Universitas Airlangga Official Website

Jahe Merah, Harapan Baru untuk Kesehatan Gusi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Masalah gusi berdarah, bau mulut, atau gigi goyang sering dianggap sepele. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal periodontitis, penyakit gusi kronis yang dapat merusak jaringan penyangga gigi dan berujung pada kehilangan gigi.

Selama ini, perawatan penyakit gusi tidak hanya mengandalkan pembersihan karang gigi, tetapi juga penggunaan obat kumur antiseptik seperti chlorhexidine. Meski efektif membunuh bakteri, penggunaan jangka panjang bahan ini sering menimbulkan efek samping, seperti perubahan warna gigi, gangguan rasa, hingga iritasi pada jaringan mulut.

Di tengah kebutuhan akan alternatif yang lebih aman, penelitian terbaru mulai melirik bahan alami, salah satunya adalah jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum).

Jahe merah telah lama dikenal dalam pengobatan tradisional karena sifat antiinflamasi, antioksidan, dan antibakterinya. Namun, penelitian ilmiah kini menunjukkan bahwa potensinya jauh lebih besar, khususnya dalam melawan bakteri penyebab penyakit gusi.

Dua bakteri utama yang berperan dalam periodontitis adalah Aggregatibacter actinomycetemcomitans dan Porphyromonas gingivalis. Bakteri ini tidak hanya berkembang biak, tetapi juga mampu menempel kuat pada permukaan gigi dan membentuk biofilm, yaitu lapisan pelindung yang membuatnya lebih sulit dibasmi.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak jahe merah yang telah melalui proses pemurnian (fraksinasi) mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri tersebut. Tidak hanya itu, ekstrak ini juga terbukti dapat mengurangi kemampuan bakteri untuk menempel dan membentuk biofilm, serta menurunkan aktivitas metaboliknya.

Menariknya, cara kerja jahe merah berbeda dengan antiseptik kimia. Jika chlorhexidine bekerja dengan membunuh bakteri secara langsung, jahe merah juga menargetkan “senjata” bakteri, yaitu protein yang berperan dalam proses perlekatan dan pembentukan koloni. Dengan demikian, bakteri tidak hanya dibunuh, tetapi juga dilemahkan kemampuannya untuk bertahan dan berkembang.

Dalam beberapa kondisi, efektivitas jahe merah bahkan mendekati bahan antiseptik standar. Hal ini menunjukkan bahwa bahan alami berpotensi menjadi alternatif terapi pendukung yang lebih aman, terutama untuk penggunaan jangka panjang.

Namun demikian, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih berada pada tahap laboratorium. Artinya, diperlukan penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia, untuk memastikan keamanan, dosis yang tepat, serta bentuk sediaan yang paling efektif, seperti obat kumur atau gel.

Meski masih dalam tahap pengembangan, hasil penelitian ini memberikan harapan baru. Jahe merah, yang selama ini hanya dikenal sebagai bumbu dapur atau minuman herbal, ternyata menyimpan potensi besar dalam dunia kedokteran gigi modern.

Ke depan, bukan tidak mungkin kita akan melihat produk kesehatan gigi berbahan alami yang lebih aman, efektif, dan mudah diterima masyarakat. Hingga saat itu tiba, menjaga kebersihan gigi dan mulut tetap menjadi langkah utama: menyikat gigi secara teratur, menggunakan benang gigi, serta rutin memeriksakan diri ke dokter gigi.

Karena pada akhirnya, kesehatan gusi bukan hanya soal senyum yang indah, tetapi juga kualitas hidup yang lebih baik.

Penulis: Prof. Dr. Prawati Nuraini, drg., M.Kes., SpKGA(K)

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/fractionated-ethanolic-red-ginger-extract-as-antibacterial-agent-/