Universitas Airlangga Official Website

Menavigasi Rivalitas AS–China: ASEAN sebagai Buffer Institution di Indo-Pasifik

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Kawasan Indo-Pasifik kini menjadi gelanggang persaingan strategis yang kian sengit antara dua kekuatan besar dunia: Amerika Serikat dan China. Peningkatan kerja sama militer, persekutuan minilateral, hingga perlombaan pengaruh di Laut China Selatan memicu kekhawatiran nyata bagi negara-negara Asia Tenggara. Di tengah himpitan dua kutub kekuasaan ini, mampukah ASEAN menjaga stabilitas tanpa terseret menjadi arena konflik terbuka?

Studi bertajuk “Becoming a buffer institution of the Indo-Pacific: ASEAN in China–US rivalry” karya I Gede Wahyu Wicaksana, Pradeep Taneja, dan Probo Darono Yakti (2026) menawarkan perspektif baru melalui pendekatan English School dalam Ilmu Hubungan Internasional. Jika konsep klasik buffer state memandang negara penyangga secara pasif dan statis—bahkan rentan dianeksasi saat perimbangan kekuatan bergeser—penelitian ini merekonseptualisasi ASEAN sebagai institusi penyangga (buffer institution) yang aktif dan memiliki agensi mandiri.

Sebagai sebuah masyarakat regional negara-negara berdaulat (regional society of states), ASEAN tidak sekadar memisahkan dua kekuatan yang berseteru. Sebaliknya, ASEAN menciptakan ekosistem diplomatik inklusif yang memungkinkan AS dan China tetap berinteraksi secara kompetitif namun konstruktif dan damai.

Kekuatan peran penyangga ASEAN bertumpu pada dua pilar utama: budaya diplomasi (diplomatic culture) dan pengelolaan kekuatan besar (great power management). Budaya diplomasi khas Asia Tenggara—yang mengedepankan prinsip konsensus, non-intervensi, dan dialog informal (ASEAN Way)—menjadi benteng soliditas internal dari intervensi eksternal. Sementara itu, strategi pengelolaan kekuatan besar diterjemahkan ke dalam berbagai arsitektur kerja sama kawasan.

Salah satu bukti paling konkret berfungsinya peran buffer institution ini tampak pada ASEAN Defence Ministers’ Meeting Plus (ADMM-Plus). Berbeda dengan forum multilateral yang kerap terbatas pada retorika politik, ADMM-Plus menghadirkan mekanisme diplomasi pertahanan praktis antarmiliter (military-to-military cooperation). Melalui protokol keselamatan seperti Code for Unplanned Encounters at Sea (CUES) serta latihan bersama penanggulangan terorisme dan bantuan kemanusiaan, ADMM-Plus mampu mencairkan ketegangan, membangun rasa saling percaya (confidence-building measures), dan memfasilitasi dialog langsung antara petinggi militer AS dan China di tengah titik panas geopolitik.

Pada akhirnya, ASEAN membuktikan bahwa keterbatasan kekuatan material bukanlah halangan untuk menjadi penentu agenda perdamaian. Dengan bertransformasi menjadi buffer institution, ASEAN berhasil meredam potensi perang terbuka, merawat sentralitasnya, dan menjaga kawasan Indo-Pasifik tetap stabil dan terbuka bagi semua pihak.

Oleh I Gede Wahyu Wicaksana

Selengkapnya di Wicaksana, I. G. W., Taneja, P., & Yakti, P. D. (2026). Becoming a buffer institution of the Indo-Pacific: ASEAN in China–US rivalry. Australian Journal of International Affairs, 1-19.