Universitas Airlangga Official Website

Rahasia Kakao dalam Mengurangi Nyeri dan Peradangan Saraf

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Nyeri neuropatik atau nyeri saraf merupakan salah satu jenis nyeri kronis yang paling sulit diobati. Kondisi ini terjadi akibat kerusakan atau gangguan pada sistem saraf dan sering disertai rasa terbakar, tertusuk, atau seperti tersengat listrik. Selain menimbulkan rasa tidak nyaman yang berkepanjangan, nyeri neuropatik juga dapat mengganggu kualitas tidur, aktivitas sehari-hari, hingga kesehatan mental penderitanya.

Salah satu obat yang sering digunakan untuk mengatasi nyeri neuropatik adalah pregabalin. Meskipun efektif, penggunaan pregabalin dalam dosis tinggi sering menimbulkan efek samping seperti pusing, mengantuk, dan gangguan keseimbangan. Oleh karena itu, para peneliti terus mencari terapi pendamping yang dapat meningkatkan efektivitas pengobatan tanpa menambah risiko efek samping. Salah satu bahan alami yang menarik perhatian adalah kakao (Theobroma cacao), yang kaya akan flavonoid dan senyawa antiinflamasi.

Penelitian ini menggunakan 28 ekor tikus putih jantan yang dibuat mengalami nyeri neuropatik melalui metode chronic constriction injury (CCI), yaitu model cedera saraf yang banyak digunakan dalam penelitian nyeri kronis. Hewan percobaan dibagi menjadi empat kelompok, yaitu kelompok kontrol, kelompok yang mendapat pregabalin dosis penuh, kelompok pregabalin dosis penuh ditambah ekstrak kakao, dan kelompok pregabalin dosis setengah ditambah ekstrak kakao.

Peneliti kemudian mengukur tingkat nyeri menggunakan uji Von Frey serta memeriksa kadar Monocyte Chemoattractant Protein-1 (MCP-1), yaitu protein yang berperan penting dalam proses peradangan dan perkembangan nyeri neuropatik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak kakao sebagai terapi pendamping pregabalin mampu meningkatkan ambang nyeri secara signifikan dibandingkan pemberian pregabalin saja. Kelompok yang menerima kombinasi pregabalin dosis penuh dan ekstrak kakao menunjukkan perbaikan terbaik dalam respons terhadap nyeri.

Selain itu, kadar MCP-1 pada kelompok kombinasi juga lebih rendah dibandingkan kelompok yang hanya menerima pregabalin. Semakin rendah kadar MCP-1, semakin baik perbaikan nyeri yang terjadi. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan erat antara penurunan peradangan saraf dan berkurangnya nyeri neuropatik.

Kakao diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti polifenol, flavonoid, dan antioksidan yang dapat membantu menekan proses peradangan pada sistem saraf. Dalam penelitian ini, ekstrak kakao diduga bekerja dengan mengurangi aktivitas MCP-1, yaitu protein yang berperan dalam merekrut sel-sel inflamasi ke area saraf yang mengalami cedera.

Ketika dikombinasikan dengan pregabalin, ekstrak kakao memberikan efek tambahan yang lebih baik dibandingkan penggunaan pregabalin saja. Temuan ini membuka peluang pemanfaatan bahan alami sebagai terapi pendamping dalam pengelolaan nyeri kronis, terutama untuk membantu mengurangi kebutuhan dosis obat dan menekan efek samping jangka panjang.

Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kakao berpotensi meningkatkan efektivitas pregabalin dalam mengurangi nyeri neuropatik melalui penurunan kadar MCP-1 yang berperan dalam proses peradangan saraf. Meskipun hasil penelitian pada hewan percobaan ini menjanjikan, penelitian lebih lanjut pada manusia masih diperlukan sebelum ekstrak kakao dapat direkomendasikan sebagai bagian dari terapi klinis. Temuan ini memberikan harapan baru bahwa bahan alami yang selama ini dikenal sebagai bahan baku cokelat mungkin memiliki manfaat lebih luas dalam dunia kesehatan, khususnya dalam penanganan nyeri kronis.(1)

Penulis: Herdiani Sulistyo Putri, dr., Sp.An-TI., FIP

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Nurizfantiar MA, Sulistyo Putri H, Airlangga PS, Santoso KH, Waloejo CS, Mahmudah. Effectiveness of Cocoa Extract as an Adjunctive Therapy to Pregabalin on Monocyte Chemoattractant Protein-1 (MCP-1) Levels and Pain Scores in an Animal Model of Neuropathic Pain. International Journal of Drug Delivery Technology. 2026;16(1):181–7. doi:10.25258/ijddt.16.1.19