Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin mengubah cara perpustakaan memberikan layanan informasi kepada penggunanya. Berbagai teknologi berbasis AI, seperti chatbot, sistem rekomendasi, hingga asisten pencarian informasi, kini mulai diadopsi untuk membantu pengguna memperoleh informasi secara lebih cepat dan personal. Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah pengguna benar-benar mempercayai layanan AI yang digunakan perpustakaan?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti dari Universitas Airlangga bersama mitra internasional dari Thailand, Vietnam, dan Tiongkok melakukan penelitian mengenai faktor-faktor etika yang memengaruhi penerimaan pengguna terhadap layanan informasi berbasis AI di perpustakaan akademik. Penelitian ini melibatkan 278 responden dari berbagai universitas di Thailand yang merupakan pengguna aktif layanan perpustakaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki pandangan yang sangat positif terhadap pemanfaatan AI di perpustakaan. Lebih dari 84 persen responden menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa AI memberikan manfaat dalam meningkatkan layanan informasi. Rata-rata penilaian terhadap manfaat AI bahkan mencapai 4,34 dari skala 5, menunjukkan bahwa pengguna menyambut baik kehadiran teknologi ini dalam mendukung aktivitas akademik mereka.
Meski demikian, penerimaan terhadap AI ternyata tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang ditawarkan. Penelitian ini menemukan bahwa aspek etika menjadi faktor yang sangat menentukan dalam membangun kepercayaan pengguna. Dari sepuluh aspek etika yang dianalisis, terdapat tiga faktor yang paling berpengaruh terhadap persepsi pengguna mengenai etika AI, yaitu tanggung jawab terhadap data dan privasi (Data Responsibility & Privacy), keadilan (Fairness), serta keberadaan aturan dan regulasi yang jelas (Ethics & Regulations).
Temuan ini menunjukkan bahwa pengguna ingin memastikan data pribadi mereka dikelola secara bertanggung jawab, algoritma AI bekerja secara adil tanpa diskriminasi, serta terdapat kebijakan yang mengatur penggunaan AI secara transparan. Dengan kata lain, kepercayaan terhadap AI tidak hanya dibangun melalui kemampuan teknologi memberikan jawaban yang cepat, tetapi juga melalui keyakinan bahwa sistem tersebut beroperasi secara etis.
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa pengguna perpustakaan telah memiliki tingkat literasi digital yang cukup tinggi. Sebagian besar responden merupakan pengguna aktif berbagai platform digital seperti Instagram, Facebook, dan TikTok, serta telah terbiasa menggunakan aplikasi AI seperti ChatGPT, Canva, Grammarly, QuillBot, Turnitin, Scopus AI, dan Scite.ai dalam kegiatan belajar maupun penelitian. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dari aktivitas akademik sehari-hari, sehingga ekspektasi pengguna terhadap kualitas layanan berbasis AI juga semakin tinggi.
Menariknya, hasil analisis statistik menunjukkan bahwa faktor keamanan (Security) dan kepercayaan (Trust) tidak muncul sebagai prediktor utama dalam model penelitian, meskipun keduanya dinilai penting oleh responden. Peneliti menjelaskan bahwa keamanan dan kepercayaan kemungkinan merupakan hasil akhir yang terbentuk setelah pengguna merasa yakin bahwa AI telah menerapkan perlindungan data, prinsip keadilan, dan tata kelola yang baik. Dengan demikian, privasi dan regulasi menjadi fondasi utama sebelum kepercayaan dapat tumbuh.
Selain menilai kondisi saat ini, penelitian juga menggali harapan pengguna terhadap pengembangan AI di perpustakaan pada masa mendatang. Sebagian besar responden menginginkan AI berkembang menjadi asisten akademik yang mampu membantu pencarian literatur, memberikan rekomendasi referensi yang lebih akurat, mendukung analisis informasi, hingga membantu proses penulisan ilmiah. Namun, mereka berharap seluruh layanan tersebut tetap mengedepankan transparansi, perlindungan data pribadi, dan kemudahan penggunaan.
Temuan penelitian ini memberikan pesan penting bagi pengelola perpustakaan maupun pembuat kebijakan. Implementasi AI sebaiknya tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga harus disertai kebijakan yang kuat mengenai privasi data, transparansi algoritma, akuntabilitas, serta kepatuhan terhadap regulasi. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk memastikan bahwa inovasi teknologi benar-benar mampu meningkatkan kualitas layanan sekaligus mempertahankan kepercayaan pengguna.
Secara lebih luas, penelitian ini memperkuat pandangan bahwa keberhasilan transformasi digital di perpustakaan tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan AI, melainkan oleh sejauh mana teknologi tersebut dikembangkan secara bertanggung jawab. AI yang etis akan lebih mudah diterima oleh pengguna dan berpotensi menjadi mitra yang mendukung proses pembelajaran, penelitian, dan layanan informasi secara berkelanjutan.
Riset ini dipublikasikan dalam artikel ilmiah berjudul “Ethical Determinants of Perceived Ethical Legitimacy in AI-Driven Information Services: Evidence from Thai Academic Libraries.” Melalui penelitian tersebut, para penulis menegaskan bahwa masa depan layanan informasi berbasis AI tidak hanya bergantung pada inovasi teknologi, tetapi juga pada komitmen institusi dalam menjaga privasi, menjunjung keadilan, dan menerapkan tata kelola AI yang transparan sehingga kepercayaan pengguna dapat terus terpelihara.
Penulis:
Endang Fitriyah Mannan, Nove E Variant Anna, dan Tiara Kusumaningtiyas (Sarjana Terapan Kearsipan dan Informasi Digital, Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga),
Lan Thi Nguyen dan Wirapong Chansanam (Department of Information Science, Faculty of Humanities and Social Sciences, Khon Kaen University, Khon Kaen, Thailand)
Natthakan Iam-On dan Tossapon Boongoen (Advanced Reasoning Research Group, Aberystwyth University, Ceredigion, UK)
Chunqiu Li (School of Government, Beijing Normal University, Beijing, China) link : https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/09610006261450653?casa_token=Evvguun3bL4AAAAA%3A9ObEEzI9VmP-Yq_o9fh81pgoE6nBrLRDFxQYkJhomzB3Uu6wJ4kAtHWiPNM8mar3pLfp_Fq3n9BoEhc





