Universitas Airlangga Official Website

Sanitasi Lingkungan di Rumah dan Riwayat Penyakit Infeksi sebagai Faktor Risiko untuk Stunting Pada Balita

IL by RSUD Mangasada

Stunting merupakan kondisi anak yang mengalami gangguan dalam proses pertumbuhan yang menyebabkan anak memiliki tinggi badan atau panjang badan tidak sesuai pada proporsi usianya, stunting dapat diakibatkan oleh kekurangan gizi yang kronis dimulai sejak dalam kandungan yang terjadi dalam jangka waktu lama. Masalah stunting tidak hanya seputar pertumbuhan fisik saja, namun juga menyebabkan anak menjadi gampang sakit, pertumbuhan otak terganggu yang mengakibatkan kecerdasan anak menurun. Stunting menjadi salah satu dari tiga masalah gizi (triple burden of malnutrition) yang terjadi di dunia, hampir seluruh negara di dunia memiliki masalah stunting namun dengan proporsi yang berbeda-beda.

Terdapat 151 juta anak di dunia yang berusia dibawah lima tahun mengalami stunting dan sebanyak 55% populasi anak stunting tersebut berada di Asia. Menurut data Studi Status Gizi Balita di Indonesia (SSGBI) tahun 2019, angka prevalensi balita mengalami stunting di Indonesia masih tergolong cukup tinggi yaitu sebesar 27,67% apabila dibandingkan dengan prevalensi di Asia Tenggara yaitu sebesar 24,7%. Pada tahun 2020, prevalensi stunting di Indonesia berada pada urutan ke 115 dari 151 negara di dunia. Akibat adanya pandemi Covid-19, maka diprediksi bahwa angka prevalensi stunting akan meningkat apabila tidak ada perbaikan dengan tepat.

Pengukuran stunting pada anak menggunakan standar antropometri yang diatur dalam Permenkes RI No 2 tahun 2020 tentang standar antropometri anak, dalam peraturan tersebut menyebutkan abang batas Z-score yang digunakan dalam pengukuran PB/U atau TB/U yaitu apabila didapat nilai -3 SD sd <-2SD maka disebut dengan anak pendek dan apabila didapatkan nilai <-3SD maka disebut dengan anak sangat pendek.

Masalah stunting jika tidak segera ditangani maka akan menimbulkan peningkatan angka kesakitan dan kematian. Dampak yang ditimbulkan dapat berupa dampak pendek seperti lambatnya pertumbuhan kognitif anak, kegagalan pertumbuhan fisik, serta gangguan metabolism. Dampak panjang yang disebabkan akibat stunting dapat berupa kesehatan reproduksi dapat menurun, menimbulkan risiko obesitas, dan penyakit tidak menular lainnya, sebagai upaya perkembangan prevalensi stunting di Indonesia, maka Presiden Jokowi menargetkan untuk penurunan angka stunting pada tahun 2024 sebesar 14% dengen beberapa strategi nasional percepatan penurunan stunting.

Hubungan antara kejadian stunting dengan riwayat penyakit menular dan hubungan balita yang mengalami kejadian stunting dengan riwayat penyakit menular pada balita di Desa Drokilo Kecamatan Kedungadem Kabupaten Bojonegoro perlu dikaji. Penelitian ini menggunakan desain penelitian case-control dan pendekatan observasional analitik. Sampel penelitian ini melibatkan 51 balita dan memasukkan variabel dependen yaitu kejadian stunting dan variabel independen yaitu sanitasi lingkungan di rumah dan riwayat penyakit menular. Analisis bivariat digunakan bersama dengan uji Chi-square untuk menguji variabel.

Balita laki-laki berusia di atas dua tahun sering mengalami stunting. Sanitasi lingkungan berhubungan dengan prevalensi stunting pada balita dengan p-value 0,046. Balita yang tinggal di keluarga dengan sanitasi lingkungan rumah yang buruk memiliki risiko stunting 5,9 kali lebih tinggi dibandingkan dengan sanitasi lingkungan yang memadai.

Terdapat 66,7% responden memiliki rumah yang tidak memenuhi kriteria sanitasi layak dari segi material rumah. Misalnya, kebanyakan rumah mereka tidak dilengkapi plafon; dinding rumah terbuat dari kayu; rumah-rumah itu berlantai tanah, dan ventilasinya dipasang kurang dari 10% luas rumah. Sebagian besar air bersih di Desa Drokilo sudah tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, namun masih ada 5,9% rumah yang tidak memiliki fasilitas air bersih. Riwayat penyakit infeksi berhubungan dengan kejadian stunting pada balita (p=0,037). Balita yang tidak pernah menderita penyakit menular 4,6 kali lebih mungkin mengalami stunting dibandingkan mereka yang mengalaminya. Di Desa Drokilo, diare merupakan penyakit menular yang paling banyak menyerang balita (45,5%).

Terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan rumah dan penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita di Desa Drokilo, serta terdapat hubungan yang signifikan antara sanitasi lingkungan rumah dengan penyakit infeksi pada balita yang mengalami stunting di Desa Drokilo.

Penulis: Lilis Sulistyorini

https://e-journal.unair.ac.id/JKL/article/download/38040/22759