pentingnya mengonsumsi makanan beragam untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi. Informasi tentang bahan baku tetap dibedakan dari kandungan gizi produk jadi, yang jumlahnya memerlukan pengujian.

Pengambilan video memberi pengalaman baru bagi para kader. Mereka harus mengingat urutan penjelasan, berbicara dengan suara yang jelas, dan menjaga pandangan ke kamera. Ketika ucapan terhenti atau ada bagian yang terlupa, pengambilan gambar diulang.

“Awalnya kami gugup. Sudah mulai bicara, tiba-tiba lupa kalimat berikutnya. Tim Patriot mengajari kami dengan sabar, meskipun harus take berkali-kali. Kami tetap semangat. Setelah melihat hasilnya, kami senang karena ternyata bisa menjelaskan produk sendiri,” ungkap seorang kader.

Pendampingan dilakukan oleh Dr Muthmainnah, SKM MKes bersama Sri Rahmawati, SPsi MSi; Imeldawaati Tambunan, SKM; Anggun Anggifosari, SIKom; Surma Elisa Manihuruk, SKM MKes; dan Widyasari Yuni Agustin, ST. Tim membantu kader menyiapkan cerita, berlatih menyampaikan informasi, dan mengambil gambar produk.

Selain belajar membuat konten, kader mendapat pendampingan penggunaan alat produksi. Slicer membantu mengiris bahan keripik secara otomatis sehingga pekerjaan mengiris lebih ringan. Setelah penggorengan, spinner digunakan untuk meniriskan minyak yang menempel pada keripik sebelum produk dikemas.

“Dulu mengiris bahan satu per satu membuat tangan cepat pegal. Sekarang kami dibantu slicer, jadi pekerjaan lebih ringan. Setelah digoreng, keripik juga ditiriskan dengan spinner. Saat dikemas, keripik terasa tidak terlalu berminyak,” tutur kader.

Penggunaan alat tersebut membantu kelompok menyiapkan produk dengan lebih efisien. Kader tetap memperhatikan kebersihan alat, ketebalan irisan, proses penggorengan, dan kondisi produk sebelum masuk ke kemasan.

Muthmainnah menyampaikan bahwa video akan diunggah ke media sosial. Tautannya juga akan dihubungkan dengan kode QR pada label kemasan agar pembeli dapat langsung menonton cerita kader.

“Harapannya, ketika orang membeli produk, mereka bisa memindai kode pada kemasan dan melihat penjelasan dari kader yang membuatnya. Mereka tahu bahan yang dipakai, bagaimana produk diolah, dan cerita di balik usaha ini. Kami ingin kader semakin percaya diri dan mampu mengelola promosi produknya secara mandiri,” katanya.

Kegiatan ini berkaitan dengan SDG 4, Pendidikan Berkualitas, melalui pembelajaran komunikasi dan keterampilan digital; SDG 5, Kesetaraan Gender, melalui penguatan peran perempuan; serta SDG 8, Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui pengembangan usaha kader. Informasi pangan dan gizi berkaitan dengan SDG 3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, sedangkan kolaborasi Kementrans, UNAIR, dan kelompok kader mencerminkan SDG 17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Melalui video edukasi, enam kelompok kader berharap produk mereka semakin dikenal dan memperoleh pasar yang lebih luas. Keterampilan yang dipelajari juga diharapkan membuat mereka mampu memperbarui konten, menjawab pertanyaan pembeli, dan meneruskan usaha bersama setelah pendampingan berakhir.

Penulis: Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes.,

Editor: Khefti Al Mawalia

Universitas Airlangga
Excellence with Morality
Scroll to Top