Universitas Airlangga Official Website

Nanoteknologi Berbasis Karbon Dots Baru yang Berpotensi menjadi Antivirus Spektrum Luas untuk Melawan Virus Pernapasan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Virus penyebab infeksi saluran pernapasan, seperti influenza A (IAV), respiratory syncytial virus (RSV), dan human metapneumovirus (hMPV), masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dunia. Ketiga virus ini menyebabkan jutaan kasus infeksi setiap tahun, mulai dari gejala ringan hingga komplikasi berat yang berujung pada tingginya angka rawat inap dan kematian, terutama pada bayi, lansia, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Meskipun berbagai obat antivirus telah tersedia, sebagian besar hanya efektif terhadap jenis virus tertentu dan penggunaannya sering kali dibatasi oleh efek samping, potensi toksisitas, serta munculnya resistensi virus. Kondisi ini mendorong kebutuhan mendesak akan pengembangan antivirus spektrum luas yang tidak hanya efektif melawan berbagai jenis virus, tetapi juga aman digunakan.

Salah satu pendekatan yang kini menjadi perhatian adalah pemanfaatan nanoteknologi melalui carbon dots (cDots). Nanopartikel karbon berukuran sangat kecil ini memiliki sejumlah keunggulan, seperti ukuran ultra-kecil, sifat permukaan yang mudah dimodifikasi, stabilitas yang tinggi, serta kompatibilitas biologis yang sangat baik, sehingga berpotensi menjadi platform ideal untuk pengembangan terapi antivirus generasi baru. Dalam penelitian ini, para peneliti mengembangkan carbon dots yang dimodifikasi dengan 2-aminophenylboronic acid (APBA) atau APBA-cDots. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanomaterial inovatif ini memiliki kemampuan menjanjikan untuk menghambat infeksi berbagai virus pernapasan secara bersamaan, sehingga membuka peluang baru dalam pengembangan terapi antivirus yang lebih efektif, aman, dan mampu menghadapi beragam ancaman virus di masa depan.

Isi
Dalam penelitian ini, para peneliti berhasil mengembangkan carbon dots (cDots) yang dimodifikasi dengan 2-aminophenylboronic acid (APBA) menggunakan metode pirolisis. Proses ini menghasilkan nanopartikel karbon berukuran sangat kecil (ultrasmall) dengan permukaan yang diperkaya oleh gugus asam boronat (boronic acid) dan boroksin (boroxine). Berbagai analisis fisikokimia mengonfirmasi bahwa modifikasi permukaan berlangsung dengan sangat baik. Lebih penting lagi, pengujian terhadap berbagai jenis sel menunjukkan bahwa APBA-cDots memiliki biokompatibilitas yang tinggi, tanpa menunjukkan efek toksik yang berarti. Hasil ini menjadi indikator penting bahwa material tersebut aman untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai kandidat agen terapeutik.

Uji aktivitas antivirus yang dilakukan secara in vitro memberikan hasil yang sangat menjanjikan. APBA-cDots terbukti mampu menghambat infeksi Respiratory Syncytial Virus (RSV), Influenza A Virus (IAV), dan Human Metapneumovirus (hMPV) (Gambar 1). Nanopartikel ini bekerja dengan cara menetralkan partikel virus sebelum virus berhasil memasuki sel inang, sehingga secara signifikan mengurangi kerusakan sel (cytopathic effect) yang biasanya ditimbulkan oleh infeksi virus. Dibandingkan dengan carbon dots tanpa modifikasi, APBA-cDots menunjukkan aktivitas antivirus yang jauh lebih tinggi terhadap seluruh virus yang diuji, menandakan bahwa modifikasi menggunakan APBA berperan penting dalam meningkatkan efektivitas nanopartikel.

Untuk memahami mekanisme kerjanya, peneliti melakukan serangkaian studi menggunakan uji kompetisi N-acetylglucosamine (NAG) dan simulasi molecular docking. Hasil analisis menunjukkan bahwa gugus asam boronat pada permukaan APBA-cDots mampu mengenali dan berinteraksi secara spesifik dengan struktur glikan yang terdapat pada permukaan virus. Interaksi ini diperkirakan menghalangi virus menempel pada reseptor sel sekaligus mencegah proses masuknya virus ke dalam sel inang. Meskipun mekanisme ini masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui penelitian lanjutan, temuan tersebut memberikan bukti kuat bahwa pengenalan glikan pada permukaan virus merupakan mekanisme utama yang mendasari aktivitas antivirus APBA-CDots. Penemuan ini membuka peluang baru dalam pengembangan antivirus spektrum luas berbasis nanoteknologi yang mampu memberikan perlindungan terhadap berbagai jenis virus pernapasan dengan mekanisme yang inovatif dan aman.

Kesimpulan

Penelitian ini memberikan bukti awal melalui pengujian in vitro bahwa carbon dots (cDots) yang dimodifikasi dengan 2-aminophenylboronic acid (APBA) memiliki kemampuan menghambat infeksi berbagai virus saluran pernapasan pada sistem kultur sel laboratorium. Hasil ini menunjukkan potensi besar nanomaterial berbasis asam boronat sebagai platform inovatif untuk pengembangan antivirus generasi baru yang mampu bekerja terhadap lebih dari satu jenis virus. Meskipun demikian, temuan ini masih bersifat eksploratif dan memerlukan pembuktian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan sebagai terapi pada manusia.

Untuk memastikan efektivitas dan keamanannya, penelitian lanjutan perlu dilakukan menggunakan model yang lebih mendekati kondisi biologis tubuh manusia, seperti kultur epitel saluran napas tiga dimensi maupun model infeksi in vivo pada hewan percobaan. Tahapan tersebut sangat penting sebelum dapat disimpulkan bahwa APBA-cDots benar-benar memiliki efektivitas sebagai antivirus spektrum luas dalam aplikasi klinis.

Dari sisi mekanisme kerja, kombinasi hasil uji paparan awal virus, uji kompetisi menggunakan N-acetylglucosamine (NAG), serta analisis molecular docking memberikan bukti kuat bahwa gugus asam boronat pada permukaan APBA-cDots mampu mengenali struktur glikan pada permukaan virus. Interaksi tersebut diyakini berperan penting dalam menetralkan virus dengan menghambat proses perlekatan dan masuknya virus ke dalam sel inang. Walaupun demikian, para peneliti juga menegaskan bahwa kemungkinan adanya mekanisme interaksi lain belum dapat sepenuhnya dikesampingkan. Oleh karena itu, mekanisme ini sebaiknya dipandang sebagai hipotesis yang didukung oleh bukti ilmiah yang kuat, namun belum sepenuhnya terkonfirmasi secara definitif.

Secara keseluruhan, penelitian ini menjadi landasan penting bagi pengembangan nanomaterial karbon yang menargetkan glikan sebagai strategi baru dalam terapi antivirus. Temuan ini tidak hanya membuka peluang untuk memahami mekanisme interaksi virus dan nanomaterial secara lebih mendalam, tetapi juga memberikan arah baru bagi pengembangan obat antivirus berbasis nanoteknologi yang lebih efektif, aman, dan berpotensi melawan berbagai virus pernapasan di masa depan.

Link Asli Paper

https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0010854525000803