Universitas Airlangga Official Website

Pengembangan Tablet AS201-01 Berbahan Aktif Fraksi Etil Asetat Sambiloto sebagai Antimalaria Disertai Studi Toksisitasnya

Malaria merupakan salah satu penyakit parasit yang paling meresahkan di daerah tropis dan sub tropis. Diperkirakan kematian akibat malaria pada tahun 2020 meningkat sebesar 12% dibandingkan tahun 2019. Kematian akibat malaria meningkat karena gangguan layanan selama pandemi COVID-19. Situasi ini diperburuk oleh resistensi terhadap obat malaria dan kurangnya vaksin malaria untuk pengendalian dan pencegahan. Meluasnya resistensi parasit malaria terhadap banyak obat antimalaria telah menyebabkan masalah besar dalam pengobatan dan pencegahan malaria. Oleh karena itu, pencarian obat antimalaria baru sangat penting untuk memerangi penyakit ini.

Andrographis paniculata yang dikenal dengan nama lokal sambiloto, telah banyak digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk mengobati demam, flu, radang tenggorokan, dan beberapa penyakit menular di Asia dan Skandinavia. Dalam pengobatan tradisional Cina (TCM/Traditional Chinese Medicine), sambiloto dianggap sebagai ramuan yang membantu mengobati panas tubuh saat demam dan menghilangkan racun dari tubuh. Tanaman ini telah digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati penyakit malaria di Indonesia. Beberapa penelitian kami melaporkan bahwa A. paniculata mempunyai aktivitas antimalaria terhadap Plasmodium falciparum dan Plasmodium berghei

Sehubungan dengan informasi terkait A. paniculata sebagai obat antimalaria, maka dilakukan pengembangan sebagai obat herbal alternatif untuk pengobatan malaria. Fraksinasi ekstrak etanol A. paniculata menggunakan etil asetat perlu dilakukan untuk memperoleh kandungan diterpen lakton yang tinggi pada fraksi etil asetat. Senyawa diterpen lakton, khususnya andrografolida, dianggap sebagai zat aktif antimalaria. Oleh karena itu, fraksi etil asetat sebagai agen aktif antimalaria dalam pengembangan obat dimaksudkan untuk meningkatkan aktivitas A. paniculata. Selanjutnya fraksi etil asetat A. paniculata yang mengandung senyawa diterpen lakton dikembangkan menjadi bentuk sediaan tablet yaitu AS201-01. Tiap tablet mengandung fraksi etil asetat A. paniculata setara dengan 35 mg andrografolida. Obat harus memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu. Berdasarkan peraturan BPOM, uji toksisitas harus dilakukan untuk memastikan penggunaan tablet yang aman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antimalaria tablet AS201-01 pada mencit Balb/c jantan dan toksisitasnya pada tikus Wistar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa AS201-01 mempunyai aktivitas antimalaria dan mempunyai efek supresif tertinggi pada dosis 50 mg/kg BB dengan daya hambat sebesar 73,48%. AS201-01 sangat aktif sebagai antimalaria dengan nilai ED50 (Effective Dose 50%) sebesar 5,95 mg/kg BB dan mampu meningkatkan waktu bertahan hidup mencit secara signifikan dibandingkan dengan kelompok yang tidak diobati. Pemberian AS201-01 relatif aman dalam studi toksisitas akut dan subkronis. Tidak ada tanda-tanda klinis dan kematian yang diamati pada kedua penelitian tersebut. Lethal Dose 50% (LD50) berada di atas dosis 2.000 mg/kg BB. Dapat disimpulkan bahwa secara in vivo, AS201-01 efektif sebagai antimalaria dan tidak memiliki efek toksik bila diberikan secara oral dengan dosis terapeutik yang digunakan.

Penulis: Prof. Dr. apt. Aty Widyawaruyanti, M.Si.

Informasi detail dari riset ini dapat pada tulisan kami di:

Widyawaruyanti A, Ilmi H, Tumewu L, Fitrianingtyas DA, Kurniawati Y, Najiha AL, Nisa HK, Osman CP, Ismail NH,Hafid AF (2023) Antimalarial and toxicological assessment of the tablet (AS201-01) ethyl acetate fraction of Andrographis paniculata Nees in animal models. J Pharm Pharmacogn Res 11(5): 863–873. https://doi.org/10.56499/jppres23.1679_11.5.863